Laman

Rabu, 07 Oktober 2009

pemupukan bokashi pada tanaman kacang ercis (Pisum sativum L.)

PEMUPUKAN BOKASHI PADA TANAMAN KACANG ERCIS (Pisum sativum L.)


PAPER




OLEH:

JUNITA SINAMBELA/070301054
BDP - AGRONOMI
10





















LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PANGAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
PEMUPUKAN BOKASHI PADA TANAMAN KACANG ERCIS (Pisum sativum L.)


PAPER


OLEH:

JUNITA SINAMBELA/070301054
BDP - AGRONOMI
10




Paper Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Agronomi Tanaman Leguminosa Departemen Budidaya
Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan





Diperiksa Oleh:
Asisten Korektor



(Theresia Haga Ulinta Ginting)
NIM. 050301053



LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PANGAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009





KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya.

Adapun judul dari paper ini adalah “Pemupukan Bokashi Pada Tanaman Kacang Ercis (Pisum sativum L.)”. Paper ini disusun sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Leguminosa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Agronomi Tanaman Leguminosa yaitu Ir. Hj. Sabar Ginting, MS; Ir. Yaya Hasanah, MP, serta para asisten Laboratorium Agronomi Tanaman Leguminosa yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan paper ini.

Penulis menyadari paper ini banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan paper ini.

Akhir kata penulis mengucapakan terima kasih dan semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Oktober 2009


Penulis


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Tujuan Penulisan 3
Kegunaan Penulisan 3
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman 4
Syarat Tumbuh 6
Iklim 6
Tanah 7

PEMUPUKAN BOKASHI PADA TANAMAN KACANG
ERCIS (Pisum sativum L.)
Jenis – Jenis Bokashi 8
Teknik- Teknik Aplikasi 10
Manfaat Aplikasi Bokashi 12

KESIMPULAN 14

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN





PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ercis, kacang ercis, atau kacang polong (Pisum sativum L., suku polong-polongan atau Fabaceae) merupakan tumbuhan penghasil sayuran berupa biji berwarna hijau. Ercis didatangkan oleh penjajah Belanda ke Indonesia karena sayuran ini populer di Eropa sebagai bagian dari salad atau sup. Nama "ercis" adalah pinjaman dari bahasa Belanda (erwtjes, "ercis kecil") (http://id.wikipedia.org, 2009a).
Ercis merupakan kacang-kacangan populer yang biasa disajikan dalam bentuk biji atau polong. Polong kacang ercis hampir digemari oleh setiap orang karena dapat dijadikan sayuran yang enak dan gurih. Selain itu buah ercis merupakan sumber protein nabati yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan sayuran kacang lainnya. Kapri pun banyak mengandung vitamin A dan vitamin B (Sunarjono, 2004).
Ada tiga tipe utama tanaman ercis dan produk yang dipanennya, yaitu (1) tanaman yang menghasilkan biji muda tetapi telah berkembang sempurna dan sukulen, (2) tanaman yang menghasilkan polong muda, sukulen yang dapat dimakan, dan biji dan tanaman yang menghasilkan biji yang tumbuh sempurna, matang, dan kering. Di beberapa bagian wilayah Asia Timur, tajuk lembut tanaman ercis biasa digunakan sebagai sayuran hijau (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Nitrogen adalah unsur hara makro utama yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak, diserap tanaman dalam bentuk ammonium (NH4+) dan nitrat (NO3+). Sumber N tidak diperoleh dari batuan dan mineral tapi berasal dari hasil pelapukan bahan organis, dari udara melalui fiksasi N oleh mikroorganisme baik yang bersimbiosa dengan akar tanaman leguminosa seperti bakteri Rhizobium atau tidak seperti bakteri Azobacter dan Clostridium. Sumber lain dari nitrogen di dalam tanah melalui air hujan dan melalui pupuk buatan seperti urea atau ZA (Hasibuan, 2006).

Bokashi adalah suatu kata dalam bahasa Jepang yang berarti “bahan organik yang telah difermentasikan”. Baja bokashi dibuat dengan melalui proses fermentasi bahan-bahan organik (dedak, hampas kelapa, tepung ikan, dsb) dengan EM (Effective Microorganism). Biasanya bokashi didapati dalam bentuk serbuk atau butiran. Bokashi sudah digunakan para petani Jepang dalam memperbaiki tanah secara tradisional untuk meningkatkan kepelbagaian mikroba dalam tanah dan meningkatkan persediaan unsur bagi tanaman. Secara tradisional bokashi dibuat dengan cara menfermentasikan bahan organik seperti dedak dengan tanah dari hutan atau gunung yang mengandungi berbagai jenis mikroorganisme (alamasastaniorganik.wordpress.com, 2009).

Bokashi adalah metode pengomposan efektif. Dapat digunakan inokulasi aerobik atau anaerobik untuk menghasilkan kompos. Sekali pembuatannya dimulai, maka dapat dibuat/diproduksi ulang, seperti pada pembuatan yoghurt. Sejak populer diperkenalkannya Effective Microorganism (EM), bokashi umumnya dibuat hanya dengan molase, air, EM, dan kulit gandum. Namun, bokashi dapat dibuat dengan bahan organik inokulasi apapun dengan berbagai inang yang menguntungkan bakteri/ mikroba. Ini termasuk pupuk kandang, jamur kompos, jamur spora, pupuk cacing cair, tanah hutan/humus cair, ragi, acar, sake, miso, natto, anggur dan bir. Molase dimakan oleh mikroba ketika mereka mengokulasi materi organik (http://id.wikipedia.org, 2009b).

Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pemupukan bokashi pada tanaman kacang ercis (Pisum sativum L.)

Kegunaan Percobaan
 Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Leguminosa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
 Sebagai bahan informasi bagi pihak yang memerlukan.















TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Berdasarkan http://id.wikipedia.org (2009c) taksonomi tanaman kacang ercis adalah sebagai berikut:
Kerajaan : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Fabales Famili : Fabaceae Subfamili : Fabaideae Bangsa : Vicieae Genus : Pisum Spesies : Pisum sativum L.

Akar tunggang tanaman ini dapat mencapai kedalaman 80 cm. Namun sistem perakarannnya, sekalipun memiliki banyak akar lateral, tidak berkembang luas. Asosiasi simbiotik dengan spesies Rhizobium biasanya menguntungkan (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).

Kacang ercis atau ercis adalah tanaman yang berumur pendek. Tanaman ini berbentuk semak dan merambat. Batangnya panjang, kecil, serta ramping. Ujung-ujung batang atau cabang membentuk alat pemegang (sulur) yang panjang (Sunarjono, 2004).

Daun menyirip dengan 2-3 pasang daun dan carang ujung, pada pangkalnya terdapat 2 buah penumpu seperti daun, daun kadang-kadang berubah menjadi carang. (http://www.proseanet.org, 2009a).

Bunga ercis berkelamin ganda (hermafrodit), tumbuh pada ketiak daun, biasanya berwarna putih, tetapi dapat juga merah jambu, ungu, atau warna campuran; bunga ercis biasanya ungu. Bunga biasanya menyerbuk sendiri sebelum membuka sempurna sehingga frekuensi penyerbukan silangnya sangat rendah. Kultivar umur sangat genjah menghasilkan bunga setelah terbentuk lima atau enam buku. Beberapa kultivar umur dalam berbunga setelah memiliki 15 buku atau lebih. Jumlah buku yang tidak menghasilkan bunga merupakan sifat kultivar yang agak konsisten. Bunga terinisiasi secara berurutan, dimulai pada buku pembungaan terbawah dan meningkat bersamaan dengan perkembangan buku (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).

Polong ercis berbentuk bengkok (kembung), tidak pipih seperti kapri. Pada ujung buahnya tidak terdapat paruh. Jenis kapri ercis ini bijinya ada yang bulat dan ada pula yang keriput (Sunarjono, 2004).

Biji berbentuk bulat atau keriput dengan berbagai warna. Biji berkecambah dengan cepat (hipogeal) dan berkembang hingga matang dalam 80-150 hari. Penggolongan dilakukan berdasarkan pada tipe biji apakah bulat atau keriput. Biji bulat pada umumnya ditanam untuk mendapatkan biji matang sedangkan yang berbiji keriput ditanam untuk dikalengkan dan dibekukan dalam bentuk biji muda (http://www.proseanet.org, 2009b).




Syarat Tumbuh

Iklim

Tanaman ercis menghendaki iklim yang sejuk (dingin). Oleh karena itu ercis sebaiknya ditanam di datan tinggi (pegunungan) dengan ketinggian lebih dengan ketinggian lebih dari 700 m dpl agar dapat berbuah dengan baik (Sunarjono, 2004).

Ketersediaan air sangat menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman, baik secara vegetatif maupun secara generatif. Dalam proses perkecambahan biji , tahap paling awal yang erjadi adalah imbibisi, yakni proses masuknya air ke dalam biji. Tanpa didahului oleh proses imbibisi ini, tahap-tahap selanjutnya dalam proses perkecambahan biji tidak akan dapat berlangsung (Lakitan, 1995).

Suhu rata-rata optimum untuk pertumbuhan vegetatif tanaman ercis adalah 13C -18C; pada suhu di atas 29C, pertumbuhan tanaman praktis terhenti. Tanaman ini sangat tanggap terhadap suhu, khususnya selama perkembangan vegetatif, dan walaupun sayuran iklim dingin, tanaman ini peka terhadap bunga es. Bunga dan polong lebih rentan terhadap kerusakan akibat bunga es ketimbang daun dan batang; tanaman muda lebih toleran terhadap suhu rendah (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).

Cahaya mungkin kurang penting artinya untuk perkecambahan benih pada beberapa tanaman, malah ada tanaman yang perkecambahannya terhambat oleh cahaya. Akan tetapi setiap tanaman butuh cahaya sebagai sumber energi untuk pertumbuhan tanaman selanjutnya (Lakitan, 1995).





Tanah


Ercis ditanam pada berbagai tipe tanah, dari liat berpasir ringan hingga lempung liat berat. Kekurangan mangan pada tanah akan ditandai dengan pH tanah yang tinggi. Tanah yang berdrainase buruk dan padat sangat menghambat produktivitas tanaman, dan meningkatkan kerentanan tanaman terhadap penyakit akar (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).

Adapun syarat-syarat penting agar tanaman ercis tumbuh baik ialah tanahnya harus gembur, banyak mengandung humus (subur), air tanah tidak menggenang, dan pH tanahnya antara 5,5-6,5 (Sunarjono, 2004).















PEMUPUKAN BOKASHI PADA TANAMAN
KACANG ERCIS (Pisum sativum L.)



Jenis – Jenis Bokashi


Bokashi padat; merupakan pupuk organik yang dibuat dari kotoran hewan, sampah, organik, jerami, sekam, serbuk kayu, serasah dan lain – lain, dicampur dedak, disiram dengan EM dan molase, selanjutnya difermentasi. Setelah difermentasi 1-2 minggu campuran bahan organic telah menjadi pupuk siap pakai, ditandai dengan adanya bau tape serta miselium putih dari cendawan mukor. Penggunaannya dibenamkan kedalam tanah disekitar daerah perakaran tanaman. Pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman akan lebih baik lagi bila disertai siraman EM-aktif setiap 1 – 2 minggu sekali.

Bokashi cair; dibuat dari kencing hewan ( sapi, babi, kelinci ) diberi/dicampur dengan EM dan molase difermentasi selama kurang lebih seminggu. Cara penggunaannya dicampur dengan air disiramkan ke tanah disekitar daerah perakaran. Sangat baik disiramkan diatas taburan bokashi. Penggunaan secara rutin selain memperbaiki fisik dan kimia tanah, dapat menekan berbagai patogen secara efektif.

Fermentasi ekstrak tanaman; formula ini lebih dikenal dengan nama fermented plant ekstrak (FPE). FPE dapat dibuat dari campuran berbagai tanaman rempah dan obat, tanaman yang berbau khas diambil daunnya saja, batang, kulit akar maupun buah. Bagian-bagian tanaman ini diektrak dan difermentasi dengan EM dan molase selama seminggu.

EM aktif; dibuat dari EM asli dan molase yang dicampur dengan air sampai mencapai 20 kali kemudian difermentasi selama seminggu. Dalam pemanfaatannya diencerkan lagi dengan air sampai mencapai konsentrasi 1-2 permil disemprotkan pada daun tanaman atau disiramkan ke dalam tanah. FPE dapat dipergunakan sebagai pengganti pestisida maupun fungisida, disemprotkan pada daun diatas tanah.

Fermentasi sari buah; pada musim buah-buahan banyak buah-buahan yang terbuang. Buah-buah yang telah masak ini banyak mengandung nutrisi. Buah ini dapat diolah menjadi pupuk cair disemprotkan pada daun setelah buah-buahan diekstrak dan difermentasi dengan EM dan molase. Penyemprotan tanaman secara rutin dengan formula ini dapat memacu pertumbuhan tanaman, merangsang pembentukan bunga dan buah.

Fermentasi kaldu ikan; seperti halnya sari buah, kaldu ikan juga kaya akan nutrisi, kaldu ikan dapat dibuat menjadi pupuk cair disiramkan kedalam tanah untuk memperbaiki fisik, kimia, dan biologi tanah. Dalam pembuatannya ikan dipotong kecil-kecil direbus dan setelah kaldunya dingin difermentasi dengan air dan molase. Fermentasinya lebih lama sekitar 1 bulan. Fermented Fish Emulsion ini siap pakai bila telah tercium bau alkohol. Bila busuk berarti pembuatannya gagal karena terkontaminasi patogen.

EM-5; EM-5 adalah campuran dari arak, cuka EM-4, molase dan air. Cara pembuatan dan pengemasannya dengan FPE. EM-5 ini adalah pestisida organik dengan teknologi EM untuk memberantas hama khusus. Untuk EM-5 dapat disimpan sampai 3 bulan asalkan tidak terkontaminasi patogen.
(http://www.em4indonesia.com, 2009a).



Teknik – Teknik Aplikasi Bokashi

Penyiapan lahan :
• Untuk pertama kali tanah perlu dicangkul atau dibajak. Siapkan bokashi kurang lebih 2 ton.
• Taburkan bokashi di atas tanah, campurkan tanah dengan bokashi.
• Siram dengan EM aktif dengan konsentrasi 1/mil sekurang-kurangnya 1 liter/m2.
Persiapan bibit :
• Tanah untuk persemaian dicampur dengan bokashi arang sekam diolah sebagaimana mestinya, disiram dengan larutan EM aktif dengan kosentrasi 1 %.
• Biji sebelum disebar direndam dengan larutan EM aktif dengan konsentrasi satu per seribu (1%) biji kecil seperti wortel dan selama 20 – 30 menit, biji mentimun 30 – 60 menit dan biji besar (jagung, kacang tanah, ercis dll.) selama 2-3 jam.
• Selama di pembibitan (persemaian) bibit disemprot dengan EM aktif atau FPE setiap minggu.
• Menjelang ditanam bibit dicelupkan kedalam larutan EM aktif dengan konsentrasi 1%.
• Penanaman dan pemeliharaan.
• Taburkan bokashi 100 gram per m2 dilanjutkan dengan penanaman bibit.
• Siram dengan EM aktif 1-2 permil sebanyak 1 liter/m2.
• Semprot dengan FPE 1 – 2 per mil setiap 1- 2 minggu, siram dengan EM aktif setiap 1 – 2 minggu sekali.
(http://www.em4indonesia.com, 2009b).




Cara penggunaan secara umum :
 Tiga atau empat genggam bokasi (150-200 gram) untuk setiap meter persegi tanah disebar merata diatas permukaan tanah. Pada tanah yang kurang subur dapat diberikan lebih.
 Untuk mencampurkan bokashi ke dalam tanah, tanah perlu dicangkul/bajak. Penggunaan penutup tanah (mulsa) dari jerami atau rumput-rumputan kering sangat dianjurkan pada tanah tegalan. Pada tanah sawah pemberian bokashi dilakukan sebelum pembajakan tanah.
 Biarkan bokashi selama seminggu, setelah itu baru bibit ditanam.
 Untuk tanaman buah-buahan, bokasi diebar merata dipermukaan tanah/perakaran tanaman dan siramkan 3-4 cc EM-4 perliter air setiap minggu sekali.
Cara penggunaan secara khusus :
 Bokashi jerami dan bokashi pupuk kandang baik dipakai untuk melanjutkan fermentasi penutup tanah (mulsa) dan bahan organik lainnya di lahan pertanian juga banyak digunakan pada tanah sawah karena ketersediaan bahan yang cukup.
 Bokashi jerami dan bokashi pupuk kandang baik dipakai untuk pembibitan/ menanam bibit yang masih kecil.
 Bokashi ekspres baik digunakan sebagai penutup tanah (mulsa) pada tanaman sayur dan buah-buahaan.
(http://www.deptan.go.id, 2009).



Manfaat Aplikasi Bokashi
Penggunaan baja bokashi merangkumi prinsip ekologi berikut:
1) Memperbaiki struktur tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman terutama pengelolaan bahan organik dan meningkatkan kehidupan biologi tanah.
2) Mengoptimumkan bahan sedia dan keseimbangan unsur mineral tanah, melalui pengikatan nitrogen, penyerapan mineral, penambahan dan baja dari hasil usaha tani.
3) Mengurangi kehilangan hasil tani akibat aliran panas, udara dan air dengan cara mengelola iklim mikro, pengelolaan air dan pencegahan kikisan 4) Mengurangi kehilangan hasil tani akibat hama dan penyakit dengan melaksanakan usaha pencegahan melalui perlakuan yang baik (alamasastaniorganik.wordpress.com, 2009).

Untuk meningkatkan dan menjaga kestabilan produksi pertanian, khususnya tanaman pangan, sangat perlu diterapkan teknologi yang murah dan mudah bagi petani. Teknologi tersebut dituntut ramah lingkungan dan dapat menfaatkan seluruh potensi sumberdaya alam yang ada dilingkungan pertanian, sehingga tidak memutus rantai sistem pertanian (http://bokashi.com.au, 2009).

Penggunaan pupuk bokashi EM merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan pada pertanian saat ini. Pupuk bokashi adalah pupuk organik (dari bahan jerami, pupuk kandang, samapah organik, dll) hasil fermentasi dengan teknologi EM-4 yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanah dan menekan pertumbuhan patogen dalam tanah, sehingga efeknya dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Bagi petani yang menuntut pemakaian pupuk yang praktis, bokashi merupakan pupuk organik yang dapat dibuat dalam beberapa hari dan siap dipakai dalam waktu singkat. Selain itu pembuatan pupuk bokashi biaya murah, sehingga sangat efektif dan efisien bagi petani padi, palawija, sayuran, bunga dan buah dalam peningkatan produksi tanaman (http://www.agroorganik.co.cc, 2009).






















KESIMPULAN

1. Bokashi adalah metode pengomposan efektif.
2. Ada tiga tipe utama tanaman ercis dan produk yang dipanennya, yaitu ; tanaman yang menghasilkan biji muda tetapi telah berkembang sempurna dan sukulen, tanaman yang menghasilkan polong muda, sukulen yang dapat dimakan, dan biji serta tanaman yang menghasilkan biji yang tumbuh sempurna, matang, dan kering.
3. Ada tujuh jenis bokashi yaitu; bokashi padat, bokashi cair, fermentasi ekstak tanaman, EM aktif, fermentasi sari buah, fermentasi kaldu ikan, dan EM-5.
4. Teknik-teknik aplikasi bokashi terdiri dari dua garis besar yaitu: penyiapan lahan dan persiapan bibit.
5. Manfaat aplikasi pupuk bokashi adalah sebagai berikut: memperbaiki struktur tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman terutama pengelolaan bahan organik dan meningkatkan kehidupan biologi tanah, mengoptimumkan bahan sedia dan keseimbangan unsur mineral tanah, melalui pengikatan nitrogen, penyerapan mineral, penambahan dan baja dari hasil usaha tani, mengurangi kehilangan hasil tani akibat aliran panas, udara dan air dengan cara mengelola iklim mikro, pengelolaan air dan pencegahan kikisan dan mengurangi kehilangan hasil tani akibat hama dan penyakit dengan melaksanakan usaha pencegahan melalui perlakuan yang baik



DAFTAR PUSTAKA

Hasibuan, B.E. 2006. Ilmu Tanah. USU Press. Medan
http://alamasastaniorganik.wordpress.com/2007/08/16/baja-organik/. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2009
http://bokashi.com.au/Bokashi-Instructions.htm#Wiki1. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2009
http://en.wikipedia.org/wiki/Bokashi_composting. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2009
http://id.wikipedia.org/wiki/Ercis. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2009
http://www.agroorganik.co.cc/2009/08/em-4-untuk-pupuk-organik.html. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2009
http://www.deptan.go.id/daerah_new/banten/dispertanak_pandeglang/artikel_12.htm. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2009
http://www.em4indonesia.com/aplikasi/aplikasi-em-pada-pertanian. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2009
http://www.proseanet.org/prohati2/browser.php?keywords=Pisum+sativum&do_search=Search+Now. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2009
Lakitan, Benyamin. 1995. Hortikultura Teori, Budidaya, dan Pasca Panen.
PT Raja Grafindo Persada. Jakarta
Rubatzky, V.E. dan Mas Yamaguchi. 1998. Saturan Dunia Prinsip, Produksi, dan Gizi. Jilid Kedua. Penerbit ITB. Bandung
Sunarjono, H. 2004. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta

Senin, 05 Oktober 2009

pengaruh pemberian pupuk nitrogen, fosfor, kalium dan pupuk supertop terhadap pertumbuhan dan produksi sawi (Brassica juncea L.)

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK NITROGEN, FOSFOR, KALIUM DAN PUPUK SUPERTOP TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAWI (Brassica juncea L.)



LAPORAN



OLEH:

JUNITA SINAMBELA
070301054/BDP-AGRONOMI
32











LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN HORTIKULTURA
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK NITROGEN, FOSFOR, KALIUM DAN PUPUK SUPERTOP TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAWI (Brassica juncea L.)

LAPORAN

OLEH:

JUNITA SINAMBELA
070301054/BDP-AGRONOMI
32

Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Agronomi Tanaman Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Ditugaskan oleh:



(Ir. Hj. Sabar Ginting, MS.)
Nip: 130 535 885
Dosen Penanggungjawab

Disetujui oleh: Diperiksa oleh:



(Jojor Cinta Bakkara) (Theresia Haga Ulinta Ginting)
NIM. 040301047 NIM. 050301053
Assisten Koordinator Assisten Korektor







LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN HORTIKULTURA
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
ABSTRAK
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengaruh pemberian pupuk Nitrogen, Fosfor, Kalium dan Supertop terhadap pertuumbuhan dan produksi tanaman sawi (Brassica juncea L.). Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Agronomi Tanaman Hortikultura, dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan dan tiga ulangan. Faktor I adalah Faktor pemberian pupuk Nitrogen, Posfor dan Kalium, Faktor II adalah Faktor pemberian pupuk Supertop. Hasil percobaan menunjukan bahwa pupuk Nitrogen, Fosfor, Kalium dan pupuk Supertop tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi sawi (Brassica juncea L.).

Kata kunci : NPK, Supertop dan Sawi
















ABSTRACT



The objective of this experiment was to know effect of Nitrogen, Phosfor, Kalium fertilizers and Supertop fertilizers for mustard growth and production. The experiment was conducted in Agronomi Tanaman Hortikultura Laboratory Land, Agriculture Faculty, North Sumatera University with altitude ± 25 m above sea level, from March to April 2009. The experiment used Randomized Complete Block Design ( RAK) with 2 factors and 4 replications. The first factor was Nitrogen, Phosphorus and Potassium fertilizers. The second one was Supertop fertilezers. The experiment result showed that media didn’t give significant effect of mustard growth and production.

Key words : NPK, Spertop, and Mustard









RIWAYAT HIDUP
Junita Sinambela lahir pada tanggal 2 April 1989 di Medan. Anak pertama dari empat bersaudara. Anak dari Bapak P. Sinambela dan Ibu N. Manurung.

Adapun pendidikan yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut:
SD Negeri 050721 di Gohor Lama Tamat tahun 2001
SMP Negeri 1 di Hinai Tamat tahun 2004
SMA Negeri 1 di Stabat Tamat tahun 2007

Penulis terdaftar sebagai mahasiswi di Departemen Budidaya Pertanian Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan melalui jalur SPMB pada pilihan pertama pada tahun 2007 sampai sekarang.









KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya.

Adapun judul laporan ini adalah “Pengaruh Pemberian Pupuk Nitrogen, Fosfor, Kalium dan Pupuk Supertop Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.)” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Ir. Hj. Sabar Ginting, MS., Ir. Jasmani Ginting, MP., Ir. Mariati, MSc., Ir. Asil Barus, MS., selaku dosen mata kuliah Agronomi Tanaman Hortikultura. Terima kasih yang sama juga penulis ucapkan kepada abang dan kakak asisten yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan masukan dan saran yang bersifat membangun.

Ahkirnya penulis mengucapkan terimakasih dan semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Juni 2009

Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK.............................................................................................................. i
ABSTRACT........................................................................................................... ii
RIWAYAT HIDUP...............................................................................................iii
KATA PENGANTAR...........................................................................................iv
DAFTAR ISI.......................................................................................................... v

DAFTAR TABEL................................................................................................vii

DAFTAR GAMBAR...........................................................................................viii

PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Tujuan Penulisan 3
Hipotesa Percobaan 3
Kegunaan Penulisan 4

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman......................................................................................... 5
Syarat Tumbuh........................................................................................... 6
Iklim............................................................................................... 6
Tanah.............................................................................................. 7
Pupuk Nitrogen.......................................................................................... 8
Pupuk Fosfor.............................................................................................. 9
Pupuk Kalium............................................................................................11
Pupuk Supertop..........................................................................................12

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu percobaan....................................................................14
Bahan dan Alat...........................................................................................14
Metode Percobaan......................................................................................14

PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persemaian ................................................................................................17
Persiapan Lahan.........................................................................................17
Penanaman.................................................................................................17
Pemupukan.................................................................................................17
Pemeliharaan..............................................................................................18
Penyiraman.....................................................................................18
Penyulaman....................................................................................18
Penyiangan.....................................................................................18
Pengamatan Parameter...............................................................................18
Tinggi Tanaman (cm).....................................................................18
Jumlah Daun (Helai)......................................................................19
Diameter Batang (cm)....................................................................19
Produksi Per Plot (gr).....................................................................19

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil...........................................................................................................20 Pembahasan................................................................................................25
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan................................................................................................27
Saran..........................................................................................................27

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
























DAFTAR TABEL
No. Keterangan Hal
1. Data pengamatan tinggi tanaman 3 MST (cm) 21
2. Data pengamatan jumlah daun 3 MST (helai) 22
3. Data pengamatan berat basah tanaman (gr) 23
4. Data pengamatan produksi per plot (gr) 24























DAFTAR GAMBAR
No. Keterangan Hal
1. Grafik Tinggi Tanaman 3 MST 21
2. Grafik Jumlah Daun 3 MST 23
3. Grafik Berat Basah Tanaman 24
4. Grafik Produksi Per Plot 25

































PENDAHULUAN
Latar Belakang
Brassica juncea tampaknya berasal dari wilayah tengah Asia, dekat kaki pegunungan Himalaya. Migrasi terjadi kepusat domestikasi sekunder di India, wilayah tengah dan barat Cina, dan wilayah pegunungan Kaukasus. Catatan dalam bahasa Sansekerta menunjukkan bahwa tanaman ini ditanam sejak tahun 300 SM. Tanaman setahun yang menyerbuk sendiri ini, umumnya tahan yerhadap suhu rendah, juga dikenal luas sebagai sawi India, sawi coklat, atau sawi kuning. Klasifikasi anggota Brassica juncea amat membingungkan karena terdapat berbagai bentuk yang berbeda dan karena beberapa jenis kadang-kadang disebut sebagai sawi Cina atau sawi Oriental (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).

Sawi dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu: sawi jabung, bisa hidup di tanah kering; sawi hijau, juga bisa hidup di tanah kering; sawi putih, tak tahan terhadap hujan, tak mudah diserang oleh ulat. Sawi ini berbulu dan rasanya tajam (AAK, 1992).

Sawi pahit atau sawi hijau merupakan sayuran daun yang mirip dengan caisin. Batangnya pendek, tegap, dan daunnya berwarna hijau tua, mempunyai tangkai daun sempit dan berbentuk bulat, berwarna hijau tua. Jenis ini kurang digemari banyak orang karena rasanya pahit (Sutarya dan Gerard, 1995).

Sawi dapat dimanfaatkan sebagai sayuran atau lalapan dalam bentuk masak. Selain itu daun sawi hijau juga sering dibuat asinan oleh masyarakat Cina (Sunarjono, 2003).
Jagad Indonesia ini memungkinkan dikembangkan tanaman sayur-sayuran yang banyak bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan bagi manusia. Sehingga ditinjau dari aspek klimatologis Indonesia sangat tepat untuk dikembangkan untuk bisnis sayuran. Di antara tanaman sayur-sayuran yang mudah dibudidayakan adalah caisim. Karena caisim ini sangat mudah dikembangkan dan banyak kalangan yang menyukai dan memanfaatkannya. Selain itu juga sangat potensial untuk komersial dan prospek sangat baik.. Ditinjau dari aspek klimatologis, aspek teknis, aspek ekonomis dan aspek sosialnya sangat mendukung, sehingga memiliki kelayakan untuk diusahakan di Indonesia. Sebutan sawi orang asing adalah mustard. Perdagangan internasional dengan sebutan green mustard, chinese mustard, indian mustard ataupun sarepta mustard. Orang Jawa, Madura menyebutnya dengan sawi, sedang orang Sunda menyebut sasawi (http://zuldesains.wordpress.com, 2009).
Pupuk Nitrogen cukup banyak perannya namun kalau diamati di pasaran tidak semua pupuk tersedia dan dijual. Hal ini erat kaitannya dengan kebiasaan petani dalam penggunaannya. Umunya petani hanya memiliki Urea dan ZA sehingga tentu saja pedagang pupuk tidak akan menjual pupuk lain, selain dari Urea dan ZA (Marsono, 1998).

Fosfor merupakan unsur yang diperlukan dalam jumlah besar (hara makro). Jumlah fosfor dalam tanaman lebih kecil dibandingkan dengan nitrogen dan kalium. Tetapi, fosfor dianggap sebagai kunci kehidupan (key of life). Tanaman menyerap fosfor dalam bentuk ion ortofosfat primer ( H2PO4-) dan ion ortofosfat sekunder (HPO4=). Menurut Tisdak (1985), kemungkinan P masih dapat diserap dalam bentuk lain, yaitu bentuk finofosfat dan metafosfat. Bahkan, ada pendapat lain (Thomson, 1982) bahwa kemungkinan P diserap dalam bentuk senyawa fosfat organik yang larut air, misalnya asm nukleat dan phitin (Rosmarkam dan Nasih, 2002).

Kalium merupakan unsur hara ketiga setelah Nitrogen dan Fosfor. Ia diserap tanaman dalam jumlah mendekati atau melebihi jumlah Nitrogen seperti halnya pada tanaman umbu-umbian, walaupun Kalium tersedia dalam tanah terdapat dalam jumlah yang terbatas (Hakim dkk., 1986).

Tanaman menyerap sulfur dalam bentuk ion sulfat (SO42-) yang tidak banyak terdapat dalam tanah mineral. Karena bermuatan negatif ion sulfat mudajh hilang dari daerah perakaran karena tercuci oleh aliran air. Kususnya terjadi pada tanah berpasir. Sebagian besar sulfur di dalam tanah berasal dari bahan organik yang telah terdekomposisi, sulfur elemental (bubuk/batu belerang) dari aktivitas vulkanis dan partikel dari cerobong asap pabrik yang terbawa ketanah oleh hujan (Novizan, 2007).

Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk Nitrogen, Fosfor, Kalium dan pupuk Supertop terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman sawi (Brassica juncea L.).

Hipotesa Percobaan


• Ada pengaruh pemberian pupuk Nitrogen, Posfor dan Kalium terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman sawi (Brassica juncea L.).
• Ada pengaruh pemberian pupuk Supertop terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman sawi (Brassica juncea L.).
• Ada interaksi antara pemberian pupuk Nitrogen, Posfor, Kalium dan Supertop terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman sawi (Brassica juncea L.).

Kegunaan Percobaan
• Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
• Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang memerlukan.














TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Rubatzky dan Yamaguchi (1998) tanaman sawi diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Angiospermae
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Papaforales
Family : Cruciveraceae
Genus : Brassica
Species : Brassica juncea L.


Tanaman sawi mempunyai akar tunggang dengan akar samping yang banyak tetapi tetap dangkal. Sistem perakaran tanaman sawi ini relatif dangkal yakni menembus pada kedalaman tanah antara 20 – 30 cm (http://id.wikipedia.org, 2009).


Batang tanaman sawi umumnya pendek, langsing dan banyak mengandung air. Disekeliling batang hingga titik tumbuh terdapat helai daun yang bertangkai pendek (Subekti dkk., 2009).


Sawi berdaun lonjong, halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop. Urat daun utama tanaman sawi lebih sempit daripada tanaman petsai, tetapi daunnya lebih liat. Pada umumnya pola pertumbuhan daunnya berserak (roset) hingga sukar membentuk krop (Sunarjono, 2003).


Bunganya mirip petsai, tetapi rangkaian tandan lebih pendek. Ukuran kuntum bunganya lebih kecil dengan warna kuning pucat yang spesifik (Sunarjono, 2003).


Ukuran bijinya kecil dan berwarna hitam kecokelatan. Bijinya terdapat dalam kedua sisi dinding sekat polong yang lebih gemuk (Sunarjono, 2003).

Syarat Tumbuh

Iklim

Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl (http://zuldesains.wordpress.com, 2009).

Sawi dapat ditanam di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Akan tetapi umumnya sawi diusahakan di dataran rendah, yaitu di pekarangan, di ladang atau di sawah, jarang diusahakan di daerah pegunungan (AAK, 1992).

Cahaya mungkin kurang penting artinya untuk perkecambahan benih pada beberapa tanaman, malah ada tanaman yang perkecambahannya terhambat oleh cahaya. Akan tetapi setiap tanaman butuh cahaya sebagai sumber energi untuk pertumbuhan tanaman selanjutnya (Lakitan, 1995).

Sawi termasuk tanaman sayur yang tahan terhadap hujan. Sehingga ia dapat ditanam di sepanjang tahun, asalkan pada saat musim kemarau ndisediakan airyang cukup untuk penyiraman (Tim Penulis PS, 1993).

Tanaman ini tidak cocok dengan hawa yang panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 15-20˚ C. Pada suhu di bawah 15˚C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 26˚C tak akan berbunga (AAK, 1992).

Ketersediaan air sangat menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman, baik secara vegetatif maupun secara generatif. Dalam proses perkecambahan biji , tahap paling awal yang erjadi adalah imbibisi, yakni proses masuknya air ke dalam biji. Tanpa didahului oleh proses imbibisi ini, tahap-tahap selanjutnya dalam proses perkecambahan biji tidak akan dapat berlangsung (Lakitan, 1995).

Tanah


Tanaman ini tumbuh baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air (AAK, 1993).

Tempat tumbuh yang dibutuhkan tanaman sawi yaitu tanahnya gembur, banyak mengandung bahan organik, drainase baik, dan derajat keasaman tanahnya (pH) antara 6-7. Tanaman tahan naungan dan tahan kekeringan. Waktu tanam yang tepat yaitu pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau. Selama pertumbuhannya tanaman ini harus cukup air (Sutarya dan Gerard, 1995).
Sawi menginginkan tanah yang gembur dan kaya bahan organic. Selain itu tanah harus memiliki drainase yang baik dengan nilai pH 6-7. Sawi dapat ditanam di dataran rendah dan dataran tinggi. Namun lebih banyak diusahakan di dataran rendah. Sawi juga bisa ditanam pada saat musim kemarau asalkan airnya cukup tersedia untuk penyiraman (Nazaruddin, 2000).
.
Pupuk Nitrogen


Nitrogen berfungsi dalam merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, merupakan bagian dari sel tanaman itu sendiri, berfungsi dalam sintesa asam amino dan protein dalam tanaman, merangsang pertumbuhan vegetatif tanaman (http://www.langit-langit.com, 2009).

Nitrogen adalah unsur hara makro utama yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak, diserap tanaman dalam bentuk ammonium (NH4+) dan nitrat (NO3+). Sumber N tidak diperoleh dari batuan dan mineral tapi berasal dari hasil pelapukan bahan organis, dari udara melalui fiksasi N oleh mikroorganisme baik yang bersimbiosa dengan akar tanaman leguminosa seperti bakteri Rhizobium atau tidak seperti bakteri Azobacter dan Clostridium. Sumber lain dari nitrogen di dalam tanah melalui air hujan dan melalui pupuk buatan seperti urea atau ZA (Hasibuan, 2006).

Pupuk nitrogen mengandung hara tanaman N. Bentuk senyawa N umumnya berupa nitrat, amonium, amin, sianida. Contoh: kalium nitrat (KNO3), amonium fosfat [(NH4)3PO4], urea (NH2CONH2) dan kalsium sianida (CaCN2). Bentuk pupuk N ini berupa kristal, prill, pellet, tablet maupun cair (http://nasih.staff.ugm.ac.id, 2009).

Ditinjau dari segi fisiologinya Nitrogen mempunyai peranan antara lain: 1. reduksi metabolik nitrat dan asimilasi amonia. Nitrogen yang tersedia dalam tanah yang dapat diserab oleh akar tanaman ialah dalam bentuk ion-ion nitrat. Asimilasi amonia pada sebagian besar tanaman menjadi asam glutamat (Glutamic acid) (Nyakpa dkk, 1988).

Fungsi Nitrogen yang selengkapnya bagi tanaman adalah sebagai berikut: untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, dapat menyehatkan pertumbuhan daun, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun, meningkatkan perkembangan mikroorganisme dalam tanah (Kartasapoetra dan Sutedja, 2000).

Tanaman akan tumbuh dengan lambat bilamana kekurangan Nitrogen, tampak kurus, kerdil dan berwarna pucat dibanding dengan tanaman sehat. Kekurangan Nitrogen membatasi produksi protein dan bahan-bahan penting lainnya dalam pembentukan sel-sel baru. Kecepatan pertumbuhan tanaman berjalan proporsional dengan suplai Nitrogen (Nyakpa dkk, 1988).

Pupuk Fosfor
Tripel superfosfat (TSP) rumus kimianya Ca(H2PO4). Sifat umum pupuk Tripel superfosfat (TSP) sama dengan dengan pupuk DS. Kadar P2O5 pupuk ini sekitar 44-46% walaupun secara teoritis dapat mencapai 56 %. Pembuatan pupuk TSP dengan menggunakan sistem wet proses. Dalam proses ini batuan alam (rockphosphate) fluor apatit diasamkam dengan asam fosfat hasil proses sebelumnya (seperti pembuatan pupuk DS) (http://nasih.staff.ugm.ac.id, 2009).

Peran pupuk Fosfor untuk tanaman antara lain : dapat mempercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman muda pada umumnya. Dapat mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji atau gabah, dapat meningkatkan produksi biji-bijian (Kartasapoetra dan Sutedja, 2000).

Fosfor (P) dalam pupuk dinyatakan dalam bentuk oksidanya yaitu P2O5. Pupuk TSP mengandung P sebesar 44% P2O5. Untuk mengetahui kadar P (bukan P2O5) maka harus dikalikan dengan suatu bilangan konversi: Prosentase P = 0.43 X prosentase P2O5, Prosentase P2O5 = 2.29 X prosentase P. Angka 0.43 berasal dari berat molekul P2O5 dibagi berat 2P. Berat atom P=31 dan O=16, sehingga 144:62 = 2.29 atau sebaliknya 62:144 = 0.43. Kadar yang ditunjukkan umumnya P yang larut dalam asam sitrat 2%; jadi bukan P yang larut air (http://nasih.staff.ugm.ac.id, 2009).

Di dalam tanah, fungsi Fosfor terhadap tanaman adalah sebagai zat pembangun dan terikat dalam senyawa-senyawa organis dengan demikian adalah statis, hanya sebagian kecil saja yang tersedia dalam bentuk anorganis sebagai ion-ion fosfat, sebagai bahan pembentuk pospor yang terpencar-pencar dalam tubuh tanaman (Kartasapoetra dan Sutedja, 2000).

Di dalam tanaman Fosfor merupakan unsur yang mobil dan bilaman terjadi kekurangan unsur ini pada suau tanaman maka Fosfor pada jaringan-jaringan tua akan di translokasikan ke jaringan yang masih efektif. Apabila terjadi kekurangan unsur Fosfor akan menghambat pertumbuhan tanaman dan gejalanya sulit diketahui sebagaimana gejala-gejala yang kelihatan pada tanaman-tanaman yang kurang unsur Nitrogen dan Kalium (Nyakpa, dkk., 1988).

Pupuk Kalium
Potassium terjadi sebuah kation sederhana (K+) seluruhnya pada system tanah dan tumbuhan. Potassium adalah lebih mobil dan oleh karena itu, pokok persoalan yang sesungguhnya tercuci pada tanah berpasir, khususnya jika pH relatif rendah. Potassium terjadi pada pertukaran kompleks dari semua tanah tetapi untuk sebuah tingkat yang jauh lebih besar pada tanah berliat (Sopher dan Jack, 1982).

Selain mengandung unsur K juga mengandung unsur N. Kadar K2O cukup tinggi 44% dan kadar N sekitar 13%. Pupuk ini kurang penting dan tidak banyak digunakan. Tanaman yang banyak menggunkan pupuk ini ialah tanaman tembakau, kapas. Niter merupakan pupuk majemuk dengan grade fertil¬izer 13-0-44 (http://nasih.staff.ugm.ac.id, 2009).

Sebagian besar unsur ini sangat diikat kuat sebagai mineral primer dan difiksasi dalam bentuk yang paling baik tersedia bagian tanaman. Penggunaan kalium seirama dengan penggunaan fosfor dan nitrogen paling sedikit satu hal (Buckman dan Brady, 1982).

Pada garis besarnya fungsi Kalium antara lain membentuk dan mengangkut karbohidrat, sebagai katalisator pembentuk protein, mengatur kegiatan berbagai unsur mineral, menetralkan reaksi dalam sel terutama dalam sel organik, menaikkan pertumbuhan jaringan meristem, mengatur pergerakan stomata, memperkuat tegaknya batang, memfiksasi enzim-enzim secara langsung ataupun tak langsung, meningkatkan kadar dan warna buah, lebih tahan terhadap serangan hama, perkembangan akar tanaman (Rosmarkam dan Nasih, 2002).

Gejala yang terjagi pada daun terjadi secara setempat-setempat. Pada permulaannya tampak agak mengkerut dan kadang-kadang mengkilap. Gejala yang terdapat pada batang, yaitu batangnya lemah dan pendek-pendek, sehingga tanaman tampak kerdil (Kartasapoetra dan Sutedja, 2000).

Pupuk Supertop


Super Top Soil Conditioner, sebagai pembenah tanah yang dapat meningkatkan produkktivitas tanah yang kandungan utamanya adalah mineral alam zeolit. Pemakaian Super top selain untuk padi sawah, tanaman palawija, tanaman tahunan (kelapa sawit, cengkeh, karet, kopi, teh, durian, mangga, jeruk, anggur dll), juga berfungsi juga untuk pemakaian di tambak udang/ikan; menjamin kualitas air yang sesuai dengan ketentuan spesifik teknik (kejernihan air, oksigen, pH), mempercepat pertumbuhan dan mengurangi kematian udang/ ikan, menghisap gas amonia, nitrit dll. yang meracuni udang/ikan.
Bermanfaat juga untuk mengurangi Pemakaian Urea dan juga membantu kelangkaan terhadap Urea di pasaran. Dari beberapa contoh di atas, penggunaan AGRO 2000 dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen sebesar 25%-40% (http://www.agrobisnis.net, 2009).

Secara garis besar, mineral zeolite yang mempunyai Kapasitas Tukar Kation ( KTK ) dan daya retensi air yang tinggi dapat digunakan dalam usaha pertanian untuk dua tujuan yaitu: 1) Reklamasi tanah yang yang bermasalah seperti pH rendah, kelarutan Al dan Fe tinggi, seta fikasi fosfat yang tinggi (Mumptan,1984a). 2) Meningkatkan efisiensi pemupukan anorganik yang sekaligus penyedia unsur hara seperti N


Peran unsur hara mikro yang spesifik secara fisiologi belum diketahui dengan pasti, tapi secara klasik dianggap penting untuk pembentukan lamela tengah karena diduga keras berperan pada sintesa, komponen struktural dinding sel. Oleh karena itu mempunyai peran penting pada pembentukan sel-sel baru (Hasibuan, 2006).










BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilakukan di Lahan Percobaan Agronomi Tanaman Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl. Percobaan ini dimulai pada bulan Februari 2009 sampai dengan bulan April 2009.

Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah benih sawi (Brassica juncea L.) sebagai objek percobaan, pupuk Nitrogen, Posfor, Kalium dan pupuk cair Super top, amplop coklat untuk memungut hasil panen.

Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah cangkul untuk mencangkul tanah dan membersihkan tanah (lahan) dari gulma, gembor untuk menyiram tanaman, handsprayer untuk mengaplikasikan pupuk cair Super top, kalkulator untuk menghitung data, alat tulis untuk mencatat data, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, jangka sorong untuk mengukur diameter batang, goni untuk memungut hasil panen, spidol untuk menandai hasil panen.

Metode Percobaan

Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan, yaitu:
Faktor I : pemberian pupuk Nitrogen, Posfor dan Kalium yang terdiri dari 4 perlakuan, yaitu:
N0 : 0 gr/ tanaman
N1 : 1 gr/ tanaman
N2 : 2 gr/ tanaman
N3 : 3 gr/ tanaman
Faktor II : pemberian pupuk Sulfur yang terdiri dari 3 perlakuan:
S1 : 1 cc/ liter air
S2 : 2 cc/ liter air
S3 : 3 cc/ liter air
Sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan sebagai berikut:
N0S1 N0S2 N0S3
N1S1 NIS2 N1S3
N2S1 N2S2 N2S3
N3S1 N3S2 N3S3
Jumlah plot : 41
Jumlah tanaman / plot : 25
Jumlah tanaman seluruhnya : 1025
Jumlah tanaman sampel/plot : 5
Ukuran plot : 200 cm x 150 cm
Jarak tanam : 40 cm x 30 cm



Dari hasil percobaan dianalisis sidik ragam rancang acak kelompok (RAK) dengan model linier sebagai berikut:
Y ijk = µ + ρi + αj + βk + (αβ)jk + εijk
Dimana :
Y ijk :nilai pengamatan pada blok ke-i, persilangan ke-j, dan varietas ke-k.
µ : nilai tengah
ρi : efek blok ki-i
αj : efek persilangan ke-j
Βk : efek varietas ke-k
(αβ)jk : efek persilangan ke-j dan varietas ke-k
Εijk :efek eror yang disebabkan oleh blok ke-i, persilangan ke-j, varietas ke-k.














PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persemaian
Sebelum ditanam di lapangan, sawi terlebih dahulu harus disemaikan. Persemaian dilakukan dikotak persemaian.

Persiapan Lahan
Lahan percobaan terlebih dahulu dibersihkan dari gulma dan sisa-sisa tanaman dengan menggunakan cangkul. setelah itu dilakukan penggemburan dan selanjutnya pembuatan plot-plot percobaan sesuai dengan ukuran plot yang telah ditentukan dan setip pinggir plot dibuat parit keliling sebagai drainase. Petak plot dengan ukuran 2m × 1,5m dan dibuat parit pemisah antar blok dan plot sebagai drainase dengan lebar 50 cm.

Penanaman
Penanaman dilakukan setelah tanaman berumur 3-4 minggu sejak biji disemaikan. Jarak tanam yang digunakan 40cm x 30cm. Kegiatan penanaman dilakukan pada saat sore hari.

Pemupukan
Pupuk kompos diberikan pada saat pengolahan lahan atau sebagai pupuk dasar.


Pemeliharaan
Penyiraman
Setelah tanaman dipindahkan kelapangan, penyiramana dilakukan dengan menggunakan gembor. Penyiraman dilakukan setiap hari nya pada sore hari.

Penyulaman
Penyulaman dilakukan apabila dilapangan tampak ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya kurang sempurna. Hal ini dilakukan seminggu setelah tanaman ditanam agar diperoleh pertumbuhan yang serentak.

Penyiangan
Biasanya setelah turun hujan, tanah disekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Kegiatan ini dilakukan dua minggu sekali.

Pengamatan Parameter
Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang bawah hingga ujung. Pengukuran mulai dilakukan setiap minggunya hingga akir masa vegetatif tanaman.












Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun dihitung tiap minggu mulai 2 MST. Dilakukan setiap minggunya hingga akir masa vegetatif tanaman.

Berat Basah Tanaman (gr)
Berat basah tanaman dihitung pada semua tanaman sampel, perhitungan dilakukan pada saat pemanenan.

Produksi Per Plot (gr)
Produksi per plot dihitung pada semua tanaman sampel, perhitungan dilakukan pada saat pemanenan.















HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Dari tabel sidik ragam (lampiran 2-8) diketahui bahwa pemberian pupuk nitrogen tidak berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman 3 MST, jumlah daun 3 MST, berat basah tanaman, dan produksi per plot.

Dari tabel sidik ragam (lampiran 2-8) diketahui bahwa pemberian pupuk supertop tidak berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman 3 MST, jumlah daun 3 MST, berat basah tanaman, dan produksi per plot.

Dari tabel sidik ragam (lampiran 2-8) diketahui bahwa interaksi antara pemberian pupuk nitrogen dan pupuk supertop tidak berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman 3 MST, jumlah daun 3 MST, berat basah tanaman, dan produksi per plot.

Tinggi Tanaman (cm)
Dari tabel sidik ragam diketahui bahwa pemberian pupuk nitrogen, fosfor, kalium, pupuk supertop dan interaksi antara pupuk nitrogen dan supertop tidak berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman 3 MST.

Data pengamatan tinggi tanaman 3 MST dapat dilihat pada tabel 1.




Tabel 1. Data Pengamatan Tinggi Tanaman 3 MST (cm)












Dari tabel 1 diketahui bahwa tinggi tanaman tertinggi terdapat pada N2S3 (35,15 cm) dan terendah terdapat pada N1S1 (21,30 cm).

Grafik tinggi tanaman 3 MST dapat dilihat pada gambar 1.


Gambar 1. Grafik Tinggi Tanaman 3 MST (cm)


Jumlah daun (helai)
Dari tabel sidik ragam diketahui bahwa pemberian pupuk nitrogen, posfor, kalium, pupuk supertop, serta interaksi antara pupuk nitrogen dan supertop tidak berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah daun 3 MST.

Data pengamatan jumlah daun 3 MST dapat dilihat pada tabel 2
Tabel 2. Data Pengamatan Jumlah Daun 3 MST (helai)











Dari tabel 2 diketahui bahwa jumlah daun 3 MST tertinggi terdapat pada N3S2 (7,27 helai) dan terendah terdapat pada N0S2 (5,33 helai).

Grafik jumlah daun 3 MST dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Grafik Jumlah Daun 3 MST (Helai)

Berat Basah Tanaman (gr)
Dari tabel sidik ragam diketahui bahwa pemberian pupuk nitrogen, posfor, kalium, pupuk supertop, serta interaksi antara pupuk nitrogen dan supertop tidak berpengaruh nyata terhadap parameter bobot basah tanaman.

Data pengamatan berat basah tanaman dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Data Pengamatan Berat Basah Tanaman (gr)










Dari tabel 3 diketahui bahwa berat basah tanaman tertinggi terdapat pada N3S2 (7,27 gr) dan terendah N0S2 (5,33 gr).

Grafik berat basah tanaman dapat dilihat pada gambar 3

Gambar 3. Grafik Berat Basah Tanaman (gr)

Produksi Per Plot (gr)
Dari tabel sidik ragam diketahui bahwa pemberian pupuk nitrogen, posfor, kalium, pupuk supertop, serta interaksi antara pupuk nitrogen dan supertop tidak berpengaruh nyata terhadap parameter produksi per plot.

Data pengamatan produksi per plot dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Data Pengamatan Produksi Per Plot (gr)







Dari tabel 4 diketahui bahwa produksi per plot tertinggi terdapat pada N3S3(678,00 gr) dan terendah N2S2 (434,00 gr).

Grafik produksi per plot dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4. Grafik Produksi Per Plot (gr)

Pembahasan
Dari data percobaan dapat dilihat bahwa pemberian pupuk Nitrogen tidak berpengaruh nyata pada semua parameter. Dimana Nitrogen berfungsi dalam merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, merupakan bagian dari sel tanaman itu sendiri, berfungsi dalam sintesa asam amino dan protein dalam tanaman, merangsang pertumbuhan vegetatif tanaman. Walaupun seharusnya hal ini berpengaruh nyata pada vase pertumbuhan vegetatif tanaman. Dimana hal ini didukung oleh literatur http://www.lngit-langit.com (2009) yang menyatakan Nitrogen berfungsi dalam merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, merupakan bagian dari sel tanaman itu sendiri, berfungsi dalam sintesa asam amino dan protein dalam tanaman, merangsang pertumbuhan vegetatif tanaman.

Dari data percobaan dapat dilihat bahwapemberian pupuk cair super top tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter. Dimana Peran unsur mikro yang spesifik secara fisiologi belum diketahui dengan pasti, tapi secara klasik dianggap bahwa unsur mikro penting untuk pembentukan lamela tengah karena diduga keras berperan pada sintesa. Tetapi seharusnya pemberian unsur mikro tambahan ini memberikan pengaruh pada pembentukan sel-sel baru di masa vegetatif tanaman. Hal ini sesuai literatur Hasibuan (2004) Peran unsur hara mikro yang spesifik secara fisiologi belum diketahui dengan pasti, tapi secara klasik dianggap penting untuk pembentukan lamela tengah karena diduga keras berperan pada sintesa, komponen struktural dinding sel. Oleh karena itu mempunyai peran penting pada pembentukan sel-sel baru.

Dari data percobaan dapat dilihat bahwa interaksi pemberian pupuk Nitrogen dan Pupuk cair Supertop tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter. Dimana Nitrogen yang selengkapnya bagi tanaman adalah sebagai berikut: untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, dapat menyehatkan pertumbuhan daun, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun, meningkatkan perkembangan mikroorganisme dalam tanah. Walaupun seharusnya pertumbuhan vegetatif tanaman dapat dipengaruhi oleh pemberian unser Nitrogen tambahan ini. Hal ini sesuai dengan literatur Kartasapoetra dan Sutedjo (2000) yang menyatakan bahwa fungsi Nitrogen yang selengkapnya bagi tanaman adalah sebagai berikut: untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, dapat menyehatkan pertumbuhan daun, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun.

KESIMPULAH DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pemberian pupuk Nitrogen, Posfor dan Kalium tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman Sawi (Brassica juncea L.) dimana produksi tertinggi ada pada perlakuan N3.
2. Pemberian pupuk cair Supertop tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman Sawi (Brassica juncea L.) dimana produksi tertinggi ada pada perlakuan S3.
3. Interaksi antara pemberian pupuk Nitrogen, Posfor, Kalium dan Supertop tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman Sawi (Brassica juncea L.) dimana rata-rata produksi tertinggi ada pada interaksi perlakuan N3S3, Yaitu 678,00 gr.

Saran
Diharapkan pada percobaan berikutnya komoditas yang digunakan diganti oleh komoditas sayuran lain agar terjadi variasi komoditi.




DAFTAR PUSTAKA
AAK. 1992. Petunjuk Praktis Bertanam Sayuran. Kanisius. Jakarta
Buckman, H.O. dan N.C. Brady. 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan Prof. Dr. Soegiman. Penerbit Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

Hakim, N., M. N. Nyakpa., A. M. Lubis., S. G. Nugroho., M. A. Diha., G. B. Hong dan H. H. Bailey, 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung. Lampung.

Hasibuan, B.E. 2006. Ilmu Tanah. FP USU. Medan.

http://nasih.staff.ugm.ac.id. 2009. Pupuk Nitrogen. Diakses pada tanggal 7 Juni 2009.

http://zuldesains.wordpress.com. 2009. Budidaya Tanaman Sawi. Diakses pada tanggal 7 Juni 2009.

http://www.tanindo.com. 2009. Sawi Dataran Rendah. Diakses pada tanggal 22 Maret 2009.

http://id.wikipedia.org. 2009. Sawi (Brassica juncea L.). Diakses pada tanggal 22 Maret 2009.

http://langit-langit.com. 2009. Fungsi Unsur Hara Makro (N-P-K). Diakses pada tanggal 15 Februari 2009.

http://www.agrobisnis.net. 2009. Supertop Pupuk Cair Organik. Diakses pada tanggal 05 Juni 2009

http://agro2000.wordpress.com. 2009. Agro2000 Pupuk Organik. Diakses pada tanggal 05 Juni 2009

Kartasapoetra., A.G. dan Sutedjo. 2000. Pupuk dan Cara Pemupukannya. Rineka Cipta. Jakarta.

Lakitan, Benyamin. 1995. Hortikultura Teori, Budidaya, dan Pasca Panen.
PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

Marsono, P.L. 1998. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.

Novizan. 2007. Petunjuk Pemupukan Yang Efektif. Agromedia. Jakarta.



Nyakpa, M.Y., A.M. Lubis., Mamat. A.P., A.G. Amran., Ali. M., G.B. Hong., dan N. Hakim.1988. Kesuburan Tanah. Penerbit Unversitas Lampung.
Lampung.

Rosmarkam, A. dan Nasih W.Y. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta

Rubatzky, V.E. dan M.Yamaguchi, 1998. Sayuran Dunia Prinsip, Produksi, dan
Gizi Jilid Kedua. ITB-Press. Bandung.

Subekti, N.A., Syafruddin., R. Efendi., dan S. Sunarti. 2009. Morfologi Tanaman dan Fase Pertumbuhan Sawi. Diakses dari situs http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/bjagung/e patpdf. Pada tanggal 3 Mei 2009.

Sopher, C.D. dan Jack V.B. 1982. Soil and Soils Management. Reston Publishing Company,Inc. A Prentice-Hall Company. Reston-Virginia

Sunarjono, H.H. 2008. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sutarya, R. dan Gerard G. 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah.
UGM Press. Yogyakarta

Tim Penulis PS. 1993. Sayur Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.

pengaruh pemberian pupuk N dan Zink terhadap pertumbuhan dan produksi jagung manis (Zea mays Saccharata Sturt L.)

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK N DAN ZINK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI
JAGUNG MANIS (Zea mays Saccharata Sturt L.)


LAPORAN




OLEH:

JUNITA SINAMBELA
070301054/BDP - AGRONOMI
32


















LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PANGAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK N DAN ZINK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI
JAGUNG MANIS (Zea mays Saccharata Sturt L.)


LAPORAN

OLEH:

JUNITA SINAMBELA
070301054/BDP - AGRONOMI
32

Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Agronomi Tanaman Pangan Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan

Disetujui Oleh:
Dosen Penanggungjawab



(Ir. Hj. Sabar Ginting, MS)
NIP. 130 535 885

Diketahui Oleh:
Asisten Koordinator



(Jojor Cinta Bakara)
NIM. 040301049

Diperiksa Oleh:
Asisten Korektor



(Andri Agassi Barus)
NIM. 060301024


LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PANGAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

ABSTRAK
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengaruh pemberian pupuk Nitrogen dan Zinc terhadap pertuumbuhan dan produksi tanaman jagung manis (Zea mays Saccharata Sturt L.). Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Agronomi Tanaman Pangan, dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan dan tiga ulangan. Faktor I adalah Faktor pemberian pupuk Nitrogen, Faktor II adalah Faktor pemberian pupuk Zink. Hasil percobaan menunjukan bahwa pupuk Urea dan pupuk Zink tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi jagung manis (Zea mays Saccharata Sturt L.).

Kata kunci : Nitrogen, Zink, Jagung manis
















ABSTRACT



The objective of this experiment was to know effect of Nitrogen fertilizers and Zinc fertilizers for growth and production of sweet corn (Zea mays Saccharata Sturt L.). The experiment was conducted in Agronomi Tanaman Pangan Laboratory Land, Agriculture Faculty, North Sumatera University with altitude ± 25 m above sea level, from March to April 2009. The experiment used Randomized Complete Block Design ( RAK) with two factors and three replications. The first factor was Nitrogen fertilizers. The second one was Zinc fertilezers. The experiment result showed that media didn’t give significant effect of corn growth and production sweet corn (Zea mays Saccharata Sturt L.).

Key words : Nitrogen, Zinc, Sweet corn








RIWAYAT HIDUP

Junita Sinambela lahir pada tanggal 2 April 1989 di Medan. Anak pertama dari empat bersaudara. Anak dari Bapak P. Sinambela dan Ibu N. Manurung.

Adapun pendidikan yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut:
SD Negeri 050721 di Gohor Lama Tamat tahun 2001
SMP Negeri 1 di Hinai Tamat tahun 2004
SMA Negeri 1 di Stabat Tamat tahun 2007

Penulis terdaftar sebagai mahasiswi di Departemen Budidaya Pertanian Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan melalui jalur SPMB pada pilihan pertama pada tahun 2007 sampai sekarang.









KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya.

Adapun judul dari laporan ini adalah “Pengaruh Pemberian Pupuk Nitrogen dan Pupuk Zink Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis (Zea mays Saccharata Sturt L.)”. Paper ini disusun sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti prapraktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Pangan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Agronomi Tanaman Pangan yaitu Prof. Dr. Ir. Hapsoh, MS; Ir. Hj. Sabar Ginting, MS; Ir. Jonatan Ginting, MS; dan Ir. Yaya Hasanah, MP, serta para asisten Laboratorium Agronomi Tanaman Pangan yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan paper ini.

Penulis menyadari laporan ini banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.

Akhir kata penulis mengucapakan terima kasih dan semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Mei 2009

Penulis


DAFTAR ISI
ABSTRACT i
ABSTRAK ii
RIWAYAT HIDUP iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GAMBAR viii
PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Tujuan Percobaan 3
Hipotesis Percobaan 4
Kegunaan Percobaan 4
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman 5
Syarat Tumbuh 7
Iklim 7
Tanah 7
Pupuk N 8
Pupuk Zink 10
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan 12
Bahan dan Alat 12
Metode Percobaan 12
PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Lahan 13
Penanaman 13
Pemupukan 13
Pemeliharaan 13
Penyiraman 13
Penyulaman 14
Penyiangan 14
Pengamatan Parameter 14
Tinggi Tanaman (cm) 14
Jumlah Daun (helai) 14
Umur berbunga jantan 14
Umur berbunga betina 14
Umur panen 15
Produksi Per Sampel (g) 15

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil 16
Pembahasan 21
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan 24
Saran 24
DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN





























DAFTAR TABEL
No. Keterangan Hal
1. Rataan tinggi tanaman 6 MST (cm) 19
2. Rataan jumlah daun 6 MST (helai) 20
3. Rataan diameter batang 6 MST (mm) 21
4. Rataan produksi per sampel (g) 22
























DAFTAR GAMBAR
No. Keterangan Hal
1. Grafik tinggi tanaman 6 MST 17
2. Grafik jumlah daun 6 MST 18
3. Grafik diameter batang 19
4. Grafik produksi per sampel 21

















PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kata “jagung” diterapkan pada gandum, terigu, atau gandum hitam di Eropa. Di Amerika, itu mengacu pada jagung Indian atau maizena. Jagung tumbuh di Amerika Utara sebelum 2000 SM. Jenis jagung yang terkenal yaitu jagung manis yang dipercaya menjadi sebuah ladang mutasi atau jagung susut. Jagung ini dipelihara orang-orang Indian dan pertama dikembangkan dan digambarkan oleh penetap sekitar tahun 1780. Pada tahun 1900 lebih dari 63 telah digambarkan (Splittstoeser, 1984).

Jagung manis adalah anggota dari Poaceae (Gramineae) atau family rumput-rumputan. Anggota lainnya dari family ini termasuk terigu, gandum, gerst, tanaman yang menyerupai jagung atau gandum. Jagung adalah tumbuhan berbiji monokotil yang dapat tumbuh sampai ketinggian 12 kaki (Decoteau, 2000).

Selama tahun 1983 – 1997 luar areal panen relatif tetap yaitu sekitar 3,0 juta hektar. Walaupun demikian produktifitas naik 3,6 % per tahun sedangkan kenaikan produksi mencapai 4,8 % per tahun. Kenaikan produktifitas jagung tersebut dimulai tahun 1989 yaitu mencapai lebih dari 20 ton/ha. Hal ini terjadi akibat mulai ditanamnya varietas hibrid oleh petani (Sherf and Macnab, 1986).

Kandungan nutrisi jagung manis sangat mudah rusak. Segera setelah dipetik. Zat gulanya berangsur-angsur berubah menjadi zat tepung. Cairan yang menyerupai susu dan manis di dalam biji sedikit demi sedikit akan meleleh dan menjadi seperti bubur. Perubahan ini akan mengakibatkan jagung manis yang mula-mula terasa manis lambat laun akan mudah menjadi hambar (Sumoprastowo, 1998).

Kandungan zat gizi sweet corn tiap 100 gr berat yang dapat dimakan dicantumkan dalam tabel berikut ini:
Zat Gizi Sweet Corn
Energi (kal)
Protein (g)
Lemak (g)
Karbohidrat (g)
Kalsium (mg)
Fosfor (mg)
Besi (mg)
Vitamin A (SI)
Vitamin B (mg)
Vitamin C (mg)
Air (g) 96
3,5
1,0
22,8
3,0
111,0
0,7
400
0,15
12
72,7

(Tim Penulis PS, 2000).

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan proses yang penting dalam kehidupan dan perkembangbiakan suatu spesies. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan proses yang penting dalam kehidupan dan perkembangbiakan suatu spesies.Pertumbuhan dan perkembangan berlangsung secara teus-menerus sepanjang daur hidup, bergantung pada tersedianya meristem, hasil asimilasi, hormon. Dan substansi pertumbuhan lainnya, serta lingkungan yang mendukung (Gardner,dkk., 1991).
Jenis dan kandungan hara suatu pupuk adalah ukuran pertama untuk menilai suatu pupuk. Jenis hara suatu pupuk perlu diketahui agar dapat menentukan jenis pupuk apa yang perlu ditambahkan. Kandungan hara suatu pupuk sangat menentukan kemampuan suatu pupuk untuk merubah kesuburan kimiawi tanah secara mutlak. Semakin tinggi kandungan hara suatu pupuk semakin tinggi pula kemampuan tanah tersebut untuk menambah hara tertentu ke dalam tanah (Hasibuan, 2006).

Tanaman memerlukan sejumlah anasir hara dalam takaran cukup, seimbang, dan sinambung untuk terus tumbuh dan berkembang, menyelesaikan daur hidupnya. Anasir hara tanaman ini diambil dari atmosfir dan sistem tanah. Paling sediki ada 16 macam anasir hara yang diperlukan secara teratur untuk pertumbuhan vaskular tanaman. Takaran dan jenis anasir hara yang dibutuhkan setiap jenis tanaman adalah berbeda-beda (Mas’ud, 1992).

Setiap unsur hara mempunyai peranan yang tertentu terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dengan demikian bila terdapat kekurangan salah satu unsur tersebut maka akan menyebabkan timbulnya kelainan-kelainan pada tanaman. Kelainan ini dapat berupa bentuk tanaman yang abnormal ataupun terhambatnya pertumbuhan. Dengan demikian kekurangan salah satu faktor tersebut dapat menyebabkan terbatasnya produksi tanaman (Hakim,dkk., 1986).

Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk Nitrogen dan Zink terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung manis (Zea mays Saccharata Strut L.)
Hipotesis Percobaan
1. Adanya pengaruh pemberian pupuk Nitrogen terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung manis (Zea mays Saccharata Strut L.).
2. Adanya pengaruh pemberian pupuk Zink terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung manis (Zea mays Saccharata Strut L.).
3. Adanya pengaruh interaksi antara pemberian pupuk Nitrogen dan Zink terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung manis (Zea mays Saccharata Strut L.).

Kegunaan Percobaan
 Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Pangan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
 Sebagai bahan informasi bagi pihak yang memerlukan.











TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Rukmana (1997) tanaman jagung diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophya
Subdivisio : Angiospermae
Klass : Monocotyledoneae
Ordo : Graminales
Famili : Graminaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays Saccharata Strut L.

Jagung mempunyai akar serabut dengan tiga macam akar, yaitu (a) akar seminal, (b) akar adventif, dan (c) akar kait atau penyangga. Akar seminal adalah akar yang berkembang dari radikula dan embrio. Akar adventif berkembang menjadi serabut akar tebal. Akar kait atau penyangga adalah akar adventif yang muncul pada dua atau tiga buku di atas permukaan tanah (Subekti, dkk., 2008).

Tinggi tanaman jagung besrkisar antara 90 – 150 cm. Batang jagung berwarna hijau kekuning-kuningan. Batang berbuku-buku dan dibatasi silinder dan bagian bawah berbentuk agak bulat pipih (Nurmala, 2000).

Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stomata pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia poaceae. Setiap stomata dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun (http://id.wikipedia.org/wiki/jagung, 2008).

Keunikan jagung di antara rumput padi-padian penting dunia terletak pada sifat perbungaan. Jagung merupakan tanaman berumah satu. Jagung menghasilkan bunga-bunga jantannya dalam suatu perbungaan jantan (malai) dan bunga-bunga betinanya pada tunas-tunas samping (tongkol). Jagung protandus, yaitu mekarnya bunga jantan biasanya terjadi satu atau dua hari sebelum munculnya tangkai putik. Karena pemisahan tongkol dan malai bunga jagung serta protandri pembungaannya, jagung merupakan suatu spesies yang menyerbuk silang (Goldsworthy dan Fisher, 1992).

Tahapan jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas tongkol jagung diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung terletak pada bagian atas umumnya lebih dahulu terbentuk dan lebih besar dibanding yang terletak pada bagian bawah (Subekti, dkk., 2008).

Warna biji biasanya putih atau kuninh, kultivar tertentu memiliki campuran biji warna putih dan kuning pada tongkol yang pertama. Pada tongkol/janggel tersipan biji-biji jagung yang menempel erat (Rubatzky dan Yamaguchi, 1995).



Syarat Tumbuh
Iklim
Jagung tidak menuntut persyaratan lingkungan yang terlalu ketat. Namun utuk pertumbuhan optimalnya, jagung menghendaki persyaratan-persyaratan lingkungan yang harus dipenuhi. Menghendaki penyinaran matahri penuh. Di tempat-tempat yang teduh, pertumbuhan jagung akan merana dan tidak mampu membentuk buah (Najiyati dan Danarti, 1999).

Keadaan suhu yang baik untuk pertumbuhan jagung manis adalah 21 – 300 C. Namun, pada suhu rendah sampai 160 C dan suhu tinggi sampai 350 C. Jagung manismasih dapat tumbuh, suhu optimum untuk perkecambahan benih berkisar antara 21 – 270 C (Tim Penulis PS, 2000).

Curah hujan yang ideal untuk tanaman jagung adalah adalah sekitar 100 -200 mm/bulan. Curah hujan paling optimum adalah sekitar 100 – 125 mm/bulan dengan distribusi yang merata. Angin dibutuhkan tanaman jagung untuk membantu proses penyerbukannya (Rubatzky dan Yamaguchi, 1995).

Tanah
Keadaan basah memang diperlukan ketika biji jagung mulai ditanam, keadaan kering pada waktu penanaman pemula adalah jelek, baik bagi pertumbuhan selanjutnya maupun bagi pembuahannya. Demikian pula keadaan yang terlalu basah tidak menguntungkan tanaman karena cenderung dapat mengundang berbagai penyakit tanaman, Macam tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah tanah alluvial atau lempung yang subur, terbebas pengairannya karena tanaman jagung tidak toleran pada genangan air (Kartasapoetra, 1988).

Kelembapan tanah merupakan faktor yang termasuk penting untuk pertumbuhan tanaman terutama menjelang pembentukan buah. Persediaan air tanah yang rendah akan menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil dan mempengaruhi perkembangan klobot dan pengisian biji (Sutarya dan Grubben, 1995).

Tanah jagung toleran terhadap reaksi keasaman terhadap pada kisaran pH 5,5 – 7,0. Tingkat keasaman tanah yang paling baik untuk tanaman jagung adalah pH 6,8. Tanaman jagung membutuhkan tanah yang bertekstur lempung, lempung berdebu, ataupun lempung berpasir dengan struktur tanah rendah, aerasi, dan drainasenya baik dan cukup air (Calvin and Knutson, 1985).

Pupuk Nitrogen
Sebelum dilakukan penanaman, tanah yang sudah diolah diberi pupuk dasar untuk menambah unsur hara di dalam tanah agar dapat diserap oleh tanaman. Sebagai pupuk dasar umumnya digunakan pupuk kandang dan jenis pupuk buatan seperti urea, TSP, dan KCl yang diberikan pada saat penanaman (Tim Penulis PS, 2000).

Senyawa yang mengandung unsur hara yang diberikan pada tanaman disebut dengan pupuk. Suatu pupuk umumnya terdiri dari komponen-komponen yang mengandung unsur hara, zat penolak air,pengisi, pengatur konsistensi, kotoran dan lain-lain. Bagian yang tidak mengandung unsur hara tersebut akan menurunkan kadar hara dalam pupuk tersebut. Kompos, pupuk kandang, night soil, dan pupuk hijau disebut dengan pupuk organik. Pupuk urea dari segi senyawa tergolong pupuk organik. Sedangkan ZA, ZK, DS, dan TS disebut pupuk anorganik (Jumin, 2008).

Jika terjadi kekurangan nitrogen tanaman tumbuh lambat dan kerdil. Daunnya berwarna hijau muda, sementara itu daun-daun yang lebih tua menguning dan akhirnya kering. Di dalam tubuh tanaman, nitrogen bersifat dinamis (mobile) sehingga jika terjadi kekurangan nitrogen pada pucuk. Nitrogen yang terjadi pada daun tua akan dipindahkan ke organ yang lebih muda dengan demikian, pada daun-daun yang lebih tua gejala kekurangan nitrogen akan terlihat lebih awal (Novizan, 2002).

Ada beberapa kejelekan dari pupuk nitrogen ini jika diberi melebihi batas, di antaranya sebagai berikut :
1. Tanaman menjadi rebah karena ruas bagian bawah menjadi lemah
2. Daya tahan tanaman terhadap penyakit menurun karena kondisi tanaman sangat rendah, sedangkan tumbuhnya sangat subur
3. Buah terlambat matang karena masih merangsang pertumbuhan cabang, ranting, dan daun, sedangkan pembentukan buah terabaikan
4. Kualitas hasil panen kurang baik
(Lingga dan Marsono, 2005).

Nitrogen berperan meningkatkan laju pertumbuhan tanaman. Engelstad (1997) mengatakan bahwa pemberian nitrogen yang optimal dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, meningkatkan sintesis protein, pembentukan klorofil yang menyebabkan wama daun menjadi lebih hijau dan meningkatkan ratio pucuk akar. Oleh karena itu pemberian nitrogen yang optimal dapat meningkatkan laju pertumbuhan tanaman. Menurut Lakitan (1996) pemberian nitrogen pada dosis yang tepat akan meningkatkan pertumbuhan tanaman, maka meningkat pula metabolisme tanaman, sehingga pembentukan protein, karbohidrat dan pati tidak terhambat, akibatnya pertumbuhan dan produksi tanaman meningkat (http://www.acehpedia.org/Kebutuhan_Nitrogen_Pada_Tanaman, 2009).

Pupuk Zink
Seng diserap tanaman dalam bentuk ion Zn2+. Seng merupakan bagian dari sistem enzim tanaman. Seperti unsur mikro lainnya,kebutuhan Zn sangat kecil. Jika terjadi kelebihan sedikit saja, tanaman akan keracunan. Pemberian pupuk Zn lewat tanah atau daun sebaiknya dilakukan saat tanaman masih muda, yakni begitu gejala kekurangan unsur Zn terlihat. Jika hal ini diterapkan dengan benar, hasil panen akan meningkat dengan nyata. Untuk tanaman yang disemprot Zn secara rutin, pemberian lewat daun adalah langkah yang paling efisien. Tanaman yang peka terhadap kekurangan Zn adalah jagung manis (Novizan, 2002).

Fungsi unsur hara seng bagi tanaman adalah :
a. Dalam jumlah yang sangat sedikit dapat berperan dalam mendorong perkembangan pertumbuhan
b. Diperkirakan persenyawaan Zn berfungsi dalam pembentukan hormon tumbuh (auxin) dan penting bagi keseimbangan fisiologis
c. Berperan dalam pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan biji/buah
(http://Pusri.wordpress/ 2007/10/01 Khasiat-unsur-hara-bagi-tanaman, 2007).

Gejala kekurangan seng (Zn) biasanya terlihat pada tanaman yang telah berumur 2 minggu. Pada daun timbul garis-garis kuning, dan sepanjang tulan gdaun berubah menjadi putih, sedangkan tepi daun hijau. Gejala lain biasanya timbul warna kemerahan/kecokelatan pada batang dan tepi daun (Tim Penulis PS, 2000).














BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilakukan di lahan Laboratorium Agronomi Tanaman Pangan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl pada bulan Februari 2009 sampai bulan Mei 2009.

Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah benih jagung manis (Zea mays Saccharata Strut L.) varietas Sweet Boy sebagai objek percobaan. Pupuk Urea dan Zink untuk menambah unsur hara pada tanah. Air untuk menyiram tanaman.

Adapun alat yang digunakan adalah cangkul untuk mengolah lahan. Meteran untuk mengukur luas lahan dan mengukur tinggi tanaman. Pacak sampel sebagai penanda sampel. Plank nama sebagai penanda perlakuan lahan. Tali plastik untuk mempermudah pengukuran lahan. Handsprayer sebagai alat dalam mengaplikasikan pupuk Zink. Gembor untuk menyiram tanaman. Timbangan untuk menimbang produksi/sampel. Alat tulis dan buku data untuk mencatat data. Kalkulator untuk menghitung data.






PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Lahan
Lahan percobaan lebih dahulu dibersihkan dari gulma dan sisa-sisa tanaman dengan menggunakan cangkul setelah itu dilakukan penggemburan dan selanjutnya pembuatan plot-plot percobaan sesuai dengan ukuran plot 2,5 m x 1,5 m dan jarak tanam 50 cm x 50 cm sedangkan jarak antar plot 30 cm dan kedalaman parit 30 cm.
Penanaman
Penanaman dilakukan dengan membuat lubang tanam 2 – 3 cm tiap lubang tanam ditanam 2 biji per lubang.

Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan pupuk Urea yang ditanam pada daerah sekitar tanaman dan pupuk Zink yang disemprotkan pada daun, yang dilakukan 3 minggu setelah tanam.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan sekali sehari pada sore hari dengan menggunakan gembor sampai kapasitas lapang atau disesuaikan dengan curah hujan.



Penyulaman
Penyulaman dilakukan 2 MST yaitu dengan menggantikan tanaman yang mati, yang pertumbuhan abnormal, terserang hama dan penyakit dan sukar berkembang.

Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan mencabuti gulma yang tumbuh di sekitar lahan. Gulma disiangi dengan menggunakan cangkul atau tangan.

Pengamatan Parameter

Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang bawah hingga ujung daun terpanjang. Pengukuran dilakukan setelah 75 % keluar bunga jantan.

Jumlah Daun Tanaman (helai)
Jumlah daun dihitung pada daun yang telah membuka sempurna, perhitungan dilakukan setelah 75 % keluar bunga jantan.

Umur Berbunga Jantan



Umur berbunga jantan dihitung pada saat munculnya daun bendera pembungkus malai. Pengamatan dilakukan setiap hari.

Umur Berbunga Betina
Umur berbunga betina dihitung pada saat munculnya bulu-bulu rambut pada bunga betina. Pengamatan dilakukan setiap hari.

Umur Panen
Umur panen dihitung pada saat tanaman telah berproduksi dan tongkol jagung telah dicabut dari tanamannya.

Produksi Per Sampel (g)
Dihitung dengan menimbang jagung per sampel.























HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tinggi Tanaman (cm)
Dari tabel sidik ragam diketahui bahwa pemberian pupuk Nitrogen dan pupuk Zink tidak berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman 6 MST.
Tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel. 1:
Tabel 1. Data Pengamatan Tinggi Tanaman 6 MST
(Data tidak tersedia)
Tabel 2. Sidik Ragam Tinggi Tanaman 6 MST

Gambar 1. Grafik Tinggi Tanaman 6 MST (cm).
Dari tabel 1 diketahui bahwa pada pemberian pupuk Nitrogen dan pupuk Zink terhadap tinggi parameter tanaman 6 MST yang tertingi pada parameter N3Z3, yaitu 134,72 dan terendah pada perlakuan N1Z1, yaitu 121,30.


Jumlah daun (helai)
Dari tabel sidik ragam diketahui bahwa pemberian pupuk Nitrogen dan pupuk Zink tidak berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah daun 6 MST.
Jumlah daun dapat dilihat pada tabel 3:
Tabel 3. Data Pengamatan Jumlah Daun 6 MST
(Data tidak tersedia)
Tabel 4.Sidik Ragam Jumlah Daun 6 MST

Gambar 2. Grafik Jumlah Daun 6 MST (helai).
Dari tabel 3 diketahui bahwa pada pemberian pupuk Nitrogen dan pupuk Zink terhadap parameter jumlah daun tanaman 6 MST yang terbanyak pada parameter N3Z2, yaitu 7,27 dan terendah pada perlakuan N0Z2, yaitu 5,33.

Diameter Batang (gram)
Dari tabel sidik ragam diketahui bahwa pemberian pupuk Nitrogendan pupuk Zinc tidak berpengaruh nyata terhadap parameter diameter batang.
Diameter batang tanaman dapat dilihat pada tabel 5:



Tabel 5. Data Pengamatan Diameter Batang Tanaman
(Data tidak tersedia)
Tabel 6. Sidik Ragam Diameter Batang 6 MST

Gambar 3. Grafik Diameter Batang 6MST (cm).
Dari tabel 5 diketahui bahwa pada pemberian pupuk Nitrogen dan pupuk Zink terhadap parameter diameter batang tanaman 6 MST yang terlebar pada parameter N3Z2, yaitu 7,27 dan terendah pada perlakuan N0Z2, yaitu 5,33.

Produksi Per Sampel (gram)
Dari tabel sidik ragam diketahui bahwa tidak ada pemberian pupuk Nitrogen dan pupuk Zink tidak berpengaruh nyata terhadap parameter produksi per sampel.
Data produksi persampel dapat dilihat pada tabel 7:
Tabel 7. Data Pengamatan Produksi Per Sampel
(Data tidak tersedia)
Tabel 8. Sidik Ragam Produksi Per Sampel
Gambar 4. Grafik Produksi Per Plot.

Dari tabel 7 diketahui bahwa pada pemberian pupuk Nitrogen dan pupuk Zink terhadap parameter produksi per sampel yang terbanyak pada parameter N3Z3, yaitu 678,00 dan terendah pada perlakuan N0Z2, yaitu 470,00.

Pembahasan
Dari data percobaan dapat dilihat bahwa pemberian pupuk Nitrogen tidak berpengaruh nyata pada semua parameter. Dimana Nitrogen berperan meningkatkan laju pertumbuhan tanaman, meningkatkan sintesis protein, pembentukan klorofil yang menyebabkan wama daun menjadi lebih hijau dan meningkatkan ratio pucuk akar. Oleh karena itu pemberian nitrogen yang optimal dapat meningkatkan laju pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur http://www.acehpedia.org (2009) yang menyatakan bahwa Nitrogen berperan meningkatkan laju pertumbuhan tanaman. Engelstad (1997) mengatakan bahwa pemberian nitrogen yang optimal dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, meningkatkan sintesis protein, pembentukan klorofil yang menyebabkan wama daun menjadi lebih hijau dan meningkatkan ratio pucuk akar. Oleh karena itu pemberian nitrogen yang optimal dapat meningkatkan laju pertumbuhan tanaman
Dari data percobaan dapat dilihat bahwa pemberian pupuk Zink tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter. Dimana Fungsi unsur hara seng bagi tanaman adalah : dalam jumlah yang sangat sedikit dapat berperan dalam mendorong perkembangan pertumbuhan, diperkirakan persenyawaan Zn berfungsi dalam pembentukan hormon tumbuh (auxin) dan penting bagi keseimbangan fisiologis, berperan dalam pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan biji/buah. Hal ini sesuai literatur http://Pusri.wordpress (2007) yang menyatakan bahwa fungsi unsur hara seng bagi tanaman adalah : dalam jumlah yang sangat sedikit dapat berperan dalam mendorong perkembangan pertumbuhan, diperkirakan persenyawaan Zn berfungsi dalam pembentukan hormon tumbuh (auxin) dan penting bagi keseimbangan fisiologis, berperan dalam pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan biji/buah.

Dari data percobaan dapat dilihat bahwa interaksi pemberian pupuk Nitrogen dan Pupuk Zink tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter. Dimana jika terjadi kekurangan nitrogen tanaman tumbuh lambat dan kerdil. Daunnya berwarna hijau muda, sementara itu daun-daun yang lebih tua menguning dan akhirnya kering. Di dalam tubuh tanaman, nitrogen bersifat dinamis (mobile) sehingga jika terjadi kekurangan nitrogen pada pucuk. Nitrogen yang terjadi pada daun tua akan dipindahkan ke organ yang lebih muda dengan demikian, pada daun-daun yang lebih tua gejala kekurangan nitrogen akan terlihat lebih awal, sementara di lapangan hal ini tidak terjadi sehingga pengaruhnya tidak nyata. Hal ini sesuai dengan literatur Novizan (2002) yang menyatakan bahwa jika terjadi kekurangan nitrogen tanaman tumbuh lambat dan kerdil. Daunnya berwarna hijau muda, sementara itu daun-daun yang lebih tua menguning dan akhirnya kering. Di dalam tubuh tanaman, nitrogen bersifat dinamis (mobil) sehingga jika terjadi kekurangan nitrogen pada pucuk. Nitrogen yang terjadi pada daun tua akan dipindahkan ke organ yang lebih muda dengan demikian, pada daun-daun yang lebih tua gejala kekurangan nitrogen akan terlihat lebih awal.









KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pemberian pupuk Nitrogen tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung manis (Zea mays Saccharata Strut L.) dimana produksi terbaik ada pada perlakuan N3, yaitu 246,00 g.
2. Pemberian pupuk Zink tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung manis (Zea mays Saccharata Strut L.) dimana produksi terbaik ada pada perlakuan Z3, yaitu 244,00 g.
3. Interaksi pemberian pupuk Nitrogen dan Zink tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung manis (Zea mays Saccharata Strut L.) dimana nilai rataan produksi terbaik ada pada interaksi perlakuan N3Z3, yaitu 226,00 g.

Saran
Diharapkan pada percobaan berikutnya varietas yang digunakan diganti oleh varietas baru agar terjadi variasi varietas.



DAFTAR PUSTAKA
Calvin, C. L., and Knutson, D. M., 1985. Modern Home Gardening. Jhon Wiley and Sons, New York

Decoteau, D. R., 2000. Vegetable Crops. Prentice-Hall, Inc., New Jersey

Gardner, F. P., R. B. Pearce., dan R. L. Mitchell., 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Terjemahan Herawati Susilo. UI-Press, Jakarta

Hakim, N., M. Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S. G. Nugroho, M. A. Diha, G. B. Hong, dan H.H. Bailey., 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung, Lampung

Hasibuan, B. E., 2006. Dasar Ilmu Tanah. USU-Press, Medan.

http://faperta-unswagati.com/PDF%20Agrijati/PDF%20AGRI%20V4.1/05%20
Subandi%20Nur.pdf. 2009. Pupuk Nitrogen. Diakses pada tanggal 16 Mei 2009. 1 Pages

http://id.wikipedia.org/wiki/jagung, 2008. Jagung. Diakses pada tanggal 16 Mei 2009. 4 Pages

http://Pusri.wordpress/ 2007/10/01 Khasiat-unsur-hara-bagi-tanaman, 2007. Khasiat Unsur Hara Bagi Tanaman. Diakses dari Pada tanggal 16 Mei 2009. 7 Pages

Jumin, H. B., 2008. Dasar-Dasar Agronomi. Edisi Revisi. Pt Raja Grafindo Persada, Jakarta

Kartasapoetra, A. G. 1988. Teknologi Budidaya Tanaman Pangan di Daerah
Tropik. Bina Aksara. Jakarta

Lingga, P dan Marsono., 2005. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Edisi Revisi. Penebar Swadaya, Jakarta.

Mas’ud, P., 1992. Telaah Kesuburan Tanah. Angkasa, Bandung.

Najiyati, S., dan Danarti., 1999. Palawija Budidaya dan Analisis Usahatani. Penebar Swadaya, Jakarta

Novizan, 2002. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Nurmala, T., 2000. Serealia Sumber Karbohidrat Utama. Rineka Cipta, Jakarta

Rubatzky, V. E., dan M. Yamaguchi., 1995. Sayuran Dunia. Prinsip, Produksi, dan Gizi. Jilid Kesatu. Terjemahan Catur Herison. ITB-Press, Bandung

Rukmana, R., 1997. Usahatani Jagung. Kanisius, Yogyakarta

Sherf, A. F., and A. A. Macnab., 1986. Vegetable Disease and Their Control. Second Edition. John Wiley and Sons, New York


Splittstoesser, W. E., 1984. Vegetable Growing Handbook. Second Edition. Published by Van Nostrand Reinhold Company, New York

Subekti, N. A., Syafruddin., R. Efendi., dan S. Sunarti., 2008. Morfologi Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros

Sumoprastowo, R. M., 1998. Memilih dan Menyimpan Sayur-Mayur, Buah-Buahan, dan Bahan Makanan. Bumi Aksara, Jakarta

Sutarya, R., dan G. Grubben., 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah. UGM-Press, Yogyakarta

Tim Penulis PS, 2000. Sweet Corn Baby Corn. Penebar Swadaya, Jakarta

pengaruh pemberian pupuk kimia pada tanah ultisol Mancang terhadap pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays L.) dengan metode substraksi minus one test

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KIMIA PADA TANAH ULTISOL MANCANG TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DENGAN METODE SUBSTRAKSI MINUS ONE TEST



LAPORAN




OLEH:

JUNITA SINAMBELA/ 070301054
BDP - AGRONOMI
IV















LABORATORIUM KIMIA DAN KESUBURAN TANAH
DEPARTEMEN ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
2 0 0 9
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KIMIA PADA TANAH ULTISOL MANCANG TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DENGAN METODE SUBSTRAKSI MINUS ONE TEST

LAPORAN


OLEH:

JUNITA SINAMBELA/ 070301054
BDP - AGRONOMI
IV

Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Pra Praktikal Test
di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan














LABORATORIUM KIMIA DAN KESUBURAN TANAH
DEPARTEMEN ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
2 0 0 9
PENDAHULUAN



Latar Belakang


Ultisol berasal dari kata ultus artinya akhir, perkembangan tanah pada tingkat akhir atau tanah-tanah tua. Pada tanah-tanah ini terjadi akumulasi liat, pada horizon bawah, kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah rendah, kurang dari 35% dan pHnya rendah (asam). Tanah seperti ini banyak dijumpai di Indonesia yang dulu dikenal dengan nama Podzolik Merah Kuning (PMK). Bisa juga tanah ini termasuk latosol (Hasibuan, 2006).

Unsur hara mineral dapat dibedakan atas unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg, S) dan unsur hara mikro (Fe, Mn, Al, Cu, Zn, Mo, B, Cl). Kedua kelompok unsur tersebut essensial untuk pertumbuhan tanaman. Perberdaannya adalah kandungannya di dalam jaringan tanaman. Kelimpahan unsur (atau kepentingannya) untuk pertumbuhan tanaman tidak direfleksikan berdasarkan banyaknya di dalam tanah. Beberapa unsur hara mikro, seperti Fe, terdapat dalam jumlah yang cukup banyak. Unsur yang lain seperti Al juga cukup banyak di dalam tanah yang bereaksi asam, tetapi tidak dimanfaatkan oleh tanaman (Sutanto, 2005).

Tanah mempengaruhi pertumbuhan tanaman melalui beberapa faktor yaitu (1)suhu, (2)air, (3)udara, dan (4)unsur-unsur hara. Keempat faktor tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan sesamanya. Dengan demikian kekurangan salah satu faktor tersebut dapat menyebabkan terbatasnmya produksi tanaman. Hal ini kemudian dikenal dengan prinsip faktor pembatas yaitu tingkat produksi tidak akan lebih tinggi dari apa yang dicapai tanaman yang tumbuh dalam keadaan dengan faktor-faktor yang paling minimum (Hakim, dkk., 1986).

Unsur hara dalam tanah mempunyai daur yang berbeda antara unsur hara yang satu dan unsur hara lainnya. Ada pengusahaan tanah dengan daur yang tertutup. Artinya, tanah tidak mendapat masukan berupa pupuk dari luar. Hara yang berada di dalam tanah berasal dari hasil mineralisasi sisa tanaman yang hidup di atasnya, misalnya pada tanah yang dijadikan hutan lindung, hutan produksi, dan juga hutan yang dijadikan suaka margasatwa. Dengan demikian tanaman yang hidup di atasnya berswasembada hara tanaman. Keperluan unsur dapat dipenuhi tanaman sendiri dengan meruntuhkan daun, ranting, buah, akar, batang dan sebagainya ke tanah yang kemudian dirombak oleh biologi dan mikrobiologi tanah. Dalam proses perombakan ini sebagian menjadi humus tanah dan sebagian lagi mengalami proses mineralisasi, sisa tanaman akan melepaskan hara yang diperlukan oleh tanaman dalam jumalah dan macam yang sangat bervariasi. Unsur N, P, K, Ca, Mg, dan S yang dilepaskan ke dalam tanah antara lain berupa ion-ion NH4+, NO3‾, PO43‾, H2PO4‾, HPO42‾, K+(K2O), Ca2+ (CaO), Mg2+ (MgO), dan SO42‾ (Rosmarkam dan Nasih, 2002).

Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah yang khusus, hampir berbagai macam tanah dapat digunakan untuk pertanaman jagung. Tetapi jagung yang ditanaman pada tanah yang genbur, subur dan kaya akan humus dapat memberi hasil dengan baik di samping pengelolaan yang bagus akan membantu keberhasilan usaha pertanaman jagung (AAK, 1993).



Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk kimia pada tanah ultisol mancang terhadap pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays L.) dengan metode substraksi minus one test.

Hipotesa Percobaan

Diduga pemberian pupuk kimia dengan metode substraksi minus one test dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays L.) pada tanah Ultisol Mancang.

Kegunaan Percobaan


- Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
- Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.













TINJAUAN PUSTAKA



Sifat dan Ciri Ultisol


Ultisol adalah tanah yang telah berkembang dengan profil A/E/Bt/C. Dibentuk oleh kombinasi proses literalisasi dan podsolisasi, dengan penekanan pada literalisasi, di daerah humid panas hingga humid tropis, dimana proses pencucian sangat menonjol. Di bawah kondisi ini tanah sangat terlapukkan dan horizon A terakumulasi oleh sejumlah Fe oksidasi yang mengakibatkan warna kuning hingga merah (Musa, dkk., 2006).
Ciri tanah ultisol yang terutama menjadi kendala bagi budaya tanaman ialah : 1) pH randah; 2) Kejenuhan Al tinggi; kemungkinan besar juga Fe dan Mn aktif tinggi; 3) Lempung beraktivitas rendah (LAC) bermuatan terubahkan (variable charge); 4) Daya semat terhadap fosfat kuat; 5) Kejenuhan basa rendah; kadar Cu rendah dalam tanah yang berasal dari bahan induk masam (feksil) atau batuan pasir, sedang kadar Zn biasanya cukup namun cenderung terillusiasi dalam horizon B; 6) kadar bahan organic rendah dan itupun terlonggok dalam lapisan permukaan tipis (horizon A tipis) dan dengan sendirinya kadar N pun rendah serta terbatas dalam lapisan permukaan tipis-tipis itu; 7) Daya simpan air terbatas; 8) Jeluk (depth) efektif terbatas, terutama pada aerosol yang horizon ariliknya berkembang tegas dan dangkal; 9) Derajat agresi rendah dan kemantapan agregat lemah yang menyebabkan tanah rendah (susceptible) terhadap erosi yang menjadi kendala pada lahan belerang, baik pada lahan belerang, maupun pada lahan yang datar (Notohadiprawiro, 2006).
Dengan manajemen tingkat tinggi, ultisol dapat menjadi beberapa tanah produktif di dunia. Ultisol berada di area yang bebas dingin untuk periode/waktu yang lama dan juga di area humid (lengas) dengan curah hujan yang cukup untuk pertanian atau ketersediaan air yang cukup untuk irigasi. Bagaimanapun, ketersediaan nutriennya walaupun lebih baik daripada oxisols adalah relatif rendah sampai sedang. Keduanya penyuburan dan pengapuran adalah fakta/keharusan jika pengolahan lanjutan adalah untuk produksi hasil sedang hingga tinggi. Hasil yang optimum di area ini dengan syarat manajemen pemupukan yang baik, alternatif pengapuran, dan seleksi tanaman yang akan dikembangkan. Juga, pengendalian populasi serangga / hama dan penyakit cendawan pada iklim hangat basah (Donahue, et al., 1977).
Tanah yang memiliki horison argilik dengan kejenuhan basa rendah (<35%) yang menurun sesuai dengan kedalaman tanah; tidak mempunyai lidah-lidah yang menembus horison albik dan oksik. Tanah ini sudah berkembang lanjut di bentang lahan yang tua dan stabil atau bahan induk yang terlapuk lanjut. Tanah yang ekuivalen adalah lateritik cokelat-kemerahan dan podsolik merah-kuning (Sutanto, 2005). Secara definisi Ultisol dibatasi di area yang temperatur medium tahunan adalah 8 C (47 F) atau lebih panas; dan jika pertngahan musim panas dan pertengahan musim dingin adalah 15 C (59 F) atau lebih panas jika dengan sebuah horison O atau 8 C (47 F) atau lebih panas jika tanpa sebuah horison O. Ultisol adalah tanah yang memiliki status dasar asam. Dasar saturasinya (dengan metode penjumlahan kation) adalah lebih dari 35 % pada 1,25 m (50 inci) di bawah batas tertinggi dari horison argilik atau 1,8 m (72 inci) di bawah permukaan, atau pada sebuah kontak litik atau paralitik yang mana adalah lebih dangkal (Buol, et al., 1980) Unsur Hara Nitrogen (N) Nitrogen adalah unsur hara makro utama yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak, diserap tanaman dalam bentuk ammonium (NH4+) dan nitrat (NO3+). Sumber N tidak diperoleh dari batuan dan mineral tapi berasal dari hasil pelapukan bahan organis, dari udara melalui fiksasi N oleh mikroorganisme baik yang bersimbiosa dengan akar tanaman leguminosa seperti bakteri Rhizobium atau tidak seperti bakteri Azobacter dan Clostridium. Sumber lain dari nitrogen di dalam tanah melalui air hujan dan melalui pupuk buatan seperti urea atau ZA (Hasibuan, 2006). Posfor (P) Fosfor merupakan unsur yang diperlukan dalam jumlah besar (hara makro). Jumlah fosfor dalam tanaman lebih kecil dibandingkan dengan nitrogen dan kalium. Tetapi, fosfor dianggap sebagai kunci kehidupan (key of life). Tanaman menyerap fosfor dalam bentuk ion ortofosfat primer ( H2PO4-) dan ion ortofosfat sekunder (HPO4=). Menurut Tisdak (1985), kemungkinan P masih dapat diserap dalam bentuk lain, yaitu bentuk finofosfat dan metafosfat. Bahkan, ada pendapat lain (Thomson, 1982) bahwa kemungkinan P diserap dalam bentuk senyawa fosfat organik yang larut air, misalnya asm nukleat dan phitin (Rosmarkam dan Nasih, 2002). Kalium (K) Potassium terjadi sebuah kation sederhana (K+) seluruhnya pada system tanah dan tumbuhan. Potassium adalah lebih mobil dan oleh karena itu, pokok persoalan yang sesungguhnya tercuci pada tanah berpasir, khususnya jika pH relative rendah. Potassium terjadi pada pertukaran kompleks dari semua tanah tetapi untuk sebuah tingkat yang jauh lebih besar pada tanah berliat (Sopher dan Jack, 1982). Kalsium (Ca) Kalsium dibutuhkan oleh semua tanaman tingkat tinggi; diserap dalam bentuk ion-ion Ca2+, terdapat dalam jumlah tinggi pada bagian daun, dan pada beberapa species tanaman mengendap sebagai Ca-oksalat di dalam sel-sel. Kekurangan Ca pada tanaman dapat menyebabkan gangguan pada pembentukan pucuk tanaman dan ujung-ujung akar. Sehingga dengan kedua fenomena tersebut pertumbuhan tanaman dapat terhenti (Nyakpa, dkk., 1988). Magnesium (Mg) Sumber magnesium dalam tubuh tanah meliputi : a) silikat, seperti : augit, biotit, diopsit, hornblende, klorit, olivin dengan serpentin, talk, turmalin, vermikulit, b) oksida, seperti : magnesium oksida, C) karbonat seperti: dolomit, d) hidroksida, seperti brusit (magnesium hidroksida), dan e) sulfat: kiserit (MgSO4¬.H2O) dan langbeinit (K2SO4.2HgSO4). Magnesium diserap akar tanaman dalam bentuk ion Mg++. Anasir magnesium ini merupakan pelikan penyusun molekul khlorofil yang terletak pada pusat molekul dan mempunyai peranan penting dalam pembentukan klorofil (Mas’ud, 1992). Defisiensi Unsur Hara Nitrogen (N) Gejala tanaman yang mengalami defisiensi N adalah : pertumbuhan tanaman lambat. Mula-mula daun menguning dan mengering, lalu rontok. Daun yang menguning diawali dari daun bagian bawah, lalu disusul daun bagian atas. Posfor (P) Gejala tanaman yang mengalami defisiensi P adalah : daun bawah berubah warna menjadi tua atau tampak mengilap merah keunguan. Kemudian menjadi kuning keabuan, dan rontok. Tepi daun, cabang dan batang berwarna merah ungu, kemudian menjadi kuning. Batang kerdil dan tidak menghasilkan bunga dan buah. Jika sudah terlanjur berbuah, ukurannya kecil, jelek dan tidak tahan lama adalah gejala tanaman yang mengalami defisiensi K. Kalium (K) Defisiensi kalium memang agak sulit diketahui, karena gejala ini jarang tampak ketika tanaman masih muda. Gejala yang terdapat pada daun terjadi secara setempat-setempat. Pada permulaannya tampak agaka mengerut dan kadang-kadang mengkilap, selanjutnya sejak ujung dang tepi daun agak menguning Kalsium (Ca) Defisiensi Ca pada tanaman ditandai oleh tepi daun muda mengalami klorosis, lalu menjalar ke tulang daun. Kuncup tanaman muda tidak berkembang dan mati. Terdapat bintik hitam pada serat daun, akar pendek, buah pecah dn bermutu rendah. Magnesium (Mg) Tanaman yang membutuhkan pupuk Mg mengalami gejala-gejala sebagai berikut : daun tua menglami klorosis, menguning dan bercak cokelat, hingga akhirnya rontok. Pada tanaman yang menghasilkan biji akan menghasilkan biji yang lemah (Redaksi Agromedia, 2007). Tanaman Jagung Jagung (Zea mays L.) termasuk ordo Zea dan famili Poaceae. Tanaman ini mempunyai tinggi batang antara 60-300 cm. Batangnya berbentuk bulat atau agak pipih, beruas-ruas dan umumnya tidak bercabang. Sistem perakaran jagung terdiri atas akar primer, akar lateral, akar horizontal, dan akar udara. Daun jagung tumbuh di setiap ruas batang. Daun ini berbentuk pipa, mempunyai lebar 4-15 cm dan panjang 30-150 cm,serta didukung oleh pelepah daun yang menyelubungi batang. Jagung mempunyai dua jenis bunga yang berumah satu. Bunga jantan tumbuh di ujung batang dan tersusun dalam malai. Bunga betina tersusun dalam tongkol dan tertutup oleh klobot. Bunga ini muncul dari ketiak daun yang terletak pada pertengahan batang (Najiyati dan Danarti, 1999). Jagung manis beradaptasi cukup baik terhadap iklim bebas bunga es dan ditanam hingga lintang sejauh 50o dari khatulistiwa. Namun, jagung manis tidak beradaptasi dengan baik pada kondisi tropika basah. Hampir selalu ditanam langsung, benih ditanam dengan kedalaman 3-5 cm. Jarak tanam rata-rata jagung manis umumnya 20-25 cm dalam barisan, dan 15-90 cm antar barisan. Penanaman berkelompok (hill) yang terdiri dari beberapa batang tanaman dalam satu lubang tanam dilakukan dengan jarak tanam yang lebih lebar. Jarak tanam yang terlalu renggang dapat meningkatkan kemampuan tanaman untuk menghasilkan tongkol ganda (dua tongkol per tanaman) (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998). Sweet corn sangat cocok ditanam di daerah yang sejuk dan cukup dingin. Tanaman ini tumbuh baik mulai dari 50oLU – 40oLS dengan ketinggian tempat 3000 m dpl. Faktor-faktor iklim yang paling mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah curah hujandan suhu. Secara umum, sweet corn memerlukan air sebanyak 200-300mm/bulan, sedangkan selama pertumbuhannya selama 300-600 mm. Keadaan suhu yang baik untuk pertumbuhan sweet corn adalah 21-30oC. Namun pada suhu rendah 16oC dan suhu tinggi 35oC, sweet corn masih dapat tumbuh. Suhu optimum untuk perkecambahan benih berkisar antara 21-27oC (Tim Penulis PS, 2002). Tanah sebagai tempat tumbuh tanaman jagung harus mempunyai kandungan hara yang cukup. Tersedianya zat makanan di dalam tanah sangat menunjang proses pertumbuhan tanaman hingga menghasilkan/berproduksi (AAK, 1993). Derajat kemasaman tanah (pH yang paling baik untuk tanaman jagung hibrida adalah pH 5,5-7,0. Pada pH netral, unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman jagung banyak tersedia didalamnya. Tanah-tanah yang pH-nya kurang dari 5,5 dianjurkan diberi pengapuran untuk menaikkan pH. Tanah yang pH-nya kurang dari 5,5 (masam) akan mengakibatkan unsur-unsur mikro (Al, Fe, Zn, Mn, Cu) banyak yang terlarut sehingga meracuni. Demikian juga unsur-unsur P banyak diikat oleh unsur Al dan Fe sehingga tidak dapat diserap oleh akar tanaman jagung. Bila pH tanah lebih dari 7,0 (alkalis), unusr P terikat oleh Ca sehingga tidak terlarut dalam air yang berakibat sulit diserap oleh akar tanaman. Jadi, pH tanah dan unsur-unsur hara yang ada (tersedia) bagi tanaman saling mengait (Warisno, 1998). BAHAN DAN METODE Tempat Dan Waktu Percobaan Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan dan di Laboratorium Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dengan ketinggian ± 25 m di atas permukaan laut. Percobaan ini dilakukan pada bulan Februari 2009 sampai dengan bulan April 2009. Bahan Dan Alat Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah benih jagung (Zea mays L.) sebagai objek percobaan, tanah ultisol sebagai media tanaman, pupuk Urea 200 mg N/1 kg TKO (0.45 gram), SP36 150 mg P/1 kg (4.771 gram), MOP 100 mg K/1 kg TKO (1.004 gram), CaCo3 50 mg Ca/1 kg TKO (0.625 gram), dan Kiesent 50 mg K/1kg TKO (1.851 gram), polybag sebagai wadah tanaman, air untuk merendam benih dan menyiram, plastic sebagai tempat pupuk, label nama sebagai penanda perlakuan, buku data sebagai tempat untuk data, tali plastik sebagai pembatas lahan percobaan, amplop untuk tempat tanaman pada saat akan diovenkan, dan bahan-bahan liannya yang mendukung dalam pelaksanaan praktikum. Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cangkul untuk mencangkul dan membersihkan tanah dari gulma, ayakan untuk mengayak tanah agar halus, karung untuk wadah tanah, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, jangka sorong untuk mengukur diameter batang tanaman, oven untuk mengoven tanaman, timbangan untuk menimbang pupuk, amplop untuk tempat tanaman dan akar tanaman yang akan di ovenkan , kalkulator untuk menghitung data, alat tulis untuk mencatat data, buku data untuk tempat mencatat data, cutter untuk memotong tanaman jagung, dan alat-alat lainnya yang dapat mendukung dalam pelaksanaan praktikum. Metode Percobaan Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan Metode Substraksi Minus One Test pada Tanaman Jagung (Zea mays L.). Prosedur Percobaan Pengambilan Contoh Tanah di Lapangan. - Diambil tanah Ultisol dari daerah Sampali pada lahan yang kosong yang luasnya 1 Ha. - Diambil tanah Ultisol secara komposit dari areal yang jauh dari tempat pembakaran, jauh dari parit dan pada areal itu tidak pernah dilakukan aplikasi pupuk. - Dicangkul tanah dengan kedalaman 15-20 cm pada 20 titik secara zig-zag. - Dikumpulkan contoh tanah, kemudian dimasukkan dalam karung. - Dikering udarakan tanah yang telah dikomposisikan. - Dilakukan pengangkutan pada tanah yang telah dikering udarakan agar tanah benar-benar kering. Perlakuan di Laboratorium - Diambil 10 g tanah sebagai contoh tanah yang akan dihitung kadar airnya dan berat tanah untuk setiap polybag dengan rumus % Ka dan % KL. BTKU – BTKO BTKU - BTKO % Ka = x 100 % % KL = x 100 % BTKO BTKO - Dihitung berat tanah untuk tiap polybag dengan rumus : BTKO = 5 + (%Ka + 5) Perlakuan di Lahan Percobaan - Diisi polybag dengan tanah yang telah diketahui beratnya. - Diberi label pada polybag yang sudah diisi tanah sesuai dengan perlakuan. - Dilakukan aplikasi pupuk pada setiap polybag sesuai dengan perlakuan . - Ditanam tanaman jagung pada polybag sebanyak 2 benih pada 1 polybag dengan kedalaman 2-3 cm. - Disiram tanaman jagung setiap hari dan penyiraman tidak dilakukan apabila hari hujan. - Disiangi gulma yang tumbuh pada areal atau lahan di dalam polybag agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman jagung. - Dihitung parameter tinggi tanaman setiap minggu. - Dihitung parameter jumlah daun setiap minggu. - Dihitung parameter diameter batang setiap minggu. - Diamati gejala visual yang terjadi. - Dicatat gejala-gejala yang tampak pada tanaman jagung pada buku data. - Data di-ACC-kan setiap pengambilan data. Denah Percobaan U B T S I II HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil No Perlakuan Parameter Tinggi Tanaman (cm) Jumlah Daun (helai) Diameter Batang (cm) 1 2 1 2 1 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kontrol Lengkap -N -P -K -Ca -Mg -NP -NK -PK -KCa -KMg -CaMg 111 150,3 180,3 95,2 154,4 156,5 153,6 105,2 126,6 104,3 127,7 151,2 159,1 100,2 170,2 130,2 145,3 164,1 162,4 162,7 95,1 144,2 93,0 148,2 151,3 193,1 7 10 13 7 11 10 12 6 8 6 9 10 10 6 10 9 8 12 12 12 6 8 6 12 10 12 1,5 2,2 2,7 1,4 2,1 1,8 2,2 1,3 1,5 1,3 1,8 1,8 1,8 1,7 2,1 1,5 1,2 2,1 2,0 1,7 2,8 1,4 1,9 1,2 2,5 2,5 Keterangan Secara Visual I II Daun kering , bolong, sebagian patah Daun patah, koyak Daun bolong, ujung kuning, koyak Daun patah, koyak Daun kering, bolong, kuning, koyak Daun patah, koyak Daun hijau, bawahnya koyak Daun bolong, patah, koyak Daun bolong, patah, lalu koyak Daun bolong, patah, koyak Daun bolong Daun bolong, koyak Daun bolong Daun bolong, koyak Daun bolong, patah, lalu koyak Daun bolong, koyak Daun bolong, patah, lalu koyak Daun bolong, koyak Daun bolong, patah, lalu koyak Daun patah Daun bolong, patah, lalu koyak Daun bolong, patah, koyak Daun kering, bolong, kuning, koyak Daun bolong, patah, koyak Daun bolong, patah, lalu koyak Daun bolong, patah, koyak Atas Perlakuan BKA I BKA II Total Rata-rata Kontrol 43,7 26,3 70 35 Lengkap 107,5 26,3 133,8 66,9 -N 44,7 177,5 222,2 111,1 -P 28,6 16,1 44,7 22,3 -K 167,3 121,4 288,7 144,3 -Ca 190,7 178,4 269,1 134,5 -Mg 145 132,7 277,7 138,8 -N,P 10,1 59,1 69,2 34,6 -N,K 78,6 64,7 143,3 71,6 -P,K 27,7 23,2 50,9 25,4 -K,Ca 121,4 55,8 177,2 88,6 -K,Mg 140,8 51,8 192,2 96,3 -Ca,Mg 145,3 64,7 210 105 Bawah Perlakuan BKB I BKB II Total Rata-rata Kontrol 51,8 57,2 109 54,5 Lengkap 473,4 363,2 908,6 454,3 -N 147,6 435,3 582,9 291,4 -P 96,8 40,8 137,6 68,8 -K 435,3 320 755,3 377,6 -Ca 383 379,7 762,7 381,3 -Mg 393,8 340,8 734,6 367,3 -N,P 83,5 120,9 204,4 102,2 -N,K 157,4 192,8 350 175,1 -P,K 115,2 114,8 230 115 -K,Ca 403,6 91, 7 7495,3 247,6 -K,Mg 312,8 286,3 599,1 299,5 -Ca,Mg 302,9 262,3 265,2 132,6 Perbandingan % Terhadap Lengkap No Perlakuan Parameter Tinggi Tanaman (%) Jumlah Daun (%) Diameter Batang (%) 1 2 1 2 1 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kontrol -N -P -K -Ca -Mg -NP -NK -PK -KCa -KMg -CaMg 73,85 119,96 63,33 102,72 104.12 102.19 69,99 84,23 69,39 84,96 100,59 105,85 58,87 76,49 85,37 96,41 95,41 95,59 55,87 84,72 54,64 87,07 88,89 113,45 70 130 70 110 100 120 60 80 60 90 100 100 60 90 80 120 120 120 60 80 60 120 100 120 68,18 122,72 63,63 95,45 81,81 100 59,09 68,18 59,09 81,81 81,81 81,81 80,95 68,18 57,14 100 95,23 80,59 133,33 66 90,47 57,14 119.04 119,04 Keterangan : 0-20 % : Gawat 21-50% : Berat 51-89% : Sedang >89% : Cukup











Pembahasan

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa defisiensi hara P sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Dapat diketahui bahwa tanaman dengan perlakuan –P (63,33% & 85,37%), -NP (69,99% & 55,87%), dan –PK (69,39% & 54,64%) dengan kriteria defisiensi sedang. Pada perlakuan selain –P dan –P kombinasi defisiensi hara tidak begitu berarti. Jadi dapat disimpulkan bahwa tanah ultisol mempu menyerap baik unsur P dari pemupukan yang dilakukan. Hal ini sesuai dengan literatur Notohadiprawiro (2006) yang menyatakan salah satu cirri tanah ultisol adalah daya semat terhadap fosfat kuat.
Berdasarkan percobaan tersebut juga diketahui bahwa pemupukan berdampak baik pada produktivitas sebesar 26,15% yaitu dari perbandingan persentase control dan perlakuan pemupukan lengkap. Melalui manajemen yang tepat, tanah ultisol merupakan jenis tanah yang produktif dibandingkan jenis tanah yang lain untuk pengembangan pertanian. Hal ini sesuai dengan literature Donahue,et al.(1977) yang menyatakan bahwa dengan manajemen tingkat tinggi, ultisol dapat menjadi beberapa tanah produktif di dunia. Ultisol berada di area yang bebas dingin untuk periode/waktu yang lama dan juga di area lembab (lengas) dengan surah hujan yang cukup untuk pertanian atau ketersediaan air yang cukup untuk irigasi.
Dengan mengacu pada data di atas, diketahui bahwa perlakuan dengan minus tidak menyebabkan tanaman mengalami defisiensi unsur K. Hal ini mengarah kepada fakta bahwa tanah ultisol memiliki jumlah dan ketersediaan K yang cukup. Potassium/ kalium terjadi pada pertukaran kompleks dan terdapat banyak pada tanah dengan kandungan liat tinggi. Hal ini sesuai dengan literature Sopher dan Jack (1982) yang menyatakan bahwa potassiumterjadi pada pertukaran kompleks dari semua tanah tetapi untuk sebuah tingkat yang jauh lebih besar pada tanah berliat.
Melalui pengamatan visual yang dilakukan dapat diketahui bahwa tanaman yang mengalami defisiensi P akan menunjukkan gejala berupa warna daun yang berubah menjadi hijau keunguan. Hal ini sangat nampak pada awal-awal pertumbuhan tanaman. Defisiensi unsur P terjadi pada perlakuan control, -P, -NP, dan –PK. Daun bagian bawah (yang lebih tua) berwarna keunguan sebagai pertanda mengalami kekurangan unsur hara P. Hal ini sesuai dengan literature Redaksi Agromedia (2007) bahwa gejala tanaman yang mengalami defisiensi P adalah : daun bawah berubah warna menjadi tua atau tampak mengilap merah keunguan. Kemudian menjadi kuning keabuan dan rontok. Tepi daun, cabang, dan batang berwarna merah ungu, kemudian menjadi kuning. Batang kerdil dan tidak menghasilkan bunga dan buah.
Berdasarkan percobaan tersebut dapat diketahui bahwa kandungan hara pada tanah ultisol sebagai media tumbuh tanaman jagung sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung tersebut. Jagung memerlukan kandungan hara yang cukup pada tanah ultisol tersebut untuk menjamin tersedianya zat makanan untuk pertumbuhan dan produksi tanaman jagung. Hal ini sesuai dengan literature AAK (1993) bahwa tanah sebagai tempat tumbuh tanaman jagung harus mempunyai kandungan hara yang cukup. Tersedianya zat makanan di dalam tanah sangat menunjang proses pertumbuhan tanaman hingga menghasilkan/berproduksi.
KESIMPULAN



1. Pemberian pupuk kimia berpengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays L.) pada tanah Ultisol Mancang.
2. Ultisol Mancang mengalami kahat/defisiensi P dengan kriteria sedang.
3. Tanah Ultisol memerlukan manajemen yang baik untuk meningkatkan produktivitasnya.
4. Ultisol merupakan salah satu jenis tanah berliat yang memiliki kandungan unsur K yang cukup.
5. Tanaman akan menunjukkan gejala defisiensi unsur hara secara morfologis sebagai reaksi dari proses-proses fisiologis tanaman.













DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1993. Jagung. Kanisius. Yogyakarta
Buol, S.W., F.D.Hole, R.J. McCracken. Soil Genesis and Classification. The
Iowa State University Press. Ames

Donahue, R.L., Raymond W.M., and John C.S. 1977. Soil An Introduction To
Soils and Plant Growth. Prentice Hall inc. Englewood Cliffs. New Jersey

Hakim, N.,dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung. Bandar Lampung

Hasibuan, B.E. 2006. Ilmu Tanah. USU Press. Medan

Mas’ud, P. 1992. Telaah Kesuburan Tanah. Angkasa. Bandung

Musa, dkk. Dasar Ilmu Tanah. USU Press. Medan

Najiyati, S. dan Danarti. 1999. Palawija Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Penerbar Swadaya. Jakarta

Notohadiprawiro, T. 2006. Ultisol. Fakta dan Implikasi Pertaniannya. UGM
Press. Yogyakarta

Nyakpa, M.Y.,dkk. 1988. Kesuburan Tanah. Penerbit Universitas Lampung. Bandar Lampung

Redaksi Agromedia. 2007. Pupuk dan Pemupukan. Agromedia Pustaka. Jakarta

Rosmarkam, A. dan Nasih W.Y. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta

Rubatzky. V.E. dan Mas Yamaguchi. Sayuran Dunia, Prinsip Produksi dan Gizi. Jilid Pertama. Penerbit ITB. Bandung

Sopher, C.D. dan Jack V.B. 1982. Soil and Soils Management. Reston Publishing Company,Inc. A Prentice-Hall Company. Reston-Virginia

Sutanto, R. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Konsep dan Kenyataan. Kanisius. Yogyakarta

Tim Penulis PS. 2002. Sweet Corn Baby Corn. Penebar Swadaya. Jakarta

Warisno. 1998. Jagung Hibrida. Kanisius. Yogyakarta