PENGARUH MEDIA TANAM PADA PERKECAMBAHAN BENIH KAKAO (Theobroma cacao L.)
LAPORAN
OLEH :
JUNITA SINAMBELA/070301054
BDP-AGRONOMI
III
LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN II
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
PENGARUH MEDIA TANAM PADA PERKECAMBAHAN BENIH KAKAO (Theobroma cacao L.)
LAPORAN
OLEH :
JUNITA SINAMBELA/070301054
BDP-AGRONOMI
III
Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan II Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan
LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN II
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
RINGKASAN PERCOBAAN
Percobaan ini dilakukan di laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dengan ketinggian tempat 25 m di atas permukaan laut. Percobaan ini dilakukan mulai bulan Agustus hingga November 2009.
Adapun judul dari percobaan ini adalah “Pengaruh Media Tanam Pada Perkecambahan Benih Kakao (Theobroma cacao L.)”. Benih yang ditanam pada percobaan ini adalah benih kakao.
Metode percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) non faktorial yaitu media tanam, dimana : Tanah (M0), Pasir + Tanah (M1) dan pasir (M2).
Dari hasil percobaan yang dilakukan diperoleh bahwa rataan persentase perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu sebesar 100 % dan terendah terdapat pada perlakuan M2 yaitu sebesar 66,60 %. Rataan laju perkecambahan tercepat terdapat pada perlakuan M2 yaitu sebesar 4,5 hari dan terlama pada perlakuan M1 yaitu sebesar 3,33 hari. Dari hasil percobaan juga diketahui bahwa perlakuan media tanam tidak berpengaruh nyata pada parameter rataan tinggi kecambah 1, 3, dan 4 MST. Rataan tinggi tanaman tertinggi pada 4 MST terdapat pada perlakuan M1 yaitu 32 cm dan terendah pada perlakuan M0 yaitu 21.58 cm. Perlakuan media tanam juga tidak berpengaruh nyata pada parameter diameter batang 1, 2, dan 4 MST. Rataan diameter batang tertinggi pada 4 MST terdapat pada perlakuan M1 yaitu 1,4 mm dan terendah pada perlakuan M0 yaitu 1 mm.
RIWAYAT HIDUP
Junita Sinambela lahir pada tanggal 2 April 1989 di Medan. Anak pertama dari empat bersaudara. Anak dari Bapak P. Sinambela dan Ibu N. Manurung.
Adapun pendidikan yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut:
SD Negeri 050721 di Gohor Lama Tamat tahun 2001
SMP Negeri 1 di Hinai Tamat tahun 2004
SMA Negeri 1 di Stabat Tamat tahun 2007
Penulis terdaftar sebagai mahasiswi di Departemen Budidaya Pertanian Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan melalui jalur SPMB pada pilihan pertama pada tahun 2007 sampai sekarang.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Esa karena atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.
Adapun judul dari laporan ini adalah “Pengaruh Media Tanam pada Perkecambahan Benih Kakao (Theobroma cacao L.)” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan II Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Balonggu Siagian, MS, Ir. Sanggam Silitonga, MS dan Ir. Lisa Mawarni, MP selaku dosen mata kuliah Agronomi Tanaman Perkebunan II serta kepada abang dan kakak asisten yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Medan, November 2009
Penulis
DAFTAR ISI
RINGKASAN PERCOBAAN i
RIWAYAT HIDUP ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR LAMPIRAN vii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Percobaan 2
Hipotesis Percobaan 2
Kegunaan Percobaan 3
TINJAUAN PUSTAKA 4
Botani Tanaman 4
Syarat Tumbuh 6
Iklim 6
Tanah 8
Media Tanam 8
BAHAN DAN METODE PERCOBAAN 11
Tempat dan Waktu Percobaan 11
Bahan dan Alat 11
Metode Percobaan 12
PELAKSANAAN PERCOBAAN 14
Persiapan Media Tanam 14
Penanaman 14
Pemeliharaan Benih 14
Penyiraman 14
Penyiangan 14
Pengamatan Parameter 15
Persentase Perkecambahan (%) 15
Laju Perkecambahan (hari) 15
Tinggi Kecambah (cm) 15
Diameter Batang (mm) 15
HASIL DAN PEMBAHASAN 16
Hasil 16
Pembahasan 19
KESIMPULAN DAN SARAN 21
Kesimpulan 21
Saran 21
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
No. Keterangan Hal.
1. Rataan Tinggi Kecambah (cm) 5 MST 18
2. Rataan Diameter Batang (mm) 5 MST 19
DAFTAR LAMPIRAN
No. Keterangan Hal.
1. Persentase Perkecambahan (%) 23
2. Laju Perkecambahan (hari) 23
3. Rataan Tinggi Kecambah (cm) 1 MST 24
4. Daftar Sidik Ragam Rataan Tinggi Kecambah (cm) 1 MST 24
5. Rataan Tinggi Kecambah (cm) 2 MST 24
6. Daftar Sidik Ragam Rataan Tinggi Kecambah (cm) 2 MST 24
7. Rataan Tinggi Kecambah (cm) 3 MST 25
8. Daftar Sidik Ragam Rataan Tinggi Kecambah (cm) 3 MST 25
9. Rataan Tinggi Kecambah (cm) 4 MST 25
10. Daftar Sidik Ragam Rataan Tinggi Kecambah (cm) 4 MST 25
11. Rataan Tinggi Kecambah (cm) 5 MST 26
12. Daftar Sidik Ragam Rataan Tinggi Kecambah (cm) 5 MST 26
13. Rataan Diameter Batang (mm) 2 MST 26
14. Daftar Sidik Ragam Rataan Diameter Batang (mm) 2 MST 26
15. Rataan Diameter Batang (mm) 3 MST 27
16. Daftar Sidik Ragam Rataan Diameter Batang (mm) 3 MST 27
17. Rataan Diameter Batang (mm) 4 MST 27
18. Daftar Sidik Ragam Rataan Diameter Batang (mm) 4 MST 27
19. Rataan Diameter Batang (mm) 5 MST 28
20. Daftar Sidik Ragam Rataan Diameter Batang (mm) 5 MST 28
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman kakao (Theobroma cacao) berasal dari hutan hujan tropis yang menyebar dari Meksiko Selatan, Brasil sampai ke Bahama; terletak pada 18 LU sampai 15 LS. Populasi yang terbanyak dan diduga sebagai pusatnya adalah di wilayah Upper Amazon. Kakao masuk ke Indonesia pada tahun 1560 di Sulawesi Utara dan berasal dari Filipina; jenisnya adalah Criollo dan jenis ini diduga berasal dari Venezuela. Produksi dari tanaman kakao ini rendah dan peka terhadap hama penyakit, tetapi rasanya enak. Pada tahun 1806 perluasan kakao dilakukan di Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan kakao jenis Criollo (Anonimous, 1996).
Kakao (Theobroma cacao) merupakan tumbuhan berwujud pohon yang berasal dari Amerika Selatan. Dari biji tumbuhan ini dihasilkan produk olahan yang dikenal sebagai cokelat. Kakao merupakan tumbuhan tahunan (perennial) berbentuk pohon, di alam dapat mencapai ketinggian 10 m. Meskipun demikian, dalam pembudidayaan tingginya dibuat tidak lebih dari 5m tetapi dengan tajuk menyamping yang meluas. Hal ini dilakukan untuk memperbanyak cabang produktif (http://id.wikipedia.org, 2009).
Tanaman cokelat (Theobroma cacao) termasuk tanaman tropis. Dikenal masyarkat Indonesia pertama kali pada tahun 1780 sebagai tanaman pekarangan dan merupakan tanaman tahunan. Semula nilai komersilnya belum begitu diutamakan bagi penanamnya. Tapi dengan berkembangnya zaman, dimana produk makanan dan produk lain makin banyak yang menggunakan coklat, akhirnya tanaman ini dibudidayakan secara besar-besaran untuk tujuan komersial (Spillane, 1995).
Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri. Pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan kelapa sawit dengan nilai sebesar US $ 701 juta (http://www.litbang.deptan.go.id, 2009).
Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) atau lebih dikenal dengan nama cokelat berasal dari hutan di Amerika Serikat. Jenis tanaman kakao ada berbagai macam tetapi yang banyak dikembangkan sebagai tanaman perkebunan ada tiga, yaitu: criollo, forastero, dan trinitario (http://ksupointer.com, 2009).
Perkecambahan tanaman kakao dimulai dari munculnya akar yang tumbuh dari hipokotil berasal dari kotiledon yang masih tertutup dan terangkat sekitar 3 cm di atas permukaan tanah. Fase pertama ini kadang-kadang disebut dengan “fase serdadu”, ditandai dengan kotiledon yang masih belum terangkat semua dari tanah, dengan panjang akar rata-rata 4-5 cm. Fase kedua dimulai dengan pembukaan kotiledon diikuti dengan munculnya plumula, kotiledon mendatar semua terangkat dari tanah, panjang akar rata-rata 7 cm. Fase ketiga ditandai dengan kotiledon yang terangkat tegak lurus, panjang akar rata-rata 10 cm. Akar kecambah tanaman kakao yang telah berumur satu sampai dua minggu biasanya menumbuhkan akar-akar cabang, dari akar itu tumbuh akar-akar rambut yang jumlahnya sangat banyak, serta pada bagian ujung akar itu terdapat bulu akar yng dilindungi oleh tudung akar. Bulu akar inilah yang berfungsi untuk menghisap larutan dan garam-garam tanah (http:// pustaka.unpad.ac.id, 2009).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam pada perkecambahan benih kakao ( Theobroma cacao L.).
Hipotesis Percobaan
Ada pengaruh media tanam pada perkecambahan benih kakao (Theobroma cacao L.).
Kegunaan Percobaan
Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan II Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Zaenudin (2004) sistematika tanaman kakao adalah sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Malvales
Family : Sterculiaceae
Genus : Theobroma
Spesies : Theobroma cacao L.
Tanaman coklat yang berasal dari biji (generatif) memiliki akar tunggang yang tumbuh lurus ke bawah. Akar lateral pada awal pertumbuhan tumbuh pada leer akar yang tidak jauh dari permukaan tanah. Sedangkan pada tanaman dewasa akar-akar sekunder menyebar sekitar 15 – 20 cm di bawah permukaan tanah (Sunanto, 1992).
Cokelat dapat tumbuh sampai ketinggian 8 – 10 meter dari pangkal batangnya pada permukaan tanah. Tanaman cokelat punya kecenderungan tumbuh lebih pendek bila ditanam tanpa pohon pelindung. Di awal pertumbuhannnya tanaman cokelat yang diperbanyak melalui biji akan menumbuhkan batang utama sebelum menumbuhkan cabang-cabang primer. Letak cabang-cabang primer itu tumbuh disebut jorquette, yang tingginya dari permukaan tanah 1 – 2 meter. Ketinggian jorquette yang ideal adalah 1,2 – 1,5 meter agar tanaman dapat menghasilkan tajuk nyang baik dan seimbang (Siregar, dkk., 2008).
Daun tanaman kakao juga mempunyai sifat dimorphic, sesuai pada cabang mana daun tersebut tumbuh. Daun pada chupon atau pada batang orthotrop letaknya 3/8 menurut arah spiral. Daun pada cabang plagiotrop letaknya ½ selang-seling. Daun pada cabang orthotrop mempunyai tangkai yang panjang, pada pangkal yang menempel di cabang membengkak, dan bentuk daun simetris dengan panjang rata-rata ± 30 cm. Sedangkan daun pada cabang plagiotrop, tangkai daun lebih pendek, bentuk kurang simetris dengan panjang daun rata-rata ± 25 cm (Anonimous, 1996).
Bunga kakao, sebagaimana anggota Sterculiaceae lainnya, tumbuh langsung dari batang (cauliflorous). Bunga sempurna berukuran kecil (diameter maksimum 3 cm), tunggal, namun nampak terangkai karena sering sejumlah bunga muncul dari satu titik tunas. Penyerbukan bunga dilakukan oleh serangga (terutama lalat kecil (midge) Forcipomyia, semut bersayap, afid, dan beberapa lebah Trigona) yang biasanya terjadi pada malam hari1. Bunga siap diserbuki dalam jangka waktu beberapa hari. Kakao secara umum adalah tumbuhan menyerbuk silang dan memiliki sistem inkompatibilitas sendiri (lihat penyerbukan). Walaupun demikian, beberapa varietas kakao mampu melakukan penyerbukan sendiri dan menghasilkan jenis komoditi dengan nilai jual yang lebih tinggi (http://id.wikipedia.org, 2009).
Warna buah kakao beraneka ragam, Namur pada dasarnya hanya ada dua macam yaitu: buah muda berwarna hijau putih dan bila masak menjadi berwarna kuning, dan buah muda yang berwarna merah estela masak menjadi oranye. Kulit buah beralur 10, alur dalam dan dangkal silih bergante. Untuk jenis Criollo dan Trinitario alur buah nampak jelas, kulit tabal tetap lunak dan permukaan kasar. Sedangkan jenis Forastero umumnya permukaan buah halus atau rata dan kulitnya tipis (Susanto, 1995).
Biji terangkai pada plasenta yang tumbuh dari pangkal buah, di bagian dalam. Biji dilindungi oleh salut biji (aril) lunak berwarna putih. Dalam istilah pertanian disebut pulp. Endospermia biji mengandung lemak dengan kadar yang cukup tinggi. Dalam pengolahan pascapanen, pulp difermentasi selama tiga hari lalu biji dikeringkan di bawah sinar matahari (http://id.wikipedia.org, 2009).
Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman cokelat tumbuh baik di hutan tropik, sebab pertumbuhan tanaman cokelat sangat dipengaruhi oleh kelembaban dan suhu. Tanaman colelat dapat tumbuh di daerah yang terletak di antara 20LU dan 20 LS (Sunanto, 1992).
Hal terpenting dari curah hujan yang berhubungan dengan pertanaman dan produksi cokelat adalah distribusinya sepanjang tahun.Hal tersebut berkaitan dengan masa pembentukan tunas muda (flushing) dan produksi. Areal penanaman cokelat yang ideal adalah daerah-daerah bercurah hujan 1.100 – 3.000 mm per tahun (Siregar, dkk., 2008).
Suhu sehari-hari yang terbaik untuk tanaman cokelat adalah sekitar 24– 28C, dan kelembaban udaranya constan dan relatif tinggi yakni sekitar 80% Sunanto, 1992).
Lingkungan hidup alami tanaman cokelat adalah hutan hujan tropis yang di dalam pertumbuhannya membutuhkan naungan untuk mengurangi pencahayaan penuh. Cahaya matahari yang terlalu banyak menyoroti tanaman cokelat dan mengakibatkan lilit batang kecil, daun sempit, dan tanaman relatif pendek Sejumlah peneliti menyimpulkan bahwa maksimisasi penggunaan cahaya matahari di dalam proses fotosíntesis ternyata tidak memberikan pengaruh merugikan terhadap pertumbuhan dan produksinya. Air dan hara merupakan faktor penentu bilamana cokelat hendak ditanam dengan sistem tanpa tanaman pelindung sehingga tanaman terus-menerus mendapatkan sinar matahari secara penuh (Siregar, dkk., 2008).
Daerah penghasil kakao memiliki kelembaban udara relatif maksimum 100%, pada malam hari 70% – 80% pada siang hari. Kelembaban yang rendah akan mempengaruhi eapotranspirasi menjadi lebih cepat, sedangkan kelembaban yang tinggi mengundang perkembangan cendawan patogen (Susanto, 1995).
Kecepatan angin juga mempengaruhi keberhasilan usa tani kakao. Kecepatan angin yang tinggi dan berlangsung lama jelas akan merusak daun kakao, sehingga rontok dan tanaman menjadi gundul. Kerusakan kakao akibat angin tersebut akan mempunyai dampak terhadap turunnya produksi kakao (Zaenudin, 2004).
Tanah
Tanaman kakao dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan ketinggian kurang dari 600 meter di atas permukaan laut. Lapisan tanah minimum setebal 90 cm, cukup gembur, banyak mengandung humus dan bahan organik, memiliki kadar hara yang tinggi dengan keseimbangan yang baik, memiliki pH 6-7,5, dan mengandung cukup air dan udara (http://ksupointer.com, 2009).
Tanah yang baik untuk kakao adalah tanah yang bila musim hujan drainase baik dan pada musim kemarau dapat menyimpan air. Hal ini dapat terpenuhi jika tanah memiliki tekstur sebagai berikut: fraksi pasir sekitar 50%, fraksi debu sekitar 10%-20%, dan fraksi lempung 30%-40%. Jadi tekstur tanah yang paling baik untuk tanaman kakao adalah tanah liat berpasir dan lempung liat berpasir. Struktur tanah yang remah dan agregat yang mantap dapat menciptakan aerasi yang baik dan memungkinkan perkembangan akar. Tanah latosol dengan liat yang tinggi, kurang baik untuk tanaman kakao. Sedangkan tanah regosol dengan tekstur lempung liat, walaupun mengandung kerikil masih baik untuk tanaman kakao (Susanto, 1995).
Faktor timbulan meliputi elevasi, topografi dan tinggi tempat. Kakao tumbuh baik pada lahan datar atau kemiringan tanah kurang dari 15%. Faktor timbulan yang paling berpengaruh adalah lereng, ini berkaitan dengan tingkat kesuburan, manajemen, pemeliharaan, dan pemanenan (Zaenudin, 2004).
Tanaman kakao menghendaki tanah yang mudah diterobos oleh air tanah dan tanah harus dapat menyimpan air tanah terutama pada musim kemarau, aerase dan draenase yang baik untuk tanaman kakao adalah tanah liat berpasir lempung liat berpasir (Sutherland, 1972).
Media Tanam
Jenis tanah berhubungan sangat erat dengan plastisitas, permeability, kekerasan, kemudahan olah, kesuburan dan produktivitas tanah pada daerah geografik tertentu akan tetapi berhubungan adanya variasi yang terdapat dalam sistem mineralogi fisik tanah, maka belum berlaku untuk semua jenis tanah di permukaan bumi (Buckman dan Brady, 1982).
Partikel-partikel pasir yang ukurannya yang jauh lebih besar dan memiliki permukaan yang kecil (dengan berat yang sama) dibandingkan dengan debu dan liat. Oleh karena itu, peranannya dalam mengatur sifat-sifat tanah, semakin tinggi persentase pasir dalam tanah, semakin banyak pori-pori di antara partikel tanah dan hal ini dapat memperlancar gerakan udara/air (Hartman, et al., 1981).
Bila tanah terlalu banyak mengandung pasir, tanah ini kurang baik untuk pertumbuhan tanaman. Tanah yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan (specific surface) yang kecil, sehingga sulit menyerap atau menahan air dan unsur hara, sehingga pada musim kemarau mudah kekurangan air. Bila jumlah pasir tidak terlalu banyak pengaruhnya terhadap tanah akan baik karena cukup longgar, air akan mudah diserap dan cukup dikandung tanah, udara tanah mudah masuk dan tanah mudah diolah (Hasibuan, 2006).
Distribusi ukuran partikel dan kelas tekstur mempunyai korelasi dengan air, udara, unsur hara, mintakat perakaran, kemudahan diolah dan yang terpenting adalah masalah kesuburan. Sifat umum tanah sangat ditentukan oleh tekstur (Sutanto, 2005).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl yang dimulai dari bulan Agustus 2009 sampai dengan November 2009.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah benih kakao (Theobroma cacao L.) sebagai objek pengamatan, tanah dan pasir sebagai media tanam, polibag sebagai wadah penanaman, label nama untuk menandai perlakuan tiap polibag, air untuk penyiraman, serta abu gosok untuk membersihkan pulp kakao.
Alat yang digunakan adalah cangkul untuk mencampur tanah, gembor untuk menyiram tanaman, meteran untuk mengukur tinggi tunas, jangka sorong untuk mengukur diameter batang tunas, dan alat tulis untuk mencatat data pengamatan.
Metode Percobaan
Metode percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial yaitu :
M0 : Tanah
M1 : Tanah : Pasir (2 : 1)
M2 : Pasir
Jumlah Blok : 3
Jumlah Petakan : 9
Jumlah Benih Perpetak : 10
Jumlah Benih Seluruhnya : 90 benih
Sehingga diperoleh :
M0 M1 M1
M2 M0 M1
M1 M2 M0
Dari hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam berdasarkan model linier sebagai berikut :
Yijk = µ + τi + αj + βk + (αβ)jk + εijk
Dimana :
Yijk = hasil pengamatan untuk unit percobaan ke-I dengan perlakuan media tanam taraf ke-j dan biji pada taraf ke-k
µ = nilai tengah
τi = respon blok ke-i
αj = respon pemberian media tanam pada taraf ke-j
βk = respon perlakuan biji pada taraf ke-k
εijk = respon interaksi media tanam pada taraf ke-j dengan perlakuan biji pada taraf ke-k
Bagan Percobaan
U
S
PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Media Tanam
Media yang digunakan pada percobaan ini adalah tanah dan pasir yang diisikan ke dalam polibag kemudian disiram terlebih dahulu dengan air sebelum biji ditanam.
Penanaman
Media tanam yang telah disiram diletakkan di tempat yang telah ditentukan. Biji ditanam dengan mata tumbuhnya satu arah dari perut biji menghadap ke atas dan ditekan dengan jari sehingga bagian punggung biji masih berada di atas permukaan tanah.
Pemeliharaan
Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap sore hari dan tergantung keadaan cuaca.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan seminggu sekali dengan menggunakan tangan saat gulma mulai tumbuh di media tanam.
Pengamatan Parameter
Persentase Perkecambahan (%)
Persentase perkecambahan dihitung dengan menggunakan rumus :
N1T1 + N2T2 + NxTx
Persentase Perkecambahan (%) = x 100%
Jumlah benih yang dikecambahkan
Laju Perkecambahan (hari)
Laju perkecambahan dihitung dengan menggunakan rumus :
N1.T1 + N2.T2 + … + Nx.Tx
Laju Perkecambahan (hari) =
Jumlah benih yang berkecambah
Tinggi Kecambah (cm)
Tinggi kecambah yang dikecambahkan melalui biji dihitung mulai dari pangkal batang sampai titik tumbuh tertinggi tunas tersebut dengan menggunakan meteran. Tinggi kecambah dihitung seminggu sekali.
Diameter Batang (mm)
Diameter batang diukur dengan menggunakan jangka sorong. Diukur dari pangkal bawah tanaman tersebut. Diameter batang dihitung seminggu sekali.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Dari hasil percobaan yang dilakukan diperoleh bahwa persentase perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu sebesar 100 % dan persentase perkecambahan terendah terdapat pada perlakuan M2 yaitu sebesar 66,60 % dan laju perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu sebesar 3,33 hari dan laju perkecambahan terendah pada perlakuan M2 yaitu sebesar 4,5 hari serta media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman (cm) dan diameter batang (mm).
Persentase Perkecambahan (%)
Dari hasil percobaan diketahui bahwa persentase perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu 100% dan t persentase perkecambahan terendah pada perlakuan M2, yaitu 66,60 %.
Laju Perkecambahan (hari)
Dari hasil percobaan diketahui bahwa laju perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu 3,33 hari dan laju perkecambahan terendah pada perlakuan M2 yaitu 4,5 hari.
Tinggi Tanaman (cm)
Hasil sidik ragam dapat dilihat pada lampiran 4, 6, 8, 10 dan 12. Dari hasil sidik ragam diketahui bahwa perbedaan media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi kecambah pada 1, 2, 3, 4 dan 5 MST.
Rataan tinggi kecambah pada 5 MST dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Rataan Tinggi Tanaman (cm) 5 MST
Perlakuan Blok Total Rataan
I II III
M0
M1
M2 13.00
14.50
10.13
11.00
13.80
10.50 12.00
13.90
10.60 36.00
42.20
31.23 12.00
14.07
10.41
Total 27.50 34.80 25.90 78.20 26.07
Rataan 13.75 12.40 12.95 39.10 13.03
Dari tabel 1 diketahui bahwa rataan tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu 14.07 cm dan rataan tinggi tanaman terendah pada perlakuan M2, yaitu 10.41 cm.
Diameter Batang (mm)
Hasil sidik ragam dapat dilihat pada lampiran 14, 16, 18, dan 20. Dari hasil sidik ragam diketahui bahwa perbedaan media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap diameter batang pada 2, 3, 4, 5 MST.
Rataan diameter batang pada 4 MST dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2. Rataan Diameter Batang (mm) 5 MST
Perlakuan Blok Total Rataan
I II III
M0
M1
M2 0.93
1.27
0.72 0.99
1.42
0.83 1.10
1.62
0.70 3.02
4.31
2.55 1.01
1.44
0.75
Total 2.20 2.41 2.72 7.33 2.44
Rataan 1.10 1.21 1.36 3.67 1.22
Dari tabel 2 diketahui bahwa rataan diameter batang tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu 1.4 mm dan rataan diameter batang terendah pada M2 yaitu 0.75 mm.
Pembahasan
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa persentase perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu sebesar 100%, dan terendah pada perlakuan M2 yaitu sebesar 66.60%. Ini menunjukkan bahwa pada media pasir lebih memudahkan akar kecambah kakao untuk berkembang dimana juga didukung oleh bahan makanan yang terdapat di dalam biji kakao yang ditanam. Hal ini sesuai dengan literatur Hartman, et al. (1981) yang menyatakan bahwa semakin tinggi persentase pasir dalam tanah, semakin banyak pori-pori di antara partikel tanah dan hal ini dapat memperlancar gerakan udara/air.
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa laju perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan M2 yaitu sebesar 4.5 hari, dan terendah terdapat pada perlakuan M1 yaitu sebesar 3.33 hari. Ini menunjukkan bahwa penggunaan pasir sebagai media tanam sesuai untuk perkecambahan biji kakao. Hal ini sesuai dengan literatur Sutherland (1972) yang menyatakan bahwa tanaman kakao menghendaki tanah yang mudah diterobos oleh air tanah dan tanah harus dapat menyimpan air tanah terutama pada musim kemarau, aerase dan draenase yang baik untuk tanaman kakao adalah tanah liat berpasir lempung liat berpasir.
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa rataan tinggi kecambah 5 MST tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu sebesar 14.07 cm, dan terendah pada perlakuan M2 yaitu sebesar 10.41 cm. Ini menunjukkan bahwa penggunaan tanah yang ditambahkan pasir sangat baik untuk pertumbuhan tinggi tanaman dengan memperhatikan pembersihan pulp pada biji tanaman. Hal in sesuai dengan pernyataan Susanto (1995) bahwa tekstur tanah yang paling baik untuk tanaman kakao adalah tanah liat berpasir dan lempung liat berpasir. Struktur tanah yang remah dan agregat yang mantap dapat menciptakan aerasi yang baik dan memungkinkan perkembangan akar.
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa rataan tinggi kecambah 5 MST tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu sebesar 14.07 cm, dan terendah pada perlakuan M2 yaitu sebesar 10.41 cm. Ini menunjukkan bahwa penggunaan tanah yang ditambahkan pasir sangat baik untuk pertumbuhan tinggi tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Setiawan (2000) yang menyatakan tekstur tanah yang paling baik untuk tanaman kakao adalah tanah liat berpasir dan lempung liat berpasir. Fungsi utamanya adalah untuk perbaikan sifat fisik tanah semakin tinggi persentase pasir dalam tanah, semakin banyak pori – pori antar partikel tanah dan dapat memperlancar gerakan udara dan air.
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa rataan diameter batang 5 MST tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu sebesar 1.44 mm, dan terendah pada perlakuan M2 yaitu sebesar 0.75 mm. Ini menunjukkan bahwa media juga mempengaruhi pertumbuhn dan perkembangan batang, dimana pasir lebih memudahkan akar tanaman untuk tumbuh berkembang dikarenakan keadaan aerasi tanah yang baik. Hal ini sesuai dengan literatur Hasibuan (2006) yang menyatakan bahwa bila jumlah pasir tidak terlalu banyak pengaruhnya terhadap tanah akan baik karena cukup longgar, air akan mudah diserap dan cukup dikandung tanah, udara tanah mudah masuk dan tanah mudah diolah.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Persentase perkecambahan tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu 100% dan terendah pada perlakuan M2 yaitu 66.60%
2. Laju perkecambahan tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan M2 yaitu 4.5 hari dan terendah pada perlakuan M1 yaitu 3.33 hari
3. Rataan tinggi kecambah 5 MST tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu 14.07 cm dan terendah pada perlakuan M2 yaitu 10.41 cm
4. Rataan diameter batang 5 MST tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu 1.44 mm dan terendah pada perlakuan M2 yaitu 0.75 mm
5. Media dan pulp berperan penting dalam perkecambahan dan pertumbuhan tanaman kakao
Saran
Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan sebaiknya dilakukan percobaan ataupun penelitian lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 1996. Vademecum Kakao. PT Perkebunan Nusantara IV (Persero). Bah Jambi-Pematang Siantar, Sumatera Utara-Indonesia.
Buckman, H.O. dan N.C. Brady. 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan Soegiman. Bhratara Karya Aksara. Jakarta.
Hartmann, H.T., J. William, Klackers, M. Anton dan Konfafrek. 1981. Plant Science. Prentice Hall Inc. New Jersey.
Hasibuan, B.E. 2006. Ilmu Tanah. USU Press. Medan.
http://pustaka.unpad.ac.id/wp.../06/laporan_akhir_intani_dipa_2007.pdf. Diakses pada tanggal 27 Oktober 2009.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kakao. Diakses pada tanggal 27 Oktober 2009.
http://www.litbang.deptan.go.id/special/komoditas/b4kakao. Diakses pada tanggal 27 Oktober 2009.
http://ksupointer.com/2009/tanaman-kakao. Diakses pada tanggal 27 Oktober 2009.
Siregar, T.H.S., Slamet R., dan Laeli N. 2008. Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Cokelat. Penebar Swadaya. Jakarta.
Spillane, J.J. 1995. Komoditi Kakao Peranannya Dalam Perekonomian Indonesia. Kanisius. Yogyakarta.
Sunanto, H. 1992. Cokelat Budidaya, Pengolahan Hasil, dan Aspek Ekonominya. Kanisius. Yogyakarta.
Susanto, F.X. 1995. Tanaman Kakao Budidaya dan Pengolahan Hasil. Kanisius. Yogyakarta.
Sutanto, R. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Konsep dan Kenyataan. Kanisius. Yogyakarta.
Sutherland, J. A., 1972. Introduction to Tropical Agriculture. Third Edition. Mc – Hill Book Company. Sindey.
Zaenudin. 2004. Panduan Lengkap Budidaya Kakao. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Tampilkan postingan dengan label media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label media. Tampilkan semua postingan
Selasa, 02 Februari 2010
Rabu, 07 Oktober 2009
pengaruh media tanam dan kompos azolla (Azolla sp.) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) D X P di pre nursery
PENGARUH MEDIA TANAM DAN KOMPOS AZOLLA (Azolla sp.) TERHADAP PERTUMBUHAN KECAMBAH
KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) D X P
DI PRE NURSERY
LAPORAN
OLEH :
JUNITA SINAMBELA
070301054/BDP-AGRONOMI
16
LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
PENGARUH MEDIA TANAM DAN KOMPOS AZOLLA (Azolla sp.) TERHADAP PERTUMBUHAN KECAMBAH
KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) D X P
DI PRE NURSERY
LAPORAN
OLEH :
JUNITA SINAMBELA
070301054/BDP-AGRONOMI
16
Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test
di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan
Fakultas Pertanian Sumatera Utara, Medan
Disetujui Oleh
Dosen Penanggungjawab
(Ir. Balonggu Siagian, MS)
NIP. 130 806 538
Diketahui Oleh:
Asisten Koordinator
(Eko Andi Pasaribu)
NIM. 040301001 Diperiksa Oleh:
Asisten Korektor
(Hayati Silalahi)
NIM. 040301037
LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
ABSTRACT
The objective of this experiment was to know effect of media and azolla dung in growing of palma’s bud. The experiment was conducted in Agronomi Tanaman Perkebunan I Laboratory Land, Agriculture Faculty, North Sumatera University with altitude ± 25 m above sea level, from March to May 2009. The experiment used Randomized Complete Block Design (RAK) with 2 factors and 4 replications. The first factor was media, top soil, sand, sub soil, and fertilizer. The second one was azolla, 7 gr, 14 gr, and 21 gr. The experiment result showed that media gave significant effect of height and leaves of bud. Azolla gave significant effect of height and leaves of bud, and diameter of stem. Interaction between media and azolla gave significant effect of height and leaves of bud.
Keywords : media, azolla, bud
ABSTRAK
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam dan kompos azolla terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit. Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan I Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, pada ketinggian ± 25 m dpl dari bulan Maret sampai Mei 2009 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan dan empat ulangan. Faktor I adalah media tanam top soil dan pasir, sub soil dan pupuk kandang. Faktor II adalah kompos azolla 7 gr, 14 gr, 21 gr. Hasil percobaan menunjukkan bahwa media berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, jumlahdaun. Azolla berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, jumlah daun, diameter batang. Sedangkan interaksi antara media dan azolla berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, jumlah daun.
Kata kunci : media, azolla, kecambah
RIWAYAT HIDUP
Junita Sinambela lahir pada tanggal 2 April 1989 di Medan. Anak pertama dari empat bersaudara. Anak dari Bapak P. Sinambela dan Ibu N. Manurung.
Adapun pendidikan yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut:
SD Negeri 050721 di Gohor Lama Tamat tahun 2001
SMP Negeri 1 di Hinai Tamat tahun 2004
SMA Negeri 1 di Stabat Tamat tahun 2007
Penulis terdaftar sebagai mahasiswi di Departemen Budidaya Pertanian Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan melalui jalur SPMB pada pilihan pertama pada tahun 2007 sampai sekarang.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Esa karena atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.
Adapun judul dari laporan ini adalah “Pengaruh Media Tanam dan Kompos Azolla (Azolla sp.) Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)” yang merupakan salah satu syarat unutk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Balonggu Siagian, MS dan Ir. Charloq Nababan, MP selaku dosen mata kuliah Agronomi Tanaman Perkebunan serta kepada abang dan kakak asisten yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Mei 2009
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRACT i
ABSTRAK ii
RIWAYAT HIDUP iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GAMBAR viii
PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Tujuan Percobaan 2
Hipotesis Percobaan 2
Kegunaan Percobaan 3
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman 4
Syarat Tumbuh 5
Iklim 5
Tanah 6
Pembibitan Kelapa Sawit 7
Media Tanam 10
Kompos Azolla 10
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan 13
Bahan dan Alat 13
Metode Percobaan 13
PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Media Tanam 16
Aplikasi Kompos Azolla 16
Penanaman 16
Pemeliharaan Tanaman 16
Penyiraman 16
Penyiangan 17
Pengamatan Parameter 17
Tinggi Tanaman (cm) 17
Jumlah Daun (helai) 17
Diameter Batang (mm) 17
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil 19
Pembahasan 25
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan 28
Saran 28
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No. Judul Hal
1. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan
kompos azolla 20
2. Rataan jumlah daun kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan
kompos azolla 22
3. Rataan diameter tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan
kompos azolla 24
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Hal
1. Histogram tinggi tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam
dan kompos azolla 21
2. Histogram jumlah daun kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam
dan kompos azolla 23
3. Histogram diameter tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam
dan kompos azolla 25
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Hal
1. Data tinggi tunas kelapa sawit 1 MST (cm) 30
2. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 1 MST 30
3. Data tinggi tunas kelapa sawit 2 MST (cm) 30
4. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 2 MST 31
5. Data tinggi tunas kelapa sawit 3 MST (cm) 31
6. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 3 MST 31
7. Data tinggi tunas kelapa sawit 4 MST (cm) 32
8. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 4 MST 32
9. Data tinggi tunas kelapa sawit 5 MST (cm) 32
10. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 5 MST 33
11. Data tinggi tunas kelapa sawit 6 MST (cm) 33
12. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 6 MST 33
13. Data tinggi tunas kelapa sawit 7 MST (cm) 34
14. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 7 MST 34
15. Data tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) 34
16. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 8 MST 35
17. Data jumlah daun kelapa sawit 3 MST (helai) 35
18. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 3 MST 35
19. Data jumlah daun kelapa sawit 4 MST (helai) 36
20. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 4 MST 36
21. Data jumlah daun kelapa sawit 5 MST (helai) 36
22. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 5 MST 37
23. Data jumlah daun kelapa sawit 6 MST (helai) 37
24. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 6 MST 37
25. Data jumlah daun kelapa sawit 7 MST (helai) 38
26. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 7 MST 38
27. Data jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) 38
28. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 8 MST 39
29. Data diameter batang kelapa sawit 4 MST (mm) 39
30. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 4 MST 39
31. Data diameter batang kelapa sawit 5 MST (mm) 40
32. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 5 MST 40
33. Data diameter batang kelapa sawit 6 MST (mm) 40
34. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 6 MST 41
35. Data diameter batang kelapa sawit 7 MST (mm) 41
36. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 7 MST 41
37. Data diameter batang kelapa sawit 8 MST (mm) 42
38. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 8 MST 42
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kelapa sawit ( Elaeis guineensis ) berasal dari Afrika dan masuk ke Indonesia pada tahun 1848 yang ditanam di Kebun Raya Bogor (Soehardjo, dkk., 1996).
Dari tahun 1940-an sampai 1970-an, Nigeria merupakan produsen terbesar minyak sawit dunia, setingkat di atas Indonesia. Malaysia merebut kedudukan Indonesia tersebut pada tahun 1966, satu tingkat di bawah Nigeria. Kini, Malaysia menduduki rangking pertama sebagai produsen minyak sawit dunia. Untuk lebih jelasnya Negara produsen utama minyak sawit dunia adalah Malaysia, Indonesia, Nigeria, Pantai Gading, Colombia, Thailand, Papua Nugini (Tim Penulis PS, 1997).
Bagi Indonesia, tanaman memiliki arti penting bagi pembangunan perkebunan nasional.Selain mampu menciptakan kesempatan kerja yang mengarah kepada kesejahteraan masyarakat, juga sebagai sumber perolehan devisa negara. Indonesia merupakan salah satu produsen utama minyak sawit (Fauzi, dkk., 2007).
Perkebunan kelapa sawit komersial pertama di Indonesia mulai diusahakan pada tahun 1911 di Aceh dan Sumatera Utara oleh Adrien Hallet, seorang berkebangsaan Belgia. Luas kebun kelapa sawit terus bertambah, dari 1.272 hektar pada tahun 1916 menjadi 92.307 hektar pada tahun 1938 (Hadi, 2004).
Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah Malaysia. Sebanyak 85 % lebih pasar dunia kelapa sawit dikuasai oleh Indonesia dan Malaysia. Menurut Derom Bangun, ketua GAPKI (Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia), pada tahun 2008 diperkirakan Indonesia bias menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Perkebunan kelapa sawit pun bias menghadirkan prestasi-prestasi yang membanggakan dan layak untuk ditiru. Kesemuanya itu bergantung kepada manajemen dan pemimpinnya (Pahan, 2006).
Minyak nabati yang dihasilkan dari pengolahan buah kelapa sawit berupa minyak sawit mentah ( CPO atau crude palm oil) yang berwarna kuning dan minyak inti sawit (PKO atau palm kernel oil) yang tidak berwarna (jernih). CPO atau PKO banyak digunakan sebagai bahan industri pangan (minyak goreng atau margarin), industri sabun (bahan penghasil busa), industri baja (bahan pelumas), industri tekstil, kosmetik, dan bahan baker alternatif (minyak diesel) (Sastrosayono, 2003).
Dalam keadaan dapat dihasilkan 30-45 kg/ha berarti sama dengan 100 kg urea. Ditemukan juga bahwa azolla tumbuh kembang lebih baik dari pada musim penghujan dari pada musim kemarau. Kegunaan azolla adalah sumber N dapat mengganti pupuk urea samapai 100 kg, pakan ternak/hijauan, pakan ikan, terutama ayam dan itik, menekan pertumbuhan gulma. Tanaman hias, kontrol terhadap perkembangan nyamuk ( http://wikipedia.org, 2008).
Secara kimia, kompos dapat meningkatkan kapasitas tukar kation, ketersediaan unsur hara dan ketersediaan asam humat. Asam humat akan membantu meningkatkan proses pelapukan bahan mineral. Secara biologi, kompos yang tidak lain adalah bahan organik merupakan sumber bagai mikroorganisme tanah (Simamora dan Salundik, 2006).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam dan kompos Azolla (Azolla sp.) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) (D x P) di pre nursery.
Hipotesis Percobaan
Ada pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.).
Ada pengaruh kompos Azolla (Azolla sp.) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.).
Ada pengaruh interaksi media tanam dan kompos Azolla (Azolla sp.) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.).
Kegunaan Percobaan
Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Soehardjo dkk. (1996) taksonomi tanaman kelapa sawit adalah :
Divisi : Tracheopita
Subdivisi : Pteropsida
Kelas : Angiospermae
Subkelas : Monocotyledoneae
Ordo : Cocoideae
Family : Palmae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensiss Jacq.
Tanaman kelapa sawit berakar serabut yang terdiri atas akar primer, sekunder, tertier, dan kuartier. Akar-akar primer umumnya tumbuh ke bawah, sedangkan akar sekunder, tertier dan kuartier arah tumbuhnya mendatar dan ke bawah. Akar kuartier berfungsi menyerap unsur hara dan air dari dalam tanah. Akar-akar kelapa sawit banyak berkembang di lapisan tanah atas sampai kedalaman ± 1 meter dan semakin ke bawah semakin sedikit (Risza, 1994).
Besarnya batang berdiameter 25 – 75 cm, di perkebunan umumnya 45 – 60 cm ; bahkan pangkal batang bisa lebih besar lagi pada tanaman tua. Biasanya pangkal-pangkal daun melekat beberapa tahun pada batang, berangsur-angsur lepas pada umur 11 tahun, bahkan ada yang sampai 17 tahun pada tanaman setengah liar (Sianturi, 1991).
Daun kelapa sawit bersirip genapdan bertulang sejajar. Pada pangkal pelepah daun terdapat duri-duri atau bulu-bulu halus sampai kasar. Panjang pelepah daun dapat mencapai 9 m, tergantung pada umur tanaman. Helai anak daun yang terletak di tengah pelepah daun adalah yang terpanjang dan panjangnya dapat mencapai 1,20 m. Jumlah anak daun dalam satu pelepah berkisar antara 120 – 160 pasang (Setyamidjaja, 2006).
Pada tanaman kelapa sawit letak bunga jantan dan bunga betina terpisah, masing-masing tersusun pada tandan yang berbeda tetapi masih dalam satu pohon. Oleh karena itu, tanaman kelapa sawit disebut tanaman berumah satu atau monoceous. Namun demikian, terkadang dalam satu tandan terdapat bunga jantan sekaligus bunga betina. Bunga ini disebut bunga hermaprodit (Hadi, 2004).
Secara botani buah kelapa sawit digolongkan sebagai buah drupe, terdiri dari perikarp yang terbungkus oleh eksokarp (kulit), mesokarp (yang secara salah kaprah biasanya disebut perikarp) dan endocarp (cangkang) yang membungkus 1- 4 inti/kernel (umumnya hanya satu). Inti memiliki testa (kulit), endoperm yang padat, dan sebuah embrio (Pahan, 2006).
Syarat Tumbuh
Iklim
Faktor iklim sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tandan kelapa sawit. Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropika basah di sekitar lintang utara – selatan 12 derajat pada ketinggian 0 – 500 m dpl. Beberapa unsur iklim yang penting dan saling mempengaruhi adalah curah hujan, sinar matahari, suhu, kelembapan uadar, dan angin (Fauzi, dkk., 2007).
Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman heliofil atau menyukai cahaya matahari. Penyinaran matahari sangat berpengaruh terhadapat perkembangan buah kelapa sawit. Tanaman yang ternaungi karena jarak tanam yang sempit, pertunbuhannya akan terhambat karena hasil asimilasinya kurang (Sastrosayono, 2003).
Yang penting untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit adalh distribusi hujan yang merata. Kemarau panjang dapat mengakibatkan pengeringan tanah di daerah perakaran yang relatif dangkal sehingga kelembaban tanah bias berada di bawah titik layu permanen. Inilah yang membuat tanaman sawit tumbuh lambat pada daerah beriklim moonson dan produksinya kecil. Kelembaban relatif paling sedikit 75% (Sianturi, 1991).
Selain sinar matahari dan curah hujan yang cukup, untuk tumbuh dengan baik tanaman kelapa sawit memerlukan suhu yang optimum. Suhu optimum itu berkisar antara 29 – 30C. Beberapa faktor yang mempengaruhi suhu adalah lama penyinaran dan ketinggian tempat. Makin lama penyinaran atau makin rendah suatu tempat, maka akan terjadi kenaikan suhu. Suhu akan berpengaruh terhadap pembungaan dan kematangan buah (Tim Penulis PS, 1997).
Tanah
Kelapa sawit tumbuh pada beberapa jenis tanah seperti podsilik, latosol, hidromorfik, hidromorfik kelabu, regosol, andosol, organosol dan aluviall Soehardjo, dkk., 1996 ).
Tanah perkebunan kelapa sawit hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut : 1) Keasaman tanah (pH) 5,0 – 6,5 ; 2) kemiringan lahan 0 -15 ; 3) Solum 80 cm ; 4) ketinggian lahan 0 – 400 m dpl ; 5) Kedalaman air tanah 80 -150 cm dari permukaan ; 6) Drainase baik ; 7) kesuburan kimiawi cukup (diketahui dari hasil analisa tanah) (Hadi, 2004).
Pembibitan Kelapa Sawit
Benih tanaman kelapa sawit memiliki sawit yang tebal. Karena itu perlu persiapan yang lama untuk mengecambahkannya. Setelah buah masak dipanen, tandan buah diperam ( Fermentasi I ) selama 3 hari supaya semua buahnya rontok. Setelah itu, diperam lagi selama 3 hari ( Fermentasi II ) (Sastrosayono, 2003).
Pembibitan merupakan kegiatan – kegiatan awal di lapangan yang bertujuan untuk mempersiapakan bibit siap tanam. Pembibitan harus sudah dipersiapkan sekitar 1 tahun sebelum penanaman di lapangan, agar bibit yang ditanam tersebut memenuhi syarat pertama baik umurnya maupun ukurannya (Setyamidjaja, 2006). Untuk memperoleh bibit yang benar- benar sehat, unggul dan homogen maka bibit hanya dipilih ± 75 % saja. Sedangkan selebihnya 25 % sengaja dibuang (thinning out). Seleksi bibit ini sedemikian ketat karena bibitnya standar akan menentukan masa depan hasil panen dan kualitas tanaman (Rizsa, 1994).
Tahapan bibitan dapat dibagi dua yaitu : prapembibitan (prenursery) dan pembibitan utama (mainnursery) untuk pertumbuhan selanjutnya (Sianturi, 1991).
Alasan lain diperlukannya pembibitan yaitu (1) keadaan kecambah kelapa sawit yang mudah diserang insekta, tikus, dan hama lainnya ; (2) bahan tanaman memerlukan ketegakan habitusnya sehingga tidak miring atau roboh ; sertaa (3) pembibitan diperlukan untuk memperpendek waktu antara persiapan lapangan dan penanaman pertama sehingga begitu lahan siap tanam bibit sudah siap untuk ditanam (Pahan, 2006).
Pemeliharaan dan kondisi bibit dipembibitan sangat menentukan keadaan tanaman dilapangan baik keragaman maupun produktivitasnya. Untuk mendukung pertumbuhan bibit dengan baik, perlu diperhatikan syarat penetapan lokasi pembibitan : 1. Areal harus rata ; 2. Dekat dengan sumber air ; 3. Relatif dekat dengan media Pananaman ; 4. Tidak tergenang air ; 5. Jauh dari sumber hama dan penyakit tanaman (Soehardjo, dkk., 1996).
Seleksi bibit penting dilakukan karena akan menentukan hasil panen dan kualitas kelapa sawit. Untuk mendapatkan tanaman yang bersifat unggul, biji yang dipilih sebaiknya berasal dari persilangan varietas unggul. di Indonesia lebih banyak digunakan bahan tanaman yang berasal dari persilangan Dura dan Pisifera. Hasil persilangan dianggap sebagai persilangan terbaik secara ekonomis, yaitu didasarkan pada kriteria produksi minyak perhektar, mutu minyak, pertumbuhan vegetatif dan daya tahan terhadap penyakit tajuk serta ganoderma (Fauzi, 2007).
Dalam usaha membudidayakan kelapa sawit, masalah pertama yang dihadapi oleh pengusaha dan petani yang bersangkutan adalah tentang pengadaan bibit. Kualitas bibit sangat menentukan produksi akhir jenis komoditas ini. Pada umumnya pengembangbiakan tanaman kelapa sawit dilakikan secara generatif, yaitu dengan bijinya. Cara ini memang umum dilakukan dan diangap paling gampang. Akan tetapi, pengadaan bibit dalam jumlah banyak dengan cara ini mengalami beberapa kendala, antara lain bahan bibit yang diperoleh sangat terbatas dan sangat bervariasi (Tim Penulis PS, 1997).
Prenursery diawali dengan menanam kecambah kelapa sawit ke dalam tanah pada kantong plastik atau (polybag) kecil hingga berumur tiga bulan. Mainnursery diawali dengan menanam biji yang sudah berumur tiga bulan (pindahan dari prenursery) kedalam polybag yang lebih besar hingga bibit siap ditanam di areal perkebunan, atau kiar-kira 9 bulan kemudian. Jadi waktu yang dibutuhkan pada pembibitan mulai penanaman kecambah hingga bibit siap ditanam di areal perkebunan kurang lebih adalah 12 bulan (3 bulan di prenursery dan 9 bulan di main nursery) (Hadi, 2004).
Produksi benih D x P adalah mirip dengan produksi jagung hibrida. Pada benih jagung hibrida, tetua dalam turunan yang telah mengalami jumlah besar generasi yang dimuliakan, sebagai contoh selfing dan sibbing. Sungguhpun demikian anggota dari setiap turunan secara genetic homozigot dan serupa. Pada pembastaran tumbuhan secara genetik sama tetapi heterozigot. Oleh sebab itu penanaman jagung varietas hibrida menghasilkan tanaman yang tetap seragam dalam bebagai aspek (Chin, 2006).
Pemuliaan dan seleksi kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) secara sistematik telah dimulai tahun1920 di Afrika dan Asia (Malaysia dan Sumatera) ketika spesies memulai di eksploitasi untuk minyak nabati sacara komersial (Internasional Confenrence , 1981).
Media Tanam
Bila tanah banyak mengadung banyak pasir, tanah ini kurang baik untuk pertumbuhan tanaman. Tanaman yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan atau (spesific surface) yang kecil, sehingga sulit menyerap atau menahan air dan unsur hara, sehingga pada musim kemarau mudah kekurangan air. Bila jumlah pasir tidak terlalu banyak, pengaruhnya terhadap tanah akan baik, karena cukup longgar, air akan mudah meresap, dan jumlahnya cukup dikandung tanah, udara tanah mudah masuk dan tanah mudah diolah (Hasibuan, 2006).
Beberapa hal yang menentukan sifat fisik tanah adalah tekstur, struktur, konsistensi, kemiringan tanah, permeabilitas, ketebalan lapisan tanah, dan kedalaman permukaan air tanah. Tanaman kelapa sawit tumbuh baik pada daerah gembur, subur, berdrainase baik, permeabilitas sedang, dan mempunyai solum yang tebal sekitar 80 cm tanpa lapisan padas. Tekstur tanah ringan dengan kandungan pasir 20 – 60%, debu 10 – 40%, dan liat 20 -50%. Tanah yang kurang cocok adalah tanah pantai berpasir dan tanah gambut tebal (Fauzi, dkk., 2007).
Jenis media tanam terdiri atas lapisan tanah yang terdiri atas tiga fase bahan – bahan padat, cair, dan gas. Fase padat menempati hamper 50% dari volume tanah, sebagian bagi adalah bahan organik yang terakhir adalah bagian yang dijumpai paling banyak pada tanah organik (Sianturi, 1991).
Tanah dengan 25% liatnya, maka liat ini akan lebih praktis dibandingkan dengan tanah yang mengandung 100% liat, yang terdiri dari mineral yang kaya hara esensial. Pada kasus lalu tanah – tanah berpasir biasanya berhubungan dengan kandungan unsur hara yang tinggi (Risza, 1994).
Kompos Azolla ( Azolla sp. )
Azolla adalah jenis tumbuhan paku air yang mengapung banyak terdapat diperairan tergenang terutama di sawah- sawah dan di kolam, mempuyai permukaan daun yang lunak mudah berkembang dengan cepat dan hidup bersimbiosis dengan Anabaena azollae yang dapat mengfiksasi nitrogen ( N2 ) dari udara. Azolla pinnata merupakan tumbuhan kecil yang mengapung di air, terlihat berbentuk segitiga atau segiempat. Azolla berukuran 2 - 4 cm, dengan cabang, akar rhizome dan daun terapug. Akar solit, mengapung di air, berbulu, panjang 1 – 5 cm dengan membentuk kelompok 3 -6 rambut akar. Daun kecil, membentuk 2 barisan, menyirap bervariasi, duduk melekat, cuping dengan cuping dorsal berpegangan di atas permukaan air dan cuping ventral mengapung (http://www.kehati.or.id , 2009).
Kegunaan azolla adalah: sumber N dapat menganti pupuk urea sampai 100 kg, pakan ternak/hijauan, pakan ikan, terutama ayam dan itik, menekan pertumbuhan gulma, tanaman hias, kontrol terhadap perkembangan nyamuk (http://kolamazolla.blogspot.com, 2009 a).
Kandungan unsur hara dalam azolla yaitu: N 1,96–5,30 % ; P 0,16 – 1,59 % ; K 0,31 – 5,97 % ; Ca 0,45 – 1,70 % ; Mg 0,22 – 0,66 % ; S 0,22 – 0,73 % ; Si 0,16 -3,35 % ; Na 0,16 -1,31 % ; Cl 0.62 - 0,90 % ; Al 0,4 -0,59 % ; Fe 0,4 – 0,59 % ; Mn 66 – 2.944 ppm ; Co 0,264 ppm ; Zn 26 – 989 ppm (http://kolamazolla.blogspot.com, 2009 b).
Azolla pinata tumbuh subur di daerah sawah dan kolam, salama ada air yang tergenang, tumbuhan paku ini dapat tumbuh subur. Azolla pinnata hanya tumbuh di daerah tropis. Bila sawah atau kolam tersebut kering maka Azolla pinnata akan mati. Azolla piñata termasuk dalam divisi Pterydophyta, yamg berarti paku- pakuan, jelas Azolla pinnata bereproduksi menggunakan spora (http:// syraru.com, 2009).
Manfaat Azolla sebagai pupuk alami penganti urea pelantaran tanaman tersebut mampu mengikat nitrogen dari udara. Nitrogen merupakan nutrisi utama bagi tanaman untuk menopang pertumbuhannya. Jumlah nitrogen yang diikat azolla melebihi kebutuhannya sendiri. Sehingga sebagian nitrogen dilepaskan ke lingkungan sekitarnya dan diserap oleh tanaman lain. Selain menghemat pupuk, tentu bermanfaat pula untuk memperbaiki tekstur tanah yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia (http:// www.kr.co.id 2009).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl yang dimulai dari bulan Februari 2009 sampai dengan April 2009.
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah benih kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq.) sebagai objek pengamatan, top soil, pasir, sub soil, pupuk kandang ayam ras sebagai media tanam, air untuk penyiraman, serta kompos Azolla (Azolla sp.) sebagai bahan pengganti sumber N.
Sedangkan alat yang digunakan adalah cangkul untuk mencangkul tanah, gembor untuk menyiram tanaman, polybag sebagai wadah penanaman, meteran untuk mengukur tinggi kecambah, dan jangka sorong untuk mengukur diameter batang kecambah.
Metode percobaan
Data percobaan dianalisis dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor yaitu:
Faktor I : Media Tanam (M) dengan dua taraf yaitu:
M1: Top soil + Pasir
M2: Sub soil + Pupuk kandang ayam ras
Faktor II: Kompos Azolla (Azolla sp.) dengan 3 taraf yaitu:
A0: Tanpa kompos Azolla
A1: Diberi kompos Azolla 7 gram
A2: Diberi kompos Azolla 14 gram
Sehingga didapat 6 kombinasi perlakuan yaitu:
M1A0 M2A0
M1A1 M2A1
M1A2 M2A2
Jumlah blok : 3
Jumlah plot per blok : 6
Jumlah kecambah per plot : 2
Jumlah kecambah seluruhnya : 36
Dari hasil percobaan dianalisis sidik ragam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan model linier sebagai berikut:
Yijk= µ + βi + αj + βk + (αβ)jk + εijk
dimana:
Yijk : nilai pengamatan pada media tanam ke-i, jumlah kompos Azolla ke-j, dan
pertumbuhan kecambah kelapa sawit ke-k
µ : Nilai tengah
βi : Efek media tanam ke-i
αj : Efek jumlah kompos Azolla ke-j
(αβ)jk : Efek interaksi antara media tanam ke-i dan jumlah kompos Azolla ke-j
εijk : Efek error yang disebabkan oleh media tanam ke-i, jumlah kompos
Azolla ke-j dan pertumbuhan kecambah kelapa sawit ke-k
Apabila data percobaan analisis tidak ragam berbeda nyata, akan diujikan dengan beda nyata jujur (BNJ) pada x = 5% .
PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Lahan
Lahan percobaan dibersihkan dari gulma dan dibuat plot sebagai tempat peletakan polibag, setelah plot selesai disekeliling bedengan dibuat pagar dan parit sedalam 30 cm.
Penyiapan Media Tanam
Pasir yang digunakan adalah pasir yang berasal dari laut, pasir dibersihkan dari bahan organik, dicampur dengan topsoil sesuai dengan perlakuan masing-masing. Kemudian media tanam campuran yakni pupuk kandang dicampur dengan topsoil sesuai dengan perlakuan masing-masing kemudian dimasukkan ke dalam polibag.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap sore hari tergantung kepada kondisi kelembaban permukaan media tanam. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor.
Penyiangan
Penyiangan dapat dilakukan dengan menggunakan alat yaitu cangkul atau dengan tangan pada saat gulma mulai tumbuh di media tanam maupun di areal penanaman.
Pemupukan
Pemupukan dilakukan pada tanaman sejak berumur 3 MSPT hingga 6 MSPT dengan menggunakan pupuk Nitroposka.
Pengamatan Parameter
Tinggi tanaman
Tinggi tanaman yang berkecambah sudah berumur 3 bulan, dihitung mulai dari permukaan tanah sampai bagian tertinggi dari tanaman.
Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna. Perhitungan jumlah daun dilakukan sejak berumur 3 MSPT hingga tanaman berumur 6 MSPT dengan interval 1 minggu.
Diameter Batang (mm)
Batang tanaman diukur diameternya pada ketinggian 1 cm diatas permukaan tanah dengan menggunakan jangka sorong. Pengukuran diameter batang dilakukan sejak tanaman 3 MSPT hingga tanaman berumur 6 MSPT dengan interval 1 minggu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1 – 38) diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST, jumlah daun 4 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST, jumlah daun 3 MST, diameter batang 4 – 8 MST.
Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1 – 38) diketahui bahwa perlakuan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST, jumlah daun 4 – 8 MST, diameter batang 6 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST, jumlah daun 3 MST, diameter batang 4 – 5 MST.
Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1 – 38) diketahui bahwa interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 5 MST, jumlah daun 4 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1, 6, 7, 8 MST, jumlah daun 5 – 8 MST, diameter batang 4 – 8 MST.
Tinggi Tunas (cm)
Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 5 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1, 6, 7, 8 MST.
Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla
Dari Tabel 1 diketahui bahwa perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu M1 (13,41) dan terendah M2 (12,79).
Dari Tabel 1 diketahui bahwa perlakuan kompos azolla terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu A2 (12,61) dan terendah A0 (10,59).
Dari Tabel 1 diketahui bahwa interaksi media tanam dan kompos azolla terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu M1A2 (19,66) dan terendah M2A0 (15,67).
Histtogram tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla
Jumlah Daun (helai)
Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 4 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 3 MST. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 5 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 3 MST. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 4 – 8 MST.
Rataan jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Rataan jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla
Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu M1 (2,15) dan terendah M2 (1,92).
Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada perlakuan kompos azolla terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu A2 (1,89) dan terendah A1 (1,83).
Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada interaksi media tanam dan kompos azolla terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu M1A1 dan M1A2 (3,00) dan terendah M2A0 dan M2A1 (2,50).
Histogram jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Histogram jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla
Diameter Tunas (mm)
Dari data pengamatan dan sidik ragam diktahui bahwa perlakuan media tanam tidak berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 4 – 8 MST. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 6 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 4 – 5 MST. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla tidak berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 4 – 8 MST.
Rataan diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Rataan diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla
Dari Tabel 3 diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter diameter tunas 8 MST tertinggi yaitu M2 (0,80) dan terendah M1 (0,79).
Dari Tabel 3 diketahui bahwa pada perlakuan kompos azolla terhadap parameter diameter tunas 8 MST tertinggi yaitu A1 (0,77) dan terendah A0 (0,60).
Dari Tabel 3 diketahui bahwa pada interaksi antara media tanam dan kompos azolla terhadap parameter diameter tunas 8 MST tertinggi yaitu M2A2 (1,24) dan terendah M1A0 (0,87).
Histogram diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada gambar 3.
Gambar 3. Histogram diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla
Pembahasan
Pengaruh Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) D X P di Pre Nursery
Dari data diketahui bahwa media tanam berbeda nyata terhadap tinggi tunas dan jumlah daun kelapa sawit. Hal ini dikarenakan media tanam yang digunakan sangat sesuai dengan kebutuhan kelapa sawit dalam pertumbuhannya. Akar kelapa sawit dapat menyerap hara dari media tanam dengan baik karena ruang pori tanah yang baik. Hal ini sesuai dengan literatur Hadi (2004) yang menyatakan bahwa Jenis tanah berhubungan erat dengan plastisitas, permiabilitas, kekerasan, kemudian olah tanah, kesuburan dan produktivitas tanah pada daerah geotropik tertentu. Akan tetapi akan berhubungan dengan adanya variasi yang terdapat pada sistem mineralogy reaksi tanah, maka ada ketentuan-ketentuan umum yang berlaku untuk semua jenis tanah
Dari hasil percobaan pada perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu M1 (13,41) dan terendah M2 (12,79). Begitu juga terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu M1 (2,15) dan terendah M2 (1,92). Hal ini disebabkan karena media tanam yang digunakan adalah pasir dan top soil dengan perbandingan 2:1, sehingga terjadi gabungan antara tekstur kasar dengan halus oleh top soil. Dimana tanah mampu menahan air yang cukup. Tekstur seperti ini adalah tekstur yang paling cocok untuk pertumbuhan benih. Hal ini sesuai dengan literatur Sianturi (1991) tanah juga harus mampu menahan air yang cukup dan hara yang tinggi secara alami maupun hara tambahan.
Pengaruh Kompos Azolla Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) D X P di Pre Nursery
Dari data diketahui bahwa kompos Azolla berbeda nyata terhadap tinggi tunas, jumlah daun dan diameter batang kelapa sawit. Hal ini dikarenakan kompos Azolla sangat baik digunakan selain sebagai media tanam juga sebagai pupuk bagi tanaman karena kompos Azolla memiliki nisbah C/N yang rendah. Hal ini sesuai dengan literatur http:kolomozolla.blogspot. com/2008/07/manfaat tanaman azolla.html (2008) yang menyatakan bahwa penggunaan sebagai pupuk, selain dalam bentuk segar bisa juga dalm bentuk kering dan kompos. Dalam bentuk kompos ini, azolla juga baik untuk media tanam. Selain digunakan secara langsung, kompos azolla juga dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3:1.
Dari hasil percobaan diketahui bahwa perlakuan kompos azolla terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu A2 (12,61) dan terendah A0 (10,59). Hal ini terjadi karena pada perlakuan yang diberi kompos azolla pertumbuhan kecambahnya jauh lebih baik dibandingkan dengan yang tidak diberi kompos azolla. Karena kompos azolla memliki N yang tinggi yang bepengaruh bagi pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur http://kolamazolla.blogspot. com/2008-07-1 archieve.html (2008) yang menyatakan bahwa kegunaan dari kompos azolla adalah sumber N dan dapat menggantikan urea sampai 100 kg serta dapat menekan pertumbuhan gulma.
Interaksi Antara Media Tanam dan Kompos Azolla Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) D X P di Pre Nursery
Dari data diketahui bahwa interaksi antara media tanam dan kompos Azolla berbeda nyata terhadap tinggi tunas dan jumlah daun kelapa sawit. Hal ini dikarenakan media tanam dapat bersatu dengan kompos Azolla dalam penyediaan hara bagi tanaman kelapa sawit. Kompos Azolla dapat terurai dengan baik pada tanah sehingga tanaman dapat menggunakan hara dengan baik. Hal ini sesuai dengan literatur http:kolomozolla.blogspot. com/2008/07/manfaat tanaman azolla.html (2008) yang menyatakan bahwa penggunaan sebagai pupuk, selain dalam bentuk segar bisa juga dalm bentuk kering dan kompos. Dalam bentuk kompos ini, azolla juga baik untuk media tanam. Selain digunakan secara langsung, kompos azolla juga dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3:1.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Media tanam berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST, jumlah daun 4 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST, jumlah daun 3 MST, diameter batang 4 – 8 MST.
2. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST, jumlah daun 4 – 8 MST, diameter batang 6 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST, jumlah daun 3 MST, diameter batang 4 – 5 MST.
3. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 5 MST, jumlah daun 4 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1, 6, 7, 8 MST, jumlah daun 5 – 8 MST, diameter batang 4 – 8 MST.
Saran
Sebaiknya dalam melakukan percobaan ini, benih yang digunakan harus bersertifikat dan penyiraman harus dilakukan secara teratur untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Chin, Soh Aik. 1989. Choice Of Planting Material. The Incorporate Society Of
Planters. Malaysia
Fauzi, Yan, dkk. 2007. Kelapa Sawit Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Limbah
Analisis Usaha & Pemasaran. Penebar Swadaya. Jakarta
Hadi, M.M. 2004. Teknik Berkebun Kelapa Sawit. Adicita Karya Nusa.
Yogyakarta
Hasibuan, B.E. 2006. Ilmu Tanah. USU Press. Medan
http://kolamazolla.blogspot.com a. Kompos Azolla (4 April 2009)
http://kolamazolla.blogspot.com b. Kompos Azolla (4 April 2009)
http://syararu.com. Azolla. (4 April 2009)
http://www.kehati.or.id. Azolla. (4 April 2009)
http://www.kr.co.id. Azolla. (4 April 2009)
International Conference. 1981. The Oil Palm In Agriculture In The Eighties
Pahan, Iyung. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari
Hulu Hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta
Risza. Suyatno, 1994. Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta
Sastrosayano, Selardi, 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta
Setyamidjaja, Djoehana. 2006. Kelapa Sawit Teknik Budidaya dan Pengolahan.
Kanisius. Yogyakarta
Sianturi, 1991. Budidaya Kelapa Sawit. USU Press. Medan
Soehardjo dkk. 1996. Vademecum Kelapa Sawit. PTP N IV (Persero) Bahjambi.
Pematang Siantar-Sumut
Tim Penulis PS. 1997. Kelapa Sawit Usaha Budidaya Pemanfaatan Hasil dan
Aspek Pemasaran. Penebar Swadaya. Jakartakelapa sawit, kompos azolla
KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) D X P
DI PRE NURSERY
LAPORAN
OLEH :
JUNITA SINAMBELA
070301054/BDP-AGRONOMI
16
LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
PENGARUH MEDIA TANAM DAN KOMPOS AZOLLA (Azolla sp.) TERHADAP PERTUMBUHAN KECAMBAH
KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) D X P
DI PRE NURSERY
LAPORAN
OLEH :
JUNITA SINAMBELA
070301054/BDP-AGRONOMI
16
Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test
di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan
Fakultas Pertanian Sumatera Utara, Medan
Disetujui Oleh
Dosen Penanggungjawab
(Ir. Balonggu Siagian, MS)
NIP. 130 806 538
Diketahui Oleh:
Asisten Koordinator
(Eko Andi Pasaribu)
NIM. 040301001 Diperiksa Oleh:
Asisten Korektor
(Hayati Silalahi)
NIM. 040301037
LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
ABSTRACT
The objective of this experiment was to know effect of media and azolla dung in growing of palma’s bud. The experiment was conducted in Agronomi Tanaman Perkebunan I Laboratory Land, Agriculture Faculty, North Sumatera University with altitude ± 25 m above sea level, from March to May 2009. The experiment used Randomized Complete Block Design (RAK) with 2 factors and 4 replications. The first factor was media, top soil, sand, sub soil, and fertilizer. The second one was azolla, 7 gr, 14 gr, and 21 gr. The experiment result showed that media gave significant effect of height and leaves of bud. Azolla gave significant effect of height and leaves of bud, and diameter of stem. Interaction between media and azolla gave significant effect of height and leaves of bud.
Keywords : media, azolla, bud
ABSTRAK
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam dan kompos azolla terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit. Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan I Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, pada ketinggian ± 25 m dpl dari bulan Maret sampai Mei 2009 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan dan empat ulangan. Faktor I adalah media tanam top soil dan pasir, sub soil dan pupuk kandang. Faktor II adalah kompos azolla 7 gr, 14 gr, 21 gr. Hasil percobaan menunjukkan bahwa media berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, jumlahdaun. Azolla berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, jumlah daun, diameter batang. Sedangkan interaksi antara media dan azolla berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, jumlah daun.
Kata kunci : media, azolla, kecambah
RIWAYAT HIDUP
Junita Sinambela lahir pada tanggal 2 April 1989 di Medan. Anak pertama dari empat bersaudara. Anak dari Bapak P. Sinambela dan Ibu N. Manurung.
Adapun pendidikan yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut:
SD Negeri 050721 di Gohor Lama Tamat tahun 2001
SMP Negeri 1 di Hinai Tamat tahun 2004
SMA Negeri 1 di Stabat Tamat tahun 2007
Penulis terdaftar sebagai mahasiswi di Departemen Budidaya Pertanian Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan melalui jalur SPMB pada pilihan pertama pada tahun 2007 sampai sekarang.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Esa karena atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.
Adapun judul dari laporan ini adalah “Pengaruh Media Tanam dan Kompos Azolla (Azolla sp.) Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)” yang merupakan salah satu syarat unutk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Balonggu Siagian, MS dan Ir. Charloq Nababan, MP selaku dosen mata kuliah Agronomi Tanaman Perkebunan serta kepada abang dan kakak asisten yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Mei 2009
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRACT i
ABSTRAK ii
RIWAYAT HIDUP iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GAMBAR viii
PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Tujuan Percobaan 2
Hipotesis Percobaan 2
Kegunaan Percobaan 3
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman 4
Syarat Tumbuh 5
Iklim 5
Tanah 6
Pembibitan Kelapa Sawit 7
Media Tanam 10
Kompos Azolla 10
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan 13
Bahan dan Alat 13
Metode Percobaan 13
PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Media Tanam 16
Aplikasi Kompos Azolla 16
Penanaman 16
Pemeliharaan Tanaman 16
Penyiraman 16
Penyiangan 17
Pengamatan Parameter 17
Tinggi Tanaman (cm) 17
Jumlah Daun (helai) 17
Diameter Batang (mm) 17
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil 19
Pembahasan 25
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan 28
Saran 28
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No. Judul Hal
1. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan
kompos azolla 20
2. Rataan jumlah daun kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan
kompos azolla 22
3. Rataan diameter tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan
kompos azolla 24
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Hal
1. Histogram tinggi tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam
dan kompos azolla 21
2. Histogram jumlah daun kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam
dan kompos azolla 23
3. Histogram diameter tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam
dan kompos azolla 25
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Hal
1. Data tinggi tunas kelapa sawit 1 MST (cm) 30
2. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 1 MST 30
3. Data tinggi tunas kelapa sawit 2 MST (cm) 30
4. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 2 MST 31
5. Data tinggi tunas kelapa sawit 3 MST (cm) 31
6. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 3 MST 31
7. Data tinggi tunas kelapa sawit 4 MST (cm) 32
8. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 4 MST 32
9. Data tinggi tunas kelapa sawit 5 MST (cm) 32
10. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 5 MST 33
11. Data tinggi tunas kelapa sawit 6 MST (cm) 33
12. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 6 MST 33
13. Data tinggi tunas kelapa sawit 7 MST (cm) 34
14. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 7 MST 34
15. Data tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) 34
16. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 8 MST 35
17. Data jumlah daun kelapa sawit 3 MST (helai) 35
18. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 3 MST 35
19. Data jumlah daun kelapa sawit 4 MST (helai) 36
20. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 4 MST 36
21. Data jumlah daun kelapa sawit 5 MST (helai) 36
22. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 5 MST 37
23. Data jumlah daun kelapa sawit 6 MST (helai) 37
24. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 6 MST 37
25. Data jumlah daun kelapa sawit 7 MST (helai) 38
26. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 7 MST 38
27. Data jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) 38
28. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 8 MST 39
29. Data diameter batang kelapa sawit 4 MST (mm) 39
30. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 4 MST 39
31. Data diameter batang kelapa sawit 5 MST (mm) 40
32. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 5 MST 40
33. Data diameter batang kelapa sawit 6 MST (mm) 40
34. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 6 MST 41
35. Data diameter batang kelapa sawit 7 MST (mm) 41
36. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 7 MST 41
37. Data diameter batang kelapa sawit 8 MST (mm) 42
38. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 8 MST 42
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kelapa sawit ( Elaeis guineensis ) berasal dari Afrika dan masuk ke Indonesia pada tahun 1848 yang ditanam di Kebun Raya Bogor (Soehardjo, dkk., 1996).
Dari tahun 1940-an sampai 1970-an, Nigeria merupakan produsen terbesar minyak sawit dunia, setingkat di atas Indonesia. Malaysia merebut kedudukan Indonesia tersebut pada tahun 1966, satu tingkat di bawah Nigeria. Kini, Malaysia menduduki rangking pertama sebagai produsen minyak sawit dunia. Untuk lebih jelasnya Negara produsen utama minyak sawit dunia adalah Malaysia, Indonesia, Nigeria, Pantai Gading, Colombia, Thailand, Papua Nugini (Tim Penulis PS, 1997).
Bagi Indonesia, tanaman memiliki arti penting bagi pembangunan perkebunan nasional.Selain mampu menciptakan kesempatan kerja yang mengarah kepada kesejahteraan masyarakat, juga sebagai sumber perolehan devisa negara. Indonesia merupakan salah satu produsen utama minyak sawit (Fauzi, dkk., 2007).
Perkebunan kelapa sawit komersial pertama di Indonesia mulai diusahakan pada tahun 1911 di Aceh dan Sumatera Utara oleh Adrien Hallet, seorang berkebangsaan Belgia. Luas kebun kelapa sawit terus bertambah, dari 1.272 hektar pada tahun 1916 menjadi 92.307 hektar pada tahun 1938 (Hadi, 2004).
Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah Malaysia. Sebanyak 85 % lebih pasar dunia kelapa sawit dikuasai oleh Indonesia dan Malaysia. Menurut Derom Bangun, ketua GAPKI (Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia), pada tahun 2008 diperkirakan Indonesia bias menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Perkebunan kelapa sawit pun bias menghadirkan prestasi-prestasi yang membanggakan dan layak untuk ditiru. Kesemuanya itu bergantung kepada manajemen dan pemimpinnya (Pahan, 2006).
Minyak nabati yang dihasilkan dari pengolahan buah kelapa sawit berupa minyak sawit mentah ( CPO atau crude palm oil) yang berwarna kuning dan minyak inti sawit (PKO atau palm kernel oil) yang tidak berwarna (jernih). CPO atau PKO banyak digunakan sebagai bahan industri pangan (minyak goreng atau margarin), industri sabun (bahan penghasil busa), industri baja (bahan pelumas), industri tekstil, kosmetik, dan bahan baker alternatif (minyak diesel) (Sastrosayono, 2003).
Dalam keadaan dapat dihasilkan 30-45 kg/ha berarti sama dengan 100 kg urea. Ditemukan juga bahwa azolla tumbuh kembang lebih baik dari pada musim penghujan dari pada musim kemarau. Kegunaan azolla adalah sumber N dapat mengganti pupuk urea samapai 100 kg, pakan ternak/hijauan, pakan ikan, terutama ayam dan itik, menekan pertumbuhan gulma. Tanaman hias, kontrol terhadap perkembangan nyamuk ( http://wikipedia.org, 2008).
Secara kimia, kompos dapat meningkatkan kapasitas tukar kation, ketersediaan unsur hara dan ketersediaan asam humat. Asam humat akan membantu meningkatkan proses pelapukan bahan mineral. Secara biologi, kompos yang tidak lain adalah bahan organik merupakan sumber bagai mikroorganisme tanah (Simamora dan Salundik, 2006).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam dan kompos Azolla (Azolla sp.) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) (D x P) di pre nursery.
Hipotesis Percobaan
Ada pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.).
Ada pengaruh kompos Azolla (Azolla sp.) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.).
Ada pengaruh interaksi media tanam dan kompos Azolla (Azolla sp.) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.).
Kegunaan Percobaan
Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Soehardjo dkk. (1996) taksonomi tanaman kelapa sawit adalah :
Divisi : Tracheopita
Subdivisi : Pteropsida
Kelas : Angiospermae
Subkelas : Monocotyledoneae
Ordo : Cocoideae
Family : Palmae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensiss Jacq.
Tanaman kelapa sawit berakar serabut yang terdiri atas akar primer, sekunder, tertier, dan kuartier. Akar-akar primer umumnya tumbuh ke bawah, sedangkan akar sekunder, tertier dan kuartier arah tumbuhnya mendatar dan ke bawah. Akar kuartier berfungsi menyerap unsur hara dan air dari dalam tanah. Akar-akar kelapa sawit banyak berkembang di lapisan tanah atas sampai kedalaman ± 1 meter dan semakin ke bawah semakin sedikit (Risza, 1994).
Besarnya batang berdiameter 25 – 75 cm, di perkebunan umumnya 45 – 60 cm ; bahkan pangkal batang bisa lebih besar lagi pada tanaman tua. Biasanya pangkal-pangkal daun melekat beberapa tahun pada batang, berangsur-angsur lepas pada umur 11 tahun, bahkan ada yang sampai 17 tahun pada tanaman setengah liar (Sianturi, 1991).
Daun kelapa sawit bersirip genapdan bertulang sejajar. Pada pangkal pelepah daun terdapat duri-duri atau bulu-bulu halus sampai kasar. Panjang pelepah daun dapat mencapai 9 m, tergantung pada umur tanaman. Helai anak daun yang terletak di tengah pelepah daun adalah yang terpanjang dan panjangnya dapat mencapai 1,20 m. Jumlah anak daun dalam satu pelepah berkisar antara 120 – 160 pasang (Setyamidjaja, 2006).
Pada tanaman kelapa sawit letak bunga jantan dan bunga betina terpisah, masing-masing tersusun pada tandan yang berbeda tetapi masih dalam satu pohon. Oleh karena itu, tanaman kelapa sawit disebut tanaman berumah satu atau monoceous. Namun demikian, terkadang dalam satu tandan terdapat bunga jantan sekaligus bunga betina. Bunga ini disebut bunga hermaprodit (Hadi, 2004).
Secara botani buah kelapa sawit digolongkan sebagai buah drupe, terdiri dari perikarp yang terbungkus oleh eksokarp (kulit), mesokarp (yang secara salah kaprah biasanya disebut perikarp) dan endocarp (cangkang) yang membungkus 1- 4 inti/kernel (umumnya hanya satu). Inti memiliki testa (kulit), endoperm yang padat, dan sebuah embrio (Pahan, 2006).
Syarat Tumbuh
Iklim
Faktor iklim sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tandan kelapa sawit. Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropika basah di sekitar lintang utara – selatan 12 derajat pada ketinggian 0 – 500 m dpl. Beberapa unsur iklim yang penting dan saling mempengaruhi adalah curah hujan, sinar matahari, suhu, kelembapan uadar, dan angin (Fauzi, dkk., 2007).
Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman heliofil atau menyukai cahaya matahari. Penyinaran matahari sangat berpengaruh terhadapat perkembangan buah kelapa sawit. Tanaman yang ternaungi karena jarak tanam yang sempit, pertunbuhannya akan terhambat karena hasil asimilasinya kurang (Sastrosayono, 2003).
Yang penting untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit adalh distribusi hujan yang merata. Kemarau panjang dapat mengakibatkan pengeringan tanah di daerah perakaran yang relatif dangkal sehingga kelembaban tanah bias berada di bawah titik layu permanen. Inilah yang membuat tanaman sawit tumbuh lambat pada daerah beriklim moonson dan produksinya kecil. Kelembaban relatif paling sedikit 75% (Sianturi, 1991).
Selain sinar matahari dan curah hujan yang cukup, untuk tumbuh dengan baik tanaman kelapa sawit memerlukan suhu yang optimum. Suhu optimum itu berkisar antara 29 – 30C. Beberapa faktor yang mempengaruhi suhu adalah lama penyinaran dan ketinggian tempat. Makin lama penyinaran atau makin rendah suatu tempat, maka akan terjadi kenaikan suhu. Suhu akan berpengaruh terhadap pembungaan dan kematangan buah (Tim Penulis PS, 1997).
Tanah
Kelapa sawit tumbuh pada beberapa jenis tanah seperti podsilik, latosol, hidromorfik, hidromorfik kelabu, regosol, andosol, organosol dan aluviall Soehardjo, dkk., 1996 ).
Tanah perkebunan kelapa sawit hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut : 1) Keasaman tanah (pH) 5,0 – 6,5 ; 2) kemiringan lahan 0 -15 ; 3) Solum 80 cm ; 4) ketinggian lahan 0 – 400 m dpl ; 5) Kedalaman air tanah 80 -150 cm dari permukaan ; 6) Drainase baik ; 7) kesuburan kimiawi cukup (diketahui dari hasil analisa tanah) (Hadi, 2004).
Pembibitan Kelapa Sawit
Benih tanaman kelapa sawit memiliki sawit yang tebal. Karena itu perlu persiapan yang lama untuk mengecambahkannya. Setelah buah masak dipanen, tandan buah diperam ( Fermentasi I ) selama 3 hari supaya semua buahnya rontok. Setelah itu, diperam lagi selama 3 hari ( Fermentasi II ) (Sastrosayono, 2003).
Pembibitan merupakan kegiatan – kegiatan awal di lapangan yang bertujuan untuk mempersiapakan bibit siap tanam. Pembibitan harus sudah dipersiapkan sekitar 1 tahun sebelum penanaman di lapangan, agar bibit yang ditanam tersebut memenuhi syarat pertama baik umurnya maupun ukurannya (Setyamidjaja, 2006). Untuk memperoleh bibit yang benar- benar sehat, unggul dan homogen maka bibit hanya dipilih ± 75 % saja. Sedangkan selebihnya 25 % sengaja dibuang (thinning out). Seleksi bibit ini sedemikian ketat karena bibitnya standar akan menentukan masa depan hasil panen dan kualitas tanaman (Rizsa, 1994).
Tahapan bibitan dapat dibagi dua yaitu : prapembibitan (prenursery) dan pembibitan utama (mainnursery) untuk pertumbuhan selanjutnya (Sianturi, 1991).
Alasan lain diperlukannya pembibitan yaitu (1) keadaan kecambah kelapa sawit yang mudah diserang insekta, tikus, dan hama lainnya ; (2) bahan tanaman memerlukan ketegakan habitusnya sehingga tidak miring atau roboh ; sertaa (3) pembibitan diperlukan untuk memperpendek waktu antara persiapan lapangan dan penanaman pertama sehingga begitu lahan siap tanam bibit sudah siap untuk ditanam (Pahan, 2006).
Pemeliharaan dan kondisi bibit dipembibitan sangat menentukan keadaan tanaman dilapangan baik keragaman maupun produktivitasnya. Untuk mendukung pertumbuhan bibit dengan baik, perlu diperhatikan syarat penetapan lokasi pembibitan : 1. Areal harus rata ; 2. Dekat dengan sumber air ; 3. Relatif dekat dengan media Pananaman ; 4. Tidak tergenang air ; 5. Jauh dari sumber hama dan penyakit tanaman (Soehardjo, dkk., 1996).
Seleksi bibit penting dilakukan karena akan menentukan hasil panen dan kualitas kelapa sawit. Untuk mendapatkan tanaman yang bersifat unggul, biji yang dipilih sebaiknya berasal dari persilangan varietas unggul. di Indonesia lebih banyak digunakan bahan tanaman yang berasal dari persilangan Dura dan Pisifera. Hasil persilangan dianggap sebagai persilangan terbaik secara ekonomis, yaitu didasarkan pada kriteria produksi minyak perhektar, mutu minyak, pertumbuhan vegetatif dan daya tahan terhadap penyakit tajuk serta ganoderma (Fauzi, 2007).
Dalam usaha membudidayakan kelapa sawit, masalah pertama yang dihadapi oleh pengusaha dan petani yang bersangkutan adalah tentang pengadaan bibit. Kualitas bibit sangat menentukan produksi akhir jenis komoditas ini. Pada umumnya pengembangbiakan tanaman kelapa sawit dilakikan secara generatif, yaitu dengan bijinya. Cara ini memang umum dilakukan dan diangap paling gampang. Akan tetapi, pengadaan bibit dalam jumlah banyak dengan cara ini mengalami beberapa kendala, antara lain bahan bibit yang diperoleh sangat terbatas dan sangat bervariasi (Tim Penulis PS, 1997).
Prenursery diawali dengan menanam kecambah kelapa sawit ke dalam tanah pada kantong plastik atau (polybag) kecil hingga berumur tiga bulan. Mainnursery diawali dengan menanam biji yang sudah berumur tiga bulan (pindahan dari prenursery) kedalam polybag yang lebih besar hingga bibit siap ditanam di areal perkebunan, atau kiar-kira 9 bulan kemudian. Jadi waktu yang dibutuhkan pada pembibitan mulai penanaman kecambah hingga bibit siap ditanam di areal perkebunan kurang lebih adalah 12 bulan (3 bulan di prenursery dan 9 bulan di main nursery) (Hadi, 2004).
Produksi benih D x P adalah mirip dengan produksi jagung hibrida. Pada benih jagung hibrida, tetua dalam turunan yang telah mengalami jumlah besar generasi yang dimuliakan, sebagai contoh selfing dan sibbing. Sungguhpun demikian anggota dari setiap turunan secara genetic homozigot dan serupa. Pada pembastaran tumbuhan secara genetik sama tetapi heterozigot. Oleh sebab itu penanaman jagung varietas hibrida menghasilkan tanaman yang tetap seragam dalam bebagai aspek (Chin, 2006).
Pemuliaan dan seleksi kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) secara sistematik telah dimulai tahun1920 di Afrika dan Asia (Malaysia dan Sumatera) ketika spesies memulai di eksploitasi untuk minyak nabati sacara komersial (Internasional Confenrence , 1981).
Media Tanam
Bila tanah banyak mengadung banyak pasir, tanah ini kurang baik untuk pertumbuhan tanaman. Tanaman yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan atau (spesific surface) yang kecil, sehingga sulit menyerap atau menahan air dan unsur hara, sehingga pada musim kemarau mudah kekurangan air. Bila jumlah pasir tidak terlalu banyak, pengaruhnya terhadap tanah akan baik, karena cukup longgar, air akan mudah meresap, dan jumlahnya cukup dikandung tanah, udara tanah mudah masuk dan tanah mudah diolah (Hasibuan, 2006).
Beberapa hal yang menentukan sifat fisik tanah adalah tekstur, struktur, konsistensi, kemiringan tanah, permeabilitas, ketebalan lapisan tanah, dan kedalaman permukaan air tanah. Tanaman kelapa sawit tumbuh baik pada daerah gembur, subur, berdrainase baik, permeabilitas sedang, dan mempunyai solum yang tebal sekitar 80 cm tanpa lapisan padas. Tekstur tanah ringan dengan kandungan pasir 20 – 60%, debu 10 – 40%, dan liat 20 -50%. Tanah yang kurang cocok adalah tanah pantai berpasir dan tanah gambut tebal (Fauzi, dkk., 2007).
Jenis media tanam terdiri atas lapisan tanah yang terdiri atas tiga fase bahan – bahan padat, cair, dan gas. Fase padat menempati hamper 50% dari volume tanah, sebagian bagi adalah bahan organik yang terakhir adalah bagian yang dijumpai paling banyak pada tanah organik (Sianturi, 1991).
Tanah dengan 25% liatnya, maka liat ini akan lebih praktis dibandingkan dengan tanah yang mengandung 100% liat, yang terdiri dari mineral yang kaya hara esensial. Pada kasus lalu tanah – tanah berpasir biasanya berhubungan dengan kandungan unsur hara yang tinggi (Risza, 1994).
Kompos Azolla ( Azolla sp. )
Azolla adalah jenis tumbuhan paku air yang mengapung banyak terdapat diperairan tergenang terutama di sawah- sawah dan di kolam, mempuyai permukaan daun yang lunak mudah berkembang dengan cepat dan hidup bersimbiosis dengan Anabaena azollae yang dapat mengfiksasi nitrogen ( N2 ) dari udara. Azolla pinnata merupakan tumbuhan kecil yang mengapung di air, terlihat berbentuk segitiga atau segiempat. Azolla berukuran 2 - 4 cm, dengan cabang, akar rhizome dan daun terapug. Akar solit, mengapung di air, berbulu, panjang 1 – 5 cm dengan membentuk kelompok 3 -6 rambut akar. Daun kecil, membentuk 2 barisan, menyirap bervariasi, duduk melekat, cuping dengan cuping dorsal berpegangan di atas permukaan air dan cuping ventral mengapung (http://www.kehati.or.id , 2009).
Kegunaan azolla adalah: sumber N dapat menganti pupuk urea sampai 100 kg, pakan ternak/hijauan, pakan ikan, terutama ayam dan itik, menekan pertumbuhan gulma, tanaman hias, kontrol terhadap perkembangan nyamuk (http://kolamazolla.blogspot.com, 2009 a).
Kandungan unsur hara dalam azolla yaitu: N 1,96–5,30 % ; P 0,16 – 1,59 % ; K 0,31 – 5,97 % ; Ca 0,45 – 1,70 % ; Mg 0,22 – 0,66 % ; S 0,22 – 0,73 % ; Si 0,16 -3,35 % ; Na 0,16 -1,31 % ; Cl 0.62 - 0,90 % ; Al 0,4 -0,59 % ; Fe 0,4 – 0,59 % ; Mn 66 – 2.944 ppm ; Co 0,264 ppm ; Zn 26 – 989 ppm (http://kolamazolla.blogspot.com, 2009 b).
Azolla pinata tumbuh subur di daerah sawah dan kolam, salama ada air yang tergenang, tumbuhan paku ini dapat tumbuh subur. Azolla pinnata hanya tumbuh di daerah tropis. Bila sawah atau kolam tersebut kering maka Azolla pinnata akan mati. Azolla piñata termasuk dalam divisi Pterydophyta, yamg berarti paku- pakuan, jelas Azolla pinnata bereproduksi menggunakan spora (http:// syraru.com, 2009).
Manfaat Azolla sebagai pupuk alami penganti urea pelantaran tanaman tersebut mampu mengikat nitrogen dari udara. Nitrogen merupakan nutrisi utama bagi tanaman untuk menopang pertumbuhannya. Jumlah nitrogen yang diikat azolla melebihi kebutuhannya sendiri. Sehingga sebagian nitrogen dilepaskan ke lingkungan sekitarnya dan diserap oleh tanaman lain. Selain menghemat pupuk, tentu bermanfaat pula untuk memperbaiki tekstur tanah yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia (http:// www.kr.co.id 2009).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl yang dimulai dari bulan Februari 2009 sampai dengan April 2009.
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah benih kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq.) sebagai objek pengamatan, top soil, pasir, sub soil, pupuk kandang ayam ras sebagai media tanam, air untuk penyiraman, serta kompos Azolla (Azolla sp.) sebagai bahan pengganti sumber N.
Sedangkan alat yang digunakan adalah cangkul untuk mencangkul tanah, gembor untuk menyiram tanaman, polybag sebagai wadah penanaman, meteran untuk mengukur tinggi kecambah, dan jangka sorong untuk mengukur diameter batang kecambah.
Metode percobaan
Data percobaan dianalisis dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor yaitu:
Faktor I : Media Tanam (M) dengan dua taraf yaitu:
M1: Top soil + Pasir
M2: Sub soil + Pupuk kandang ayam ras
Faktor II: Kompos Azolla (Azolla sp.) dengan 3 taraf yaitu:
A0: Tanpa kompos Azolla
A1: Diberi kompos Azolla 7 gram
A2: Diberi kompos Azolla 14 gram
Sehingga didapat 6 kombinasi perlakuan yaitu:
M1A0 M2A0
M1A1 M2A1
M1A2 M2A2
Jumlah blok : 3
Jumlah plot per blok : 6
Jumlah kecambah per plot : 2
Jumlah kecambah seluruhnya : 36
Dari hasil percobaan dianalisis sidik ragam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan model linier sebagai berikut:
Yijk= µ + βi + αj + βk + (αβ)jk + εijk
dimana:
Yijk : nilai pengamatan pada media tanam ke-i, jumlah kompos Azolla ke-j, dan
pertumbuhan kecambah kelapa sawit ke-k
µ : Nilai tengah
βi : Efek media tanam ke-i
αj : Efek jumlah kompos Azolla ke-j
(αβ)jk : Efek interaksi antara media tanam ke-i dan jumlah kompos Azolla ke-j
εijk : Efek error yang disebabkan oleh media tanam ke-i, jumlah kompos
Azolla ke-j dan pertumbuhan kecambah kelapa sawit ke-k
Apabila data percobaan analisis tidak ragam berbeda nyata, akan diujikan dengan beda nyata jujur (BNJ) pada x = 5% .
PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Lahan
Lahan percobaan dibersihkan dari gulma dan dibuat plot sebagai tempat peletakan polibag, setelah plot selesai disekeliling bedengan dibuat pagar dan parit sedalam 30 cm.
Penyiapan Media Tanam
Pasir yang digunakan adalah pasir yang berasal dari laut, pasir dibersihkan dari bahan organik, dicampur dengan topsoil sesuai dengan perlakuan masing-masing. Kemudian media tanam campuran yakni pupuk kandang dicampur dengan topsoil sesuai dengan perlakuan masing-masing kemudian dimasukkan ke dalam polibag.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap sore hari tergantung kepada kondisi kelembaban permukaan media tanam. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor.
Penyiangan
Penyiangan dapat dilakukan dengan menggunakan alat yaitu cangkul atau dengan tangan pada saat gulma mulai tumbuh di media tanam maupun di areal penanaman.
Pemupukan
Pemupukan dilakukan pada tanaman sejak berumur 3 MSPT hingga 6 MSPT dengan menggunakan pupuk Nitroposka.
Pengamatan Parameter
Tinggi tanaman
Tinggi tanaman yang berkecambah sudah berumur 3 bulan, dihitung mulai dari permukaan tanah sampai bagian tertinggi dari tanaman.
Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna. Perhitungan jumlah daun dilakukan sejak berumur 3 MSPT hingga tanaman berumur 6 MSPT dengan interval 1 minggu.
Diameter Batang (mm)
Batang tanaman diukur diameternya pada ketinggian 1 cm diatas permukaan tanah dengan menggunakan jangka sorong. Pengukuran diameter batang dilakukan sejak tanaman 3 MSPT hingga tanaman berumur 6 MSPT dengan interval 1 minggu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1 – 38) diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST, jumlah daun 4 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST, jumlah daun 3 MST, diameter batang 4 – 8 MST.
Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1 – 38) diketahui bahwa perlakuan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST, jumlah daun 4 – 8 MST, diameter batang 6 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST, jumlah daun 3 MST, diameter batang 4 – 5 MST.
Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1 – 38) diketahui bahwa interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 5 MST, jumlah daun 4 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1, 6, 7, 8 MST, jumlah daun 5 – 8 MST, diameter batang 4 – 8 MST.
Tinggi Tunas (cm)
Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 5 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1, 6, 7, 8 MST.
Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla
Dari Tabel 1 diketahui bahwa perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu M1 (13,41) dan terendah M2 (12,79).
Dari Tabel 1 diketahui bahwa perlakuan kompos azolla terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu A2 (12,61) dan terendah A0 (10,59).
Dari Tabel 1 diketahui bahwa interaksi media tanam dan kompos azolla terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu M1A2 (19,66) dan terendah M2A0 (15,67).
Histtogram tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla
Jumlah Daun (helai)
Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 4 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 3 MST. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 5 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 3 MST. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 4 – 8 MST.
Rataan jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Rataan jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla
Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu M1 (2,15) dan terendah M2 (1,92).
Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada perlakuan kompos azolla terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu A2 (1,89) dan terendah A1 (1,83).
Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada interaksi media tanam dan kompos azolla terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu M1A1 dan M1A2 (3,00) dan terendah M2A0 dan M2A1 (2,50).
Histogram jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Histogram jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla
Diameter Tunas (mm)
Dari data pengamatan dan sidik ragam diktahui bahwa perlakuan media tanam tidak berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 4 – 8 MST. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 6 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 4 – 5 MST. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla tidak berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 4 – 8 MST.
Rataan diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Rataan diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla
Dari Tabel 3 diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter diameter tunas 8 MST tertinggi yaitu M2 (0,80) dan terendah M1 (0,79).
Dari Tabel 3 diketahui bahwa pada perlakuan kompos azolla terhadap parameter diameter tunas 8 MST tertinggi yaitu A1 (0,77) dan terendah A0 (0,60).
Dari Tabel 3 diketahui bahwa pada interaksi antara media tanam dan kompos azolla terhadap parameter diameter tunas 8 MST tertinggi yaitu M2A2 (1,24) dan terendah M1A0 (0,87).
Histogram diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada gambar 3.
Gambar 3. Histogram diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla
Pembahasan
Pengaruh Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) D X P di Pre Nursery
Dari data diketahui bahwa media tanam berbeda nyata terhadap tinggi tunas dan jumlah daun kelapa sawit. Hal ini dikarenakan media tanam yang digunakan sangat sesuai dengan kebutuhan kelapa sawit dalam pertumbuhannya. Akar kelapa sawit dapat menyerap hara dari media tanam dengan baik karena ruang pori tanah yang baik. Hal ini sesuai dengan literatur Hadi (2004) yang menyatakan bahwa Jenis tanah berhubungan erat dengan plastisitas, permiabilitas, kekerasan, kemudian olah tanah, kesuburan dan produktivitas tanah pada daerah geotropik tertentu. Akan tetapi akan berhubungan dengan adanya variasi yang terdapat pada sistem mineralogy reaksi tanah, maka ada ketentuan-ketentuan umum yang berlaku untuk semua jenis tanah
Dari hasil percobaan pada perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu M1 (13,41) dan terendah M2 (12,79). Begitu juga terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu M1 (2,15) dan terendah M2 (1,92). Hal ini disebabkan karena media tanam yang digunakan adalah pasir dan top soil dengan perbandingan 2:1, sehingga terjadi gabungan antara tekstur kasar dengan halus oleh top soil. Dimana tanah mampu menahan air yang cukup. Tekstur seperti ini adalah tekstur yang paling cocok untuk pertumbuhan benih. Hal ini sesuai dengan literatur Sianturi (1991) tanah juga harus mampu menahan air yang cukup dan hara yang tinggi secara alami maupun hara tambahan.
Pengaruh Kompos Azolla Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) D X P di Pre Nursery
Dari data diketahui bahwa kompos Azolla berbeda nyata terhadap tinggi tunas, jumlah daun dan diameter batang kelapa sawit. Hal ini dikarenakan kompos Azolla sangat baik digunakan selain sebagai media tanam juga sebagai pupuk bagi tanaman karena kompos Azolla memiliki nisbah C/N yang rendah. Hal ini sesuai dengan literatur http:kolomozolla.blogspot. com/2008/07/manfaat tanaman azolla.html (2008) yang menyatakan bahwa penggunaan sebagai pupuk, selain dalam bentuk segar bisa juga dalm bentuk kering dan kompos. Dalam bentuk kompos ini, azolla juga baik untuk media tanam. Selain digunakan secara langsung, kompos azolla juga dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3:1.
Dari hasil percobaan diketahui bahwa perlakuan kompos azolla terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu A2 (12,61) dan terendah A0 (10,59). Hal ini terjadi karena pada perlakuan yang diberi kompos azolla pertumbuhan kecambahnya jauh lebih baik dibandingkan dengan yang tidak diberi kompos azolla. Karena kompos azolla memliki N yang tinggi yang bepengaruh bagi pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur http://kolamazolla.blogspot. com/2008-07-1 archieve.html (2008) yang menyatakan bahwa kegunaan dari kompos azolla adalah sumber N dan dapat menggantikan urea sampai 100 kg serta dapat menekan pertumbuhan gulma.
Interaksi Antara Media Tanam dan Kompos Azolla Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) D X P di Pre Nursery
Dari data diketahui bahwa interaksi antara media tanam dan kompos Azolla berbeda nyata terhadap tinggi tunas dan jumlah daun kelapa sawit. Hal ini dikarenakan media tanam dapat bersatu dengan kompos Azolla dalam penyediaan hara bagi tanaman kelapa sawit. Kompos Azolla dapat terurai dengan baik pada tanah sehingga tanaman dapat menggunakan hara dengan baik. Hal ini sesuai dengan literatur http:kolomozolla.blogspot. com/2008/07/manfaat tanaman azolla.html (2008) yang menyatakan bahwa penggunaan sebagai pupuk, selain dalam bentuk segar bisa juga dalm bentuk kering dan kompos. Dalam bentuk kompos ini, azolla juga baik untuk media tanam. Selain digunakan secara langsung, kompos azolla juga dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3:1.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Media tanam berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST, jumlah daun 4 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST, jumlah daun 3 MST, diameter batang 4 – 8 MST.
2. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST, jumlah daun 4 – 8 MST, diameter batang 6 – 8 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST, jumlah daun 3 MST, diameter batang 4 – 5 MST.
3. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 5 MST, jumlah daun 4 MST, dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1, 6, 7, 8 MST, jumlah daun 5 – 8 MST, diameter batang 4 – 8 MST.
Saran
Sebaiknya dalam melakukan percobaan ini, benih yang digunakan harus bersertifikat dan penyiraman harus dilakukan secara teratur untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Chin, Soh Aik. 1989. Choice Of Planting Material. The Incorporate Society Of
Planters. Malaysia
Fauzi, Yan, dkk. 2007. Kelapa Sawit Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Limbah
Analisis Usaha & Pemasaran. Penebar Swadaya. Jakarta
Hadi, M.M. 2004. Teknik Berkebun Kelapa Sawit. Adicita Karya Nusa.
Yogyakarta
Hasibuan, B.E. 2006. Ilmu Tanah. USU Press. Medan
http://kolamazolla.blogspot.com a. Kompos Azolla (4 April 2009)
http://kolamazolla.blogspot.com b. Kompos Azolla (4 April 2009)
http://syararu.com. Azolla. (4 April 2009)
http://www.kehati.or.id. Azolla. (4 April 2009)
http://www.kr.co.id. Azolla. (4 April 2009)
International Conference. 1981. The Oil Palm In Agriculture In The Eighties
Pahan, Iyung. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari
Hulu Hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta
Risza. Suyatno, 1994. Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta
Sastrosayano, Selardi, 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta
Setyamidjaja, Djoehana. 2006. Kelapa Sawit Teknik Budidaya dan Pengolahan.
Kanisius. Yogyakarta
Sianturi, 1991. Budidaya Kelapa Sawit. USU Press. Medan
Soehardjo dkk. 1996. Vademecum Kelapa Sawit. PTP N IV (Persero) Bahjambi.
Pematang Siantar-Sumut
Tim Penulis PS. 1997. Kelapa Sawit Usaha Budidaya Pemanfaatan Hasil dan
Aspek Pemasaran. Penebar Swadaya. Jakartakelapa sawit, kompos azolla
pengaruh penggosokan benih dan media tanam pada perkecambahan benih karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg)
PENGARUH PENGGOSOKAN BENIH DAN MEDIA
TANAM PADA PERKECAMBAHAN BENIH
KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg)
LAPORAN
OLEH :
JUNITA SINAMBELA
070301054/BDP-AGRONOMI
16
LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
PENGARUH PENGGOSOKAN BENIH DAN MEDIA
TANAM PADA PERKECAMBAHAN BENIH
KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg)
LAPORAN
OLEH :
JUNITA SINAMBELA
070301054/BDP-AGRONOMI
16
Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test
di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan
Fakultas Pertanian Sumatera Utara, Medan
Disetujui Oleh
Dosen Penanggungjawab
(Ir. Balonggu Siagian, MS)
NIP. 130 806 538
Diketahui Oleh:
Asisten Koordinator
(Eko Andi Pasaribu)
NIM. 040301001
Diperiksa Oleh:
Asisten Korektor
(Hayati Silalahi)
NIM. 040301037
LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
ABSTRACT
The objective of this experiment was to know effect of rubbed and media in growing of rubber seed. The experiment was conducted in Agronomi Tanaman Perkebunan I Laboratory Land, Agriculture Faculty, North Sumatera University with ± 25 m above sea level, from March to April 2009. The experiment used Randomized Complete Block Design (RAK) with 2 factors and 4 replications. The first factor was rubbed, with no rubbed and with rubbed. The second one was the media that consist of sand, sand and top soil, top soil. The experiment result showed that rubbed gave significant effect of presentation of seed, speed of seed growth, height of plumule. Media gave significant effect of speed of seed growth ang height of plumule. Interaction between rubbed ang media did’nt gave effect of all the parameter.
Key words : media, rubbed, seed
ABSTRAK
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggosokan benih dan media tanam pada perkecambahan benih karet. Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan I Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan pada ketinggian tempat ± 25 m dpl dari bulan Maret sampai April 2009 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan dan empat ulangan. Faktor I adalah penggosokan, yaitu benih tanpa digosok, benih yang digosok. Faktor II adalah faktor media yaitu pasir, pasir dan top soil, top soil. Hail percobaan menunjukkan bahwa penggosokan benih berpengaruh nyata terhadap persentase perkecambahan benih, laju perkecambahan benih, tinggi plumula. Media berpengaruh nyata terhadap laju perkecambahan benih karet, tinggi plumula. Sedangkan interaksi antara penggosokan dan media tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter.
Kata kunci : media, penggosokan, benih
RIWAYAT HIDUP
Junita Sinambela lahir pada tanggal 2 April 1989 di Medan. Anak pertama dari empat bersaudara. Anak dari Bapak P. Sinambela dan Ibu N. Manurung.
Adapun pendidikan yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut:
SD Negeri 050721 di Gohor Lama Tamat tahun 2001
SMP Negeri 1 di Hinai Tamat tahun 2004
SMA Negeri 1 di Stabat Tamat tahun 2007
Penulis terdaftar sebagai mahasiswi di Departemen Budidaya Pertanian Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan melalui jalur SPMB pada pilihan pertama pada tahun 2007 sampai sekarang.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Esa karena atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.
Adapun judul dari laporan ini adalah “Pengaruh Penggosokan Benih dan Media Tanam pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg)” yang merupakan salah satu syarat unutk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Balonggu Siagian, MS dan Ir. Charloq Nababan, MP selaku dosen mata kuliah Agronomi Tanaman Perkebunan serta kepada abang dan kakak asisten yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Mei 2009
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRACT i
ABSTRAK ii
RIWAYAT HIDUP iii
KATA PENGANTAR vi
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GAMBAR viii
DAFTAR LAMPIRAN ix
PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Tujuan Percobaan 3
Hipotesis Percobaan 3
Kegunaan Percobaan 3
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman 4
Syarat Tumbuh 5
Iklim 5
Tanah 6
Media Tanam 7
Penggosokan Benih Karet 8
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan 10
Bahan dan Alat 10
Metode Percobaan 10
PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Media Tanam 12
Penggosokan Benih 12
Penanaman Benih 12
Pemeliharaan Tanaman 12
Penyiraman 12
Penyiangan 13
Pengamatan Parameter 13
Persentase Perkecambahan (%) 13
Tinggi Plumula (cm) 13
Laju Perkecambahan (hari) 13
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil 15
Pembahasan 20
KESIMPULAN
Kesimpulan 24
Saran 24
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No. Judul Hal
1. Rataan persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan
penggosokan dan media tanam 16
2. Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan
penggosokan dan media tanam 17
3. Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan
penggosokan dan media tanam 19
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Hal
1. Histogram persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan
penggosokan dan media tanam 17
2. Histogram laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan
penggosokan dan media tanam 18
3. Histogram tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan
penggosokan dan media tanam 20
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Hal
Lampiran 1. Data persentase perkecambahan benih karet (%) 26
Lampiran 2. Sidik ragam persentase perkecambahan benih karet (%) 26
Lampiran 3. Data laju perkecambahan benih karet (hari) 26
Lampiran 4. Sidik ragam laju perkecambahan benih karet (hari) 27
Lampiran 5. Data tinggi plumula benih karet 3 MST (cm) 27
Lampiran 6. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 3 MST (cm) 27
Lampiran 7. Data tinggi plumula benih karet 4 MST (cm) 28
Lampiran 8. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 4 MST (cm) 28
Lampiran 9. Data tinggi plumula benih karet 5 MST (cm) 28
Lampiran 10. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 5 MST (cm) 29
Lampiran 11. Data tinggi plumula benih karet 6 MST (cm) 29
Lampiran 12. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 6 MST (cm) 29
Lampiran 13. Data tinggi plumula benih karet 7 MST (cm) 30
Lampiran 14. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 7 MST (cm) 30
Lampiran 15. Data tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) 30
Lampiran 16. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) 31
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ferris pada tahun 1872 mengirimkan 2000 biji dari Brazilia ke Kebun Raya Kew di Inggris, kemudian tahun 1875. Kedua kiriman tersebut mengalami kegagalan. Selanjutnya Wikham pada tahun 1876 kembali dari Brazilia dan membawa 70.000 biji karet ke Kew. Sebanyak 2.397 biji berkecambah, kira-kira 1900 biji dikirim ke Srilanka, beberapa biji ke Malaysia dan hanya dua biji ke Kebun Raya Bogor, Indonesia. Salah satu pohon karet tersebut tumbang tahun 1962. Karet di Indonesia telah 120 tahun dan peringatan satu abad telah diadakan tahun 1976 (Sianturi, 2001).
Sejak tahun 1839 karet menjadi primadona perkebunan di daerah daerah tropis. Pada sekitar tahun itu pula Charles Goodyear menemukan vulkanisasi karet dengan cara mencampurkannya dengan belerang dan memanaskan pada suhu 120-130C. Alexander Parkes juga mengembangkan cara vulkanisasi ini. Penemuan tentang vulkanisasi memberikan inspirasi Dunlop pada tahun 1888 untuk membuat ban mobil yang selanjutnya dikembangkan oleh Goldrich (Setiawan dan Agus, 2005).
Dewasa ini karet merupakan bahan baku yang menghasilkan lebih dati 50.000 jenis barang. Dari produksi karet alam 46% digunakan untuk membuat ban dan selebihnya untuk karet busa, sepatu dan beribu-ribu jenis barang lainnya yang juga berbahan dasar karet (Setyamidjaja, 1993).
Produk karet merupakan komoditi ekspor yang sangat penting karena manfaatnya yaitu dapat diolah menjadi bahan baker dasar bagi kepentingan produksi barang-barang penting di dunia, seperti: ban kendaraan bermotor, campuran benang rayon, campuran bahan plastik, ebonite, dan lain sebagainya yang sangat diperlukan beberapa negara. Memang untuk mencukupi keperluan bahan karet dunia telah diciptakan karet sintetis, akan tetapi nilainya jauh lebih rendah dari bahan karet alam (Kartasapoetra, 1988).
Karet merupakan salah satu komoditas perkebunan di Indonesia. Komoditas ini sudah dikenal dan dibudidayakan dalam kurun waktu yang lebih lama daripada komoditas perkebunan lainnya. Sayangnya, posisi Indonesia yang pada awal pembudidayaan karet merupakan penghasil karet utama di dunia sudah digantikan oleh Malaysia, yang sebenarnya masih belum lama dalam hal membudidayakan karet (Siregar, 1995).
Perlakuan pengasahan kulit biji benih yaitu dengan maksud untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan pada bagian spesies yang mempunyai kulit biji yang keras dan yang sangat keras dan ada yang sangat tebal (Sutopo, 1998).
Media tanam, hasil maksimal didapatkan jika di tanah – tanah subur, berpasir, dapat melakukan air dan tidak berpadas (kedalaman padas dapat ditolerir adalah 2 – 3 m. Tanah ulitisol yang kurang sudur banyak ditanami karet dengan pemupukan dan pengolahan yang baik (Setiawan dan Handoko, 2006).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari cobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggosokan benih dan media tanam pada perkecambahan benih karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg.).
Hipotesis Percobaan
Ada pengaruh penggosokan benih terhadap perkecambahan benih karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg.).
Ada pengaruh media tanam terhadap perkecambahan benih karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg.).
Ada pengaruh interaksi penggosokan benih dan media tanam terhadap perkecambahan benih karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg.).
Kegunaan Percobaan
Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Setiawan dan Agus (2005) klasifikasi tanaman karet adalah sebagai berikut.
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Euphorbiales
Family : Euphorbiaceae
Genus : Hevea
Spesies : Hevea brasiliensis Muell Arg.
Sistem perakarannya padat/kompak, akar tunggangnya dapat menghujam tanah hingga kedalaman 1-2 m, sedangkan akar lateralnya dapat menyebar sejauh 10 m (Syamsulbahri, 1996).
Tanaman karet merupakan tanaman yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 m. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memeiliki percabangan yang tinggi diatas. Dibeberapa kebun karet arah tumbuhnya tanaman agak miring ke arah utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks (Tim Penulis, 1993).
Daun karet terdiri dari tangkai utama sepanjang 3-20 cm dan tangkai anak daun sepanjang 3-10 cm dengan kelenjar di ujungnya. Setiap daun karet biasanya terdiri dari 3 anak daun yang berbentuk elips memanjang dengan ujung runcing. Daun karet ini berwarna hijau dan menjadi kuing atau merah menjelang rontok. Seperti kebanyakan tanaman tropis, daun-daun karet akan rontok pada puncak musim kemarau untuk mengurangi penguapan tanaman (Setiawan dan Agus, 2005).
Tanaman karet adalah tanaman berumah satu (monoecus). Pada satu tangkai bunga yang berbentuk bunga majemuk terdapat bunga jantan dan bunga betina. Penyerbukannya dapat terjadi dengan penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang (Setyamidjaja, 1993).
Buah beruang tiga, jarang yang beruang empat hingga enam, diameter buah 3-5 cm dan terpisah 3,4 atau 6 cocci berkatup dua, perikarp berbatok, endokarp berkayu. Biji besar, bulat bersegi empat, tertekan pada satu atau dua sisinya, berkilat, berwarna coklat muda dengan noda-noda coklat tua, panjang 2-3,5 cm dan lebar 1,5-3 cm dan tebal 1,5-2,5 cm (Sianturi, 2001).
Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman karet adalah tanaman tropis, secara geografis tersebar diantara 100LU hingga 100LS. Zona paling cocok dan paling produktif adalah 60LU hingga 60LS. Penyebaran pertanaman karet sangat dipengaruhi oleh penyebaran hujan dan tinggi tempat dari permukaan laut. Itulah sebabnya, tidak semua propinsi di Indonesia memiliki perkebunan karet (Sianturi, 2001).
Karet termasuk tanaman daratan rendah, yaitu bias tumbuh baik di dataran dengan ketinggian 0-400 m dari permukaan laut (dpl). Di ketinggian tersebut suhu harian 25-300C. Jika dalam jangka waktu yang cukup panjang suhu rata-rata kurang dari 200C, tempat tersebut tidak cocok untuk budidaya karet. suhu yang lebih dari 300C juga mengakibatkan karet tidak bisa tumbuh dengan baik (Setiawan dan Agus, 2005).
Curah hujan tahunan yang cocok untuk pertumbuhan tanaman karet tidak kurang dari 2000 mm. Optimal antara 2500-4000 mm per tahun, yang terbagi dalam 100-150 hari hujan. Pembagian hujan dan waktu jatuhnya hujan rata-rata setahunnya mempengaruhi produksi. Daerah yang sering mengalami hujan pada pagi hari produksinya akan kurang. Keadaan iklim di Indonesia yang cocok untuk tanaman karet ialah daerah-daerah Indonesia bagian barat, yaitu Sumatera, Jawa dan Kalimantan, sebab iklimnya lebih basah (Setiamidjaja, 1993).
Kelembapan nisbi (RH) yang sesuai untuk tanaman karet adalah rata-rata berkisar antara 75-90 %. Kelembapan yang terlalu tinggi tidak baik untuk tanaman karet (Sianturi, 2001).
Tanah
Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah baik pada tanah-tanah vulkanis muda ataupaun vulkanis tua, alluvial dan bahkan tanah gambut. Tanah-tanah vulkanis umumnya memiliki sifat-sifat fisika yang cukup baik, terutama dari segi struktur, tekstur, solum, kedalaman air tanah, aerasi dan drainesenya. Akan tetapi sifat-sifat kimianya umumnya sudah kurang baik, karena kandungan haranya relatif rendah. Tanah-tanah alluvial umumnya cukup subur, tetapi sifat fisisnya terutama drainase dan aerasinya kurang baik. Pembuatan saluran drainase akan menolong memperbaiki keadaan tanah ini (Setyamidjaja, 1993).
Untuk mengetahui kemampuan lahan sebaiknya diketahui kesesuaian tanah dan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman karet untuk dapat memperoleh produksi dan keuntungan ekonomis yang optimal. Sifat fisis, kimia, dan fisiografis yang menjadi factor pembatas kesesuaian tanah untuk tanaman karet, yang diinginkan tanaman karet antara lain adalah tanah yang mempunyai lapisan padas lebuh dari 1m, jumlah pasir sama dengan liat, drainase baik, retensi air >150 cm/m, permebilitas sedang, pH 4,5, kemiringan tanah 0-8%, tidak banjir dan tidak ada stagnasi air (Sianturi, 2001).
Media Tanam
Bila tanah terlalu banyak mengandung pasir, tanah ini kurang baik untuk pertunbuhan tananaman. Tanah yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan (specific surface) yang kecil, sehingga sulit menyerap atau menahan air dan unsur hara, sehingga pada musim kemarau mudah kekurangan air. Bila jumlah pasir tidak terlalu banyak pengaruhnya terhadap tanah akan baik karena cukup longgar, air akan mudah di serap dan cukup dikandung tanah, udara tanah mudah masuk dan tanah mudah diolah (Hasibuan, 2006).
Distribusi ukuran partikel dan kelas tekstur mempunyai korelasi dengan air, udara, unsur hara, mintakat perakaran, kemudahan diolah dan yang terpenting adalah masalah kesuburan. Sifat umum tanah sangat ditentukan oleh tekstur (Sutanto, 2005).
Jenis tanah berhubungan sangat erat dengan plastisitas, permeability, kekerasan, kemudahan olah, kesuburan dan produktivitas tanah pada daerah geografik tertentu akan tetapi berhubungan adanya variasi yang terdapat dalam sistim mineralogi fisik tanah, maka belum berlaku untuk semua jenis tanah di permukaan bumi (Buckman dan Brady, 1982).
Media yang digunakan untuk penyemaian biasa hanya terdiri atas pasir saja tetapi kadang-kadang juga diberi campuran sekam padi, lumut yang telah membusuk, tanah gembur, kompos, topsoil, dan benih. Asalkan tanahnya gembur dan halus, sehingga akar baru yang keluar tidak terhambat pertumbuhannya (Widianto, 2000).
Partikel-partikel pasir yang ukurannya yang jauh lebih besar dan memiliki permukaan yang kecil (dengan berat yang sama) dibandingkan dengan debu dan liat. Oleh karena itu, peranannya dalam mengatur sifat-sifat tanah, semakin tinggi persentase pasir dalam tanah, semakin banyak pori-pori di antara partikel tanah dan hal ini dapat memperlancar gerakan udara/air (Hartman, et al., 1981).
Penggosokan Benih
Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji, keadaan fisiologis dari embrio atau kombinasi dari kedua keadaan tersebut. Sebagai contoh, kulit biji yang impermiabel terhadap air dan gas sering dijumpai pada benih- benih dari famili Leguminosae (Sutopo, 1999).
Benih yang mengalami dormansi biasanya disebabkan oleh: a) Rendahnya dan tidak adanya proses imbibisi air yang disebabkan oleh struktur benih (kulit benih) yang keras, sehingga mempersulit keluar masuknya air ke dalam benih (http://digilib.umm.ac.id, 2009).
Perlakuan mekanis (skarifikasi) pada kulit biji dilakukan dengan cara penusukan, penggoresan, pemecahan, pengikiran atau pembakaran, dengan bantuan pisau, jarum, kikir, kertas gosok atau lainnya adalah cara efektif untuk mengatasi dormansi fisik. Karena setiap benih ditangani secara manual, dapat diberikan perlakuan individu sesuai dengan ketebalan biji. Pada hakekatnya semua benih dibuat permeable dengan resiko kerusakan yang kecil, asal daerah radikel tidak rusak (Schmidt, 2002)(http://www.iptek.net.id, 2009).
Skarifikasi mencakup cara – cara seperti mengkikis atau menggoreskan atau menggosok kulit biji yang mengalami sumbat gabus dimana semua permiabel terhadap air atau gas (Lakitan , 2003).
Manfaat penggosokan benih adalah untuk memecahkan dormansi pada benih agar benih dapat berkecambah dengan baik karena benih yang memiliki kulit yang jeras harus dilakukan pemecahan dormansi untuk mempercepat proses perkecambahan baik dengan cara mengkikis ataupun mengikir kulit benih (Sadjad, 1993).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian,Universitas Sumatera Utara, Medan. Dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl yang dimulai dari bulan Februari 2009 sampai dengan April 2009.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah stunp mata tidur karet klon IRM sebagai objek pengamatan, pasir dan topsoil sebagai media tanam, air untuk penyiraman, serta kertas pasir untuk menggosok benih karet.
Alat yang digunakan adalah cangkul untuk mencampur tanah, gembor untuk menyiram tanaman dan polibag sebagai wadah penanaman, meteran untuk mengukur tinggi plumula.
Metode percobaan
Data percobaan dianalisis dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor yaitu:
Faktor I : Penggosokan benih (P) dengan dua taraf yaitu:
P1 : Benih tanpa digosok
P2 : Benih digosok hingga nampak mata embrio
Faktor II: Media Tanam (M) dengan 3 taraf yaitu:
M0 : Pasir
M1 : Pasir + Top soil
M2 : Top soil
Sehingga didapat 6 kombinasi perlakuan yaitu:
P0M0 P1M0
P0M1 P1M1
P0M2 P1M2
Jumlah ulangan : 6
Jumlah petak percobaan : 36
Jumlah benih per petak : 2
Jumlah benih yang dibutuhkan: 64
Dari hasil percobaan dianalisis sidik ragam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan model linier sebagai berikut:
Yijk= µ + βi + αj + βk + (αβ)jk + εijk
dimana:
Yijk : Nilai pengamatan pada penggosokan benih ke-i, media tanam ke-j, dan
perkecambahan benih karet ke-k
µ : Nilai tengah
βi : Efek penggosokan benih ke-i
αj : Efek media tanam ke-j
(αβ)jk : Efek interaksi antara penggosokan benih ke-i dan media tanam ke-j
εijk : Efek error yang disebabkan oleh penggosokan benih ke-i, media tanam
ke-j, dan perkecambahan benih karet ke-k
Apabila data percobaan analisis tidak ragam berbeda nyata, akan diujikan dengan beda nyata jujur (BNJ) pada x = 5% .
PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan media tanam
Disiapkan polibag berukuran 10 kg dan diisi dengan media pasir (M0), pasir + top soil dengan perbandingan 2:1 (M1), dan top soil (M2).
Penggosokan Benih
Proses penggosokan benih dilakukan sebelum dilakukan penanaman. Dimana proses penggosokan bertujuan untuk memecahkan dormansi benih karet akibat kulit benih yang keras dan dilakukan dengan menggunakan kertas pasir sampai terlihat embrio.
Penanaman Benih
Benih karet ditanam di polibag yang diisi tanah sesuai dengan perlakuan, dan dimasukkan ke dalam polibag dan sebaiknya jangan ditanam terlalu dalam.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap sore hari tergantung kepada kondisi kelembaban permukaan media tanam. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan setiap minggunya dengan cara mencabut gulma yang tumbuh pada polibag.
Pengamatan Parameter
Persentase perkecambahan (%)
Persentase perkecambahan diambil data berupa jumlah tanaman yang tumbuh dan dibagi jumlah seluruhnya dikalikan 100% dan data diambil setiap minggunya.
Jumlah tanaman yang tumbuh
Persentase Perkecambahan = x 100 %
Jumlah tanaman seluruhnya
Tinggi Plumula (cm)
Tinggi plumula dihitung dari plumula yang tumbuh sampai pada titik tumbuh.
Laju Perkecambahan (hari)
Laju perkecambahan diambil data berupa jumlah karet yang tumbuh. Nilai laju perkecambahan dapat diperoleh dari rumus sebagai berikut :
N1T1 + N2T2 + N3T3 + ........ + NnTn
Laju Perkecambahan :
T1 + T2 + T3 + .... + Tn
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1-16) diketahui bahwa perlakuan penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet, laju perkecambahan benih karet, tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Dan tidak ada parameter yang tidak berbeda nyata.
Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1-16) diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih, dan tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Dan tidak berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet.
Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1-16) diketahui bahwa interaksi antara perlakuan penggosokan dan media tanam tidak ada parameter yang berbeda nyata. Dan tidak berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet, laju perkecambahan benih karet, tinggi plumula benih karet 3-8 MST.
Persentase Perkecambahan (%)
Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan media tanam tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman, penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet, dan interaksi antara penggosokan dan media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet.
Rataan persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rataan persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam.
Dari Tabel 1, diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1 (74,42%) dan terendah pada P0 (73,00%).
Dari Tabel 1, diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M1 (65,78) dan terendah pada M0 (65,22).
Dari Tabel 1, diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1M1 (99,67) dan terendah pada P0M0 (97,00).
Histogram persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Histogram persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam
Laju Perkecambahan Benih (hari)
Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan penggosokan dan media tanam berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih karet, Dan interaksi penggosokan dan media tanam tidak berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih karet.
Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam
Dari Tabel 2, diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P0 (5,19) dan terendah pada P1 (3,13).
Dari Tabel 2, diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M0 (4,29) dan terendah pada M1 (3,26).
Dari Tabel 2, diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P0M0 (7,77) dan terendah pada P1M1 ( 3,10).
Histogram laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Histogram laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam
Tinggi Plumula (cm)
Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan penggosokan dan media tanam berbeda nyata terhadap tinggi plumula benih karet 3-8 MST, dan interaksi penggosokan dan media tanam tidak berbeda nyata terhadap tinggi plumula benih karet.
Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam
Dari Tabel 3, diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada P1 (28,33) dan terendah pada P0 (25,25).
Dari Tabel 3, diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada M1 (24,44) dan terendah pada M0 (23,00).
Dari Tabel 3, diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada P1M1 (38,67) dan terendah pada P0M0 (32,33).
Histogram tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokkan dan media tanam dapat dilihat pada gambar 3.
Gambar 3. Histogram tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam
Pembahasan
Pengaruh Penggosokan Pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg)
Dari hasil sidik ragam pada perlakuan penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet, laju perkecambahan benih karet, tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Dengan adanya proses penggosokan (skarifikasi), maka proses dormansi yang menghambat proses perkecambahan dapat dipecahkan sehingga benih dapat memperoleh air dan udara. Hal ini sesuai dengan literatur Sadjad (1993) yang menyatakan bahwa Manfaat penggosokan benih adalah untuk memecahkan dormansi pada benih agar benih berkecambah dengan baik. Karena benih yang memiliki kulit yang keras harus dilakukan pemecahan dormansi untuk mempercepat proses perkecambahan baik dengan cara mengkikis ataupun mengkir kulit benih (Sadjad, 1993).
Dari hasil percobaan diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada P1 (28,33 sm) dan terendah pada P0 (25,25 cm). Hal ini disebabkan karena pada perlakuan P0 ini benih tidak dilakukan proses penggosokan. Dengan tidak adanya proses penggosokan, maka proses perkecambahan menjadi terhambat akibat kulit benih yang keras (dormansi) sehingga benih susah memperoleh air dan udara. Hal ini sesuai dengan literatur Sutopo (1998), yang menyatakan bahwa proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia. Tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses penyerapan air oleh benih, melunaknya kulit benih dan hidrasi dari protoplasma. Perlakuan pengasahan kulit biji yaitu dengan maksud untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan pada berbagai spesies yang mempunyai kulit biji yang keras dan yang sangat tebal.
Pengaruh Media Tanam Pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg)
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M1 (65,78%) dan terendah pada M0 (65,22%). Ini menunjukkan bahwa top soil ditambah pasir mempengaruhi persentase perkecambahan benih karet , selain itu perkecambahan benih karet juga dipengaruhi oleh faktor keadaan lingkungan. Karena, kesesuaian tanah dan lingkungan yang serasi sangat baik untuk pertumbuhan tanaman karet. Hal ini sesuai dengan literatur Widianto (2000) yang menyatakan bahwa media yang digunakan untuk pengamatan bisa hanya terdiri atas pasir saja tetapi kadang-kadang juga diberikan campuran sekam padi, lumut yang telah membusuk, tanah gembur, kompos, top soil dan lainnya. Banyak media yang dapat digunakan untuk penanaman benih asalkan tanahnya gembur dan halus, sehingga akar tanaman yang baru keluar tidak terhambat pertumbuhannya.
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada M1 (24,44 cm) dan terendah pada M0 (23,00 cm). Hal ini disebabkan karena media tanam yang digunakan adalah pasir dan top soil dengan perbandingan 2:1, sehingga terjadi gabungan antara tekstur kasar dengan halus oleh top soil. Tekstur seperti ini adalah tekstur yang paling cocok untuk pertumbuhan benih. Tanah top soil dapat membantu pertumbuhan perkecambahan benih karet karena tanah top soil merupakan tanah yang subur yang diambil dari tanah pelapukan. Hal ini sesuai dengan literatur Setiawan dan Andoko (2005) yang menyatakan bahwa tanah untuk media tanah ini harus subur dan harus yang bisa diambil dari tanah pelapukan (top soil) dengan kedalaman maksimum 15 cm.
Pengaruh Interaksi Antara Penggosokan dan Media Tanam Pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg)
Dari hasil percobaan diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1M1 (99,67%) dan terendah pada P0M0 (97,00%). Hal ini disebabkan karena adanya penggosokan dan media tanam yang cocok bagi pertumbuhan tanaman karet. Karena penggosokan pada benih karet bertujuan untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan. Hal ini sesuai dengan literatur Sutopo (1998) yang menyatakan bahwa Perlakuan pengasahan kulit biji yaitu dengan maksud untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan pada berbagai spesies yang mempunyai kulit biji yang keras dan yang sangat tebal.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet, laju perkecambahan benih karet, tinggi plumula benih karet 3-8 MST.
2. Media tanam berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih, dan tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Dan tidak berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet.
3. Interaksi antara penggosokan dan media tanam berbeda tidak nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet, laju perkecambahan benih karet, tinggi plumula benih karet 3-8 MST.
Saran
Sebaiknya dalam melakukan percobaan ini, benih yang digunakan harus diketahui jenis atau klonnya.
DAFTAR PUSTAKA
Buckman, H.O. dan N.C. Brady.1982. Ilmu Tanah. Terjemahan Soegiman.
Bhratara Karya Aksara. Jakarta
Hatrmann, H.T., J.William, Klackers, M.Anton dan Konfafrek. 1981. Plant
Science. Prentice Hall Inc. New Jersey
Hasibuan, B.E. 2006. Ilmu Tanah. USU Press. Medan
http://digilib.umm.ac.id. Diakses pada tanggal 4 April 2009
http://www.iptek.net.id. Diakses pada tanggal 4 April 2009
Kartasapoetra, A.G. 1988. Teknologi Budidaya Tanaman Pangan di Daerah
Tropik. Bina Aksara, Jakarta
Setiawan, D.H. dan Agus A. 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet.
Agromedia Pustaka. Jakarta
Setyamidjaja, D. 1993. Karet. Kanisius. Yogyakarta
Sianturi, H.S.D. 2001. Budidaya Tanaman Karet. USU Press. Medan
Siregar, T.H.S. 1995. Teknik Penyadapan Karet. Kanisius. Yogyakarta
Sutanto, R. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Konsep dan Kenyataan. Kanisius.
Yogyakarta
Sotopo, L. 1999. Teknologi Benih. CV Rajawali. Jakarta
Syamsulbahri. 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan. UGM Press.
Yogyakarta
Tim Penulis PS. 1999. Karet Strategi Pemasaran Budidaya dan Pengolahan.
Penebar Swadaya. Jakarta
Widianto, L. 2000. Membuat Stek, Cangkok, dan Okulasi. Penebar Swadaya.
Jakarta
TANAM PADA PERKECAMBAHAN BENIH
KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg)
LAPORAN
OLEH :
JUNITA SINAMBELA
070301054/BDP-AGRONOMI
16
LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
PENGARUH PENGGOSOKAN BENIH DAN MEDIA
TANAM PADA PERKECAMBAHAN BENIH
KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg)
LAPORAN
OLEH :
JUNITA SINAMBELA
070301054/BDP-AGRONOMI
16
Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test
di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan
Fakultas Pertanian Sumatera Utara, Medan
Disetujui Oleh
Dosen Penanggungjawab
(Ir. Balonggu Siagian, MS)
NIP. 130 806 538
Diketahui Oleh:
Asisten Koordinator
(Eko Andi Pasaribu)
NIM. 040301001
Diperiksa Oleh:
Asisten Korektor
(Hayati Silalahi)
NIM. 040301037
LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
ABSTRACT
The objective of this experiment was to know effect of rubbed and media in growing of rubber seed. The experiment was conducted in Agronomi Tanaman Perkebunan I Laboratory Land, Agriculture Faculty, North Sumatera University with ± 25 m above sea level, from March to April 2009. The experiment used Randomized Complete Block Design (RAK) with 2 factors and 4 replications. The first factor was rubbed, with no rubbed and with rubbed. The second one was the media that consist of sand, sand and top soil, top soil. The experiment result showed that rubbed gave significant effect of presentation of seed, speed of seed growth, height of plumule. Media gave significant effect of speed of seed growth ang height of plumule. Interaction between rubbed ang media did’nt gave effect of all the parameter.
Key words : media, rubbed, seed
ABSTRAK
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggosokan benih dan media tanam pada perkecambahan benih karet. Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan I Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan pada ketinggian tempat ± 25 m dpl dari bulan Maret sampai April 2009 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan dan empat ulangan. Faktor I adalah penggosokan, yaitu benih tanpa digosok, benih yang digosok. Faktor II adalah faktor media yaitu pasir, pasir dan top soil, top soil. Hail percobaan menunjukkan bahwa penggosokan benih berpengaruh nyata terhadap persentase perkecambahan benih, laju perkecambahan benih, tinggi plumula. Media berpengaruh nyata terhadap laju perkecambahan benih karet, tinggi plumula. Sedangkan interaksi antara penggosokan dan media tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter.
Kata kunci : media, penggosokan, benih
RIWAYAT HIDUP
Junita Sinambela lahir pada tanggal 2 April 1989 di Medan. Anak pertama dari empat bersaudara. Anak dari Bapak P. Sinambela dan Ibu N. Manurung.
Adapun pendidikan yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut:
SD Negeri 050721 di Gohor Lama Tamat tahun 2001
SMP Negeri 1 di Hinai Tamat tahun 2004
SMA Negeri 1 di Stabat Tamat tahun 2007
Penulis terdaftar sebagai mahasiswi di Departemen Budidaya Pertanian Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan melalui jalur SPMB pada pilihan pertama pada tahun 2007 sampai sekarang.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Esa karena atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.
Adapun judul dari laporan ini adalah “Pengaruh Penggosokan Benih dan Media Tanam pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg)” yang merupakan salah satu syarat unutk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Balonggu Siagian, MS dan Ir. Charloq Nababan, MP selaku dosen mata kuliah Agronomi Tanaman Perkebunan serta kepada abang dan kakak asisten yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Mei 2009
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRACT i
ABSTRAK ii
RIWAYAT HIDUP iii
KATA PENGANTAR vi
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GAMBAR viii
DAFTAR LAMPIRAN ix
PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Tujuan Percobaan 3
Hipotesis Percobaan 3
Kegunaan Percobaan 3
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman 4
Syarat Tumbuh 5
Iklim 5
Tanah 6
Media Tanam 7
Penggosokan Benih Karet 8
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan 10
Bahan dan Alat 10
Metode Percobaan 10
PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Media Tanam 12
Penggosokan Benih 12
Penanaman Benih 12
Pemeliharaan Tanaman 12
Penyiraman 12
Penyiangan 13
Pengamatan Parameter 13
Persentase Perkecambahan (%) 13
Tinggi Plumula (cm) 13
Laju Perkecambahan (hari) 13
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil 15
Pembahasan 20
KESIMPULAN
Kesimpulan 24
Saran 24
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No. Judul Hal
1. Rataan persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan
penggosokan dan media tanam 16
2. Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan
penggosokan dan media tanam 17
3. Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan
penggosokan dan media tanam 19
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Hal
1. Histogram persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan
penggosokan dan media tanam 17
2. Histogram laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan
penggosokan dan media tanam 18
3. Histogram tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan
penggosokan dan media tanam 20
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Hal
Lampiran 1. Data persentase perkecambahan benih karet (%) 26
Lampiran 2. Sidik ragam persentase perkecambahan benih karet (%) 26
Lampiran 3. Data laju perkecambahan benih karet (hari) 26
Lampiran 4. Sidik ragam laju perkecambahan benih karet (hari) 27
Lampiran 5. Data tinggi plumula benih karet 3 MST (cm) 27
Lampiran 6. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 3 MST (cm) 27
Lampiran 7. Data tinggi plumula benih karet 4 MST (cm) 28
Lampiran 8. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 4 MST (cm) 28
Lampiran 9. Data tinggi plumula benih karet 5 MST (cm) 28
Lampiran 10. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 5 MST (cm) 29
Lampiran 11. Data tinggi plumula benih karet 6 MST (cm) 29
Lampiran 12. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 6 MST (cm) 29
Lampiran 13. Data tinggi plumula benih karet 7 MST (cm) 30
Lampiran 14. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 7 MST (cm) 30
Lampiran 15. Data tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) 30
Lampiran 16. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) 31
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ferris pada tahun 1872 mengirimkan 2000 biji dari Brazilia ke Kebun Raya Kew di Inggris, kemudian tahun 1875. Kedua kiriman tersebut mengalami kegagalan. Selanjutnya Wikham pada tahun 1876 kembali dari Brazilia dan membawa 70.000 biji karet ke Kew. Sebanyak 2.397 biji berkecambah, kira-kira 1900 biji dikirim ke Srilanka, beberapa biji ke Malaysia dan hanya dua biji ke Kebun Raya Bogor, Indonesia. Salah satu pohon karet tersebut tumbang tahun 1962. Karet di Indonesia telah 120 tahun dan peringatan satu abad telah diadakan tahun 1976 (Sianturi, 2001).
Sejak tahun 1839 karet menjadi primadona perkebunan di daerah daerah tropis. Pada sekitar tahun itu pula Charles Goodyear menemukan vulkanisasi karet dengan cara mencampurkannya dengan belerang dan memanaskan pada suhu 120-130C. Alexander Parkes juga mengembangkan cara vulkanisasi ini. Penemuan tentang vulkanisasi memberikan inspirasi Dunlop pada tahun 1888 untuk membuat ban mobil yang selanjutnya dikembangkan oleh Goldrich (Setiawan dan Agus, 2005).
Dewasa ini karet merupakan bahan baku yang menghasilkan lebih dati 50.000 jenis barang. Dari produksi karet alam 46% digunakan untuk membuat ban dan selebihnya untuk karet busa, sepatu dan beribu-ribu jenis barang lainnya yang juga berbahan dasar karet (Setyamidjaja, 1993).
Produk karet merupakan komoditi ekspor yang sangat penting karena manfaatnya yaitu dapat diolah menjadi bahan baker dasar bagi kepentingan produksi barang-barang penting di dunia, seperti: ban kendaraan bermotor, campuran benang rayon, campuran bahan plastik, ebonite, dan lain sebagainya yang sangat diperlukan beberapa negara. Memang untuk mencukupi keperluan bahan karet dunia telah diciptakan karet sintetis, akan tetapi nilainya jauh lebih rendah dari bahan karet alam (Kartasapoetra, 1988).
Karet merupakan salah satu komoditas perkebunan di Indonesia. Komoditas ini sudah dikenal dan dibudidayakan dalam kurun waktu yang lebih lama daripada komoditas perkebunan lainnya. Sayangnya, posisi Indonesia yang pada awal pembudidayaan karet merupakan penghasil karet utama di dunia sudah digantikan oleh Malaysia, yang sebenarnya masih belum lama dalam hal membudidayakan karet (Siregar, 1995).
Perlakuan pengasahan kulit biji benih yaitu dengan maksud untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan pada bagian spesies yang mempunyai kulit biji yang keras dan yang sangat keras dan ada yang sangat tebal (Sutopo, 1998).
Media tanam, hasil maksimal didapatkan jika di tanah – tanah subur, berpasir, dapat melakukan air dan tidak berpadas (kedalaman padas dapat ditolerir adalah 2 – 3 m. Tanah ulitisol yang kurang sudur banyak ditanami karet dengan pemupukan dan pengolahan yang baik (Setiawan dan Handoko, 2006).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari cobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggosokan benih dan media tanam pada perkecambahan benih karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg.).
Hipotesis Percobaan
Ada pengaruh penggosokan benih terhadap perkecambahan benih karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg.).
Ada pengaruh media tanam terhadap perkecambahan benih karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg.).
Ada pengaruh interaksi penggosokan benih dan media tanam terhadap perkecambahan benih karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg.).
Kegunaan Percobaan
Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Setiawan dan Agus (2005) klasifikasi tanaman karet adalah sebagai berikut.
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Euphorbiales
Family : Euphorbiaceae
Genus : Hevea
Spesies : Hevea brasiliensis Muell Arg.
Sistem perakarannya padat/kompak, akar tunggangnya dapat menghujam tanah hingga kedalaman 1-2 m, sedangkan akar lateralnya dapat menyebar sejauh 10 m (Syamsulbahri, 1996).
Tanaman karet merupakan tanaman yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 m. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memeiliki percabangan yang tinggi diatas. Dibeberapa kebun karet arah tumbuhnya tanaman agak miring ke arah utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks (Tim Penulis, 1993).
Daun karet terdiri dari tangkai utama sepanjang 3-20 cm dan tangkai anak daun sepanjang 3-10 cm dengan kelenjar di ujungnya. Setiap daun karet biasanya terdiri dari 3 anak daun yang berbentuk elips memanjang dengan ujung runcing. Daun karet ini berwarna hijau dan menjadi kuing atau merah menjelang rontok. Seperti kebanyakan tanaman tropis, daun-daun karet akan rontok pada puncak musim kemarau untuk mengurangi penguapan tanaman (Setiawan dan Agus, 2005).
Tanaman karet adalah tanaman berumah satu (monoecus). Pada satu tangkai bunga yang berbentuk bunga majemuk terdapat bunga jantan dan bunga betina. Penyerbukannya dapat terjadi dengan penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang (Setyamidjaja, 1993).
Buah beruang tiga, jarang yang beruang empat hingga enam, diameter buah 3-5 cm dan terpisah 3,4 atau 6 cocci berkatup dua, perikarp berbatok, endokarp berkayu. Biji besar, bulat bersegi empat, tertekan pada satu atau dua sisinya, berkilat, berwarna coklat muda dengan noda-noda coklat tua, panjang 2-3,5 cm dan lebar 1,5-3 cm dan tebal 1,5-2,5 cm (Sianturi, 2001).
Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman karet adalah tanaman tropis, secara geografis tersebar diantara 100LU hingga 100LS. Zona paling cocok dan paling produktif adalah 60LU hingga 60LS. Penyebaran pertanaman karet sangat dipengaruhi oleh penyebaran hujan dan tinggi tempat dari permukaan laut. Itulah sebabnya, tidak semua propinsi di Indonesia memiliki perkebunan karet (Sianturi, 2001).
Karet termasuk tanaman daratan rendah, yaitu bias tumbuh baik di dataran dengan ketinggian 0-400 m dari permukaan laut (dpl). Di ketinggian tersebut suhu harian 25-300C. Jika dalam jangka waktu yang cukup panjang suhu rata-rata kurang dari 200C, tempat tersebut tidak cocok untuk budidaya karet. suhu yang lebih dari 300C juga mengakibatkan karet tidak bisa tumbuh dengan baik (Setiawan dan Agus, 2005).
Curah hujan tahunan yang cocok untuk pertumbuhan tanaman karet tidak kurang dari 2000 mm. Optimal antara 2500-4000 mm per tahun, yang terbagi dalam 100-150 hari hujan. Pembagian hujan dan waktu jatuhnya hujan rata-rata setahunnya mempengaruhi produksi. Daerah yang sering mengalami hujan pada pagi hari produksinya akan kurang. Keadaan iklim di Indonesia yang cocok untuk tanaman karet ialah daerah-daerah Indonesia bagian barat, yaitu Sumatera, Jawa dan Kalimantan, sebab iklimnya lebih basah (Setiamidjaja, 1993).
Kelembapan nisbi (RH) yang sesuai untuk tanaman karet adalah rata-rata berkisar antara 75-90 %. Kelembapan yang terlalu tinggi tidak baik untuk tanaman karet (Sianturi, 2001).
Tanah
Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah baik pada tanah-tanah vulkanis muda ataupaun vulkanis tua, alluvial dan bahkan tanah gambut. Tanah-tanah vulkanis umumnya memiliki sifat-sifat fisika yang cukup baik, terutama dari segi struktur, tekstur, solum, kedalaman air tanah, aerasi dan drainesenya. Akan tetapi sifat-sifat kimianya umumnya sudah kurang baik, karena kandungan haranya relatif rendah. Tanah-tanah alluvial umumnya cukup subur, tetapi sifat fisisnya terutama drainase dan aerasinya kurang baik. Pembuatan saluran drainase akan menolong memperbaiki keadaan tanah ini (Setyamidjaja, 1993).
Untuk mengetahui kemampuan lahan sebaiknya diketahui kesesuaian tanah dan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman karet untuk dapat memperoleh produksi dan keuntungan ekonomis yang optimal. Sifat fisis, kimia, dan fisiografis yang menjadi factor pembatas kesesuaian tanah untuk tanaman karet, yang diinginkan tanaman karet antara lain adalah tanah yang mempunyai lapisan padas lebuh dari 1m, jumlah pasir sama dengan liat, drainase baik, retensi air >150 cm/m, permebilitas sedang, pH 4,5, kemiringan tanah 0-8%, tidak banjir dan tidak ada stagnasi air (Sianturi, 2001).
Media Tanam
Bila tanah terlalu banyak mengandung pasir, tanah ini kurang baik untuk pertunbuhan tananaman. Tanah yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan (specific surface) yang kecil, sehingga sulit menyerap atau menahan air dan unsur hara, sehingga pada musim kemarau mudah kekurangan air. Bila jumlah pasir tidak terlalu banyak pengaruhnya terhadap tanah akan baik karena cukup longgar, air akan mudah di serap dan cukup dikandung tanah, udara tanah mudah masuk dan tanah mudah diolah (Hasibuan, 2006).
Distribusi ukuran partikel dan kelas tekstur mempunyai korelasi dengan air, udara, unsur hara, mintakat perakaran, kemudahan diolah dan yang terpenting adalah masalah kesuburan. Sifat umum tanah sangat ditentukan oleh tekstur (Sutanto, 2005).
Jenis tanah berhubungan sangat erat dengan plastisitas, permeability, kekerasan, kemudahan olah, kesuburan dan produktivitas tanah pada daerah geografik tertentu akan tetapi berhubungan adanya variasi yang terdapat dalam sistim mineralogi fisik tanah, maka belum berlaku untuk semua jenis tanah di permukaan bumi (Buckman dan Brady, 1982).
Media yang digunakan untuk penyemaian biasa hanya terdiri atas pasir saja tetapi kadang-kadang juga diberi campuran sekam padi, lumut yang telah membusuk, tanah gembur, kompos, topsoil, dan benih. Asalkan tanahnya gembur dan halus, sehingga akar baru yang keluar tidak terhambat pertumbuhannya (Widianto, 2000).
Partikel-partikel pasir yang ukurannya yang jauh lebih besar dan memiliki permukaan yang kecil (dengan berat yang sama) dibandingkan dengan debu dan liat. Oleh karena itu, peranannya dalam mengatur sifat-sifat tanah, semakin tinggi persentase pasir dalam tanah, semakin banyak pori-pori di antara partikel tanah dan hal ini dapat memperlancar gerakan udara/air (Hartman, et al., 1981).
Penggosokan Benih
Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji, keadaan fisiologis dari embrio atau kombinasi dari kedua keadaan tersebut. Sebagai contoh, kulit biji yang impermiabel terhadap air dan gas sering dijumpai pada benih- benih dari famili Leguminosae (Sutopo, 1999).
Benih yang mengalami dormansi biasanya disebabkan oleh: a) Rendahnya dan tidak adanya proses imbibisi air yang disebabkan oleh struktur benih (kulit benih) yang keras, sehingga mempersulit keluar masuknya air ke dalam benih (http://digilib.umm.ac.id, 2009).
Perlakuan mekanis (skarifikasi) pada kulit biji dilakukan dengan cara penusukan, penggoresan, pemecahan, pengikiran atau pembakaran, dengan bantuan pisau, jarum, kikir, kertas gosok atau lainnya adalah cara efektif untuk mengatasi dormansi fisik. Karena setiap benih ditangani secara manual, dapat diberikan perlakuan individu sesuai dengan ketebalan biji. Pada hakekatnya semua benih dibuat permeable dengan resiko kerusakan yang kecil, asal daerah radikel tidak rusak (Schmidt, 2002)(http://www.iptek.net.id, 2009).
Skarifikasi mencakup cara – cara seperti mengkikis atau menggoreskan atau menggosok kulit biji yang mengalami sumbat gabus dimana semua permiabel terhadap air atau gas (Lakitan , 2003).
Manfaat penggosokan benih adalah untuk memecahkan dormansi pada benih agar benih dapat berkecambah dengan baik karena benih yang memiliki kulit yang jeras harus dilakukan pemecahan dormansi untuk mempercepat proses perkecambahan baik dengan cara mengkikis ataupun mengikir kulit benih (Sadjad, 1993).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian,Universitas Sumatera Utara, Medan. Dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl yang dimulai dari bulan Februari 2009 sampai dengan April 2009.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah stunp mata tidur karet klon IRM sebagai objek pengamatan, pasir dan topsoil sebagai media tanam, air untuk penyiraman, serta kertas pasir untuk menggosok benih karet.
Alat yang digunakan adalah cangkul untuk mencampur tanah, gembor untuk menyiram tanaman dan polibag sebagai wadah penanaman, meteran untuk mengukur tinggi plumula.
Metode percobaan
Data percobaan dianalisis dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor yaitu:
Faktor I : Penggosokan benih (P) dengan dua taraf yaitu:
P1 : Benih tanpa digosok
P2 : Benih digosok hingga nampak mata embrio
Faktor II: Media Tanam (M) dengan 3 taraf yaitu:
M0 : Pasir
M1 : Pasir + Top soil
M2 : Top soil
Sehingga didapat 6 kombinasi perlakuan yaitu:
P0M0 P1M0
P0M1 P1M1
P0M2 P1M2
Jumlah ulangan : 6
Jumlah petak percobaan : 36
Jumlah benih per petak : 2
Jumlah benih yang dibutuhkan: 64
Dari hasil percobaan dianalisis sidik ragam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan model linier sebagai berikut:
Yijk= µ + βi + αj + βk + (αβ)jk + εijk
dimana:
Yijk : Nilai pengamatan pada penggosokan benih ke-i, media tanam ke-j, dan
perkecambahan benih karet ke-k
µ : Nilai tengah
βi : Efek penggosokan benih ke-i
αj : Efek media tanam ke-j
(αβ)jk : Efek interaksi antara penggosokan benih ke-i dan media tanam ke-j
εijk : Efek error yang disebabkan oleh penggosokan benih ke-i, media tanam
ke-j, dan perkecambahan benih karet ke-k
Apabila data percobaan analisis tidak ragam berbeda nyata, akan diujikan dengan beda nyata jujur (BNJ) pada x = 5% .
PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan media tanam
Disiapkan polibag berukuran 10 kg dan diisi dengan media pasir (M0), pasir + top soil dengan perbandingan 2:1 (M1), dan top soil (M2).
Penggosokan Benih
Proses penggosokan benih dilakukan sebelum dilakukan penanaman. Dimana proses penggosokan bertujuan untuk memecahkan dormansi benih karet akibat kulit benih yang keras dan dilakukan dengan menggunakan kertas pasir sampai terlihat embrio.
Penanaman Benih
Benih karet ditanam di polibag yang diisi tanah sesuai dengan perlakuan, dan dimasukkan ke dalam polibag dan sebaiknya jangan ditanam terlalu dalam.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap sore hari tergantung kepada kondisi kelembaban permukaan media tanam. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan setiap minggunya dengan cara mencabut gulma yang tumbuh pada polibag.
Pengamatan Parameter
Persentase perkecambahan (%)
Persentase perkecambahan diambil data berupa jumlah tanaman yang tumbuh dan dibagi jumlah seluruhnya dikalikan 100% dan data diambil setiap minggunya.
Jumlah tanaman yang tumbuh
Persentase Perkecambahan = x 100 %
Jumlah tanaman seluruhnya
Tinggi Plumula (cm)
Tinggi plumula dihitung dari plumula yang tumbuh sampai pada titik tumbuh.
Laju Perkecambahan (hari)
Laju perkecambahan diambil data berupa jumlah karet yang tumbuh. Nilai laju perkecambahan dapat diperoleh dari rumus sebagai berikut :
N1T1 + N2T2 + N3T3 + ........ + NnTn
Laju Perkecambahan :
T1 + T2 + T3 + .... + Tn
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1-16) diketahui bahwa perlakuan penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet, laju perkecambahan benih karet, tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Dan tidak ada parameter yang tidak berbeda nyata.
Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1-16) diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih, dan tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Dan tidak berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet.
Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1-16) diketahui bahwa interaksi antara perlakuan penggosokan dan media tanam tidak ada parameter yang berbeda nyata. Dan tidak berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet, laju perkecambahan benih karet, tinggi plumula benih karet 3-8 MST.
Persentase Perkecambahan (%)
Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan media tanam tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman, penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet, dan interaksi antara penggosokan dan media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet.
Rataan persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rataan persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam.
Dari Tabel 1, diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1 (74,42%) dan terendah pada P0 (73,00%).
Dari Tabel 1, diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M1 (65,78) dan terendah pada M0 (65,22).
Dari Tabel 1, diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1M1 (99,67) dan terendah pada P0M0 (97,00).
Histogram persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Histogram persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam
Laju Perkecambahan Benih (hari)
Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan penggosokan dan media tanam berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih karet, Dan interaksi penggosokan dan media tanam tidak berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih karet.
Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam
Dari Tabel 2, diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P0 (5,19) dan terendah pada P1 (3,13).
Dari Tabel 2, diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M0 (4,29) dan terendah pada M1 (3,26).
Dari Tabel 2, diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P0M0 (7,77) dan terendah pada P1M1 ( 3,10).
Histogram laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Histogram laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam
Tinggi Plumula (cm)
Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan penggosokan dan media tanam berbeda nyata terhadap tinggi plumula benih karet 3-8 MST, dan interaksi penggosokan dan media tanam tidak berbeda nyata terhadap tinggi plumula benih karet.
Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam
Dari Tabel 3, diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada P1 (28,33) dan terendah pada P0 (25,25).
Dari Tabel 3, diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada M1 (24,44) dan terendah pada M0 (23,00).
Dari Tabel 3, diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada P1M1 (38,67) dan terendah pada P0M0 (32,33).
Histogram tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokkan dan media tanam dapat dilihat pada gambar 3.
Gambar 3. Histogram tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam
Pembahasan
Pengaruh Penggosokan Pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg)
Dari hasil sidik ragam pada perlakuan penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet, laju perkecambahan benih karet, tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Dengan adanya proses penggosokan (skarifikasi), maka proses dormansi yang menghambat proses perkecambahan dapat dipecahkan sehingga benih dapat memperoleh air dan udara. Hal ini sesuai dengan literatur Sadjad (1993) yang menyatakan bahwa Manfaat penggosokan benih adalah untuk memecahkan dormansi pada benih agar benih berkecambah dengan baik. Karena benih yang memiliki kulit yang keras harus dilakukan pemecahan dormansi untuk mempercepat proses perkecambahan baik dengan cara mengkikis ataupun mengkir kulit benih (Sadjad, 1993).
Dari hasil percobaan diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada P1 (28,33 sm) dan terendah pada P0 (25,25 cm). Hal ini disebabkan karena pada perlakuan P0 ini benih tidak dilakukan proses penggosokan. Dengan tidak adanya proses penggosokan, maka proses perkecambahan menjadi terhambat akibat kulit benih yang keras (dormansi) sehingga benih susah memperoleh air dan udara. Hal ini sesuai dengan literatur Sutopo (1998), yang menyatakan bahwa proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia. Tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses penyerapan air oleh benih, melunaknya kulit benih dan hidrasi dari protoplasma. Perlakuan pengasahan kulit biji yaitu dengan maksud untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan pada berbagai spesies yang mempunyai kulit biji yang keras dan yang sangat tebal.
Pengaruh Media Tanam Pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg)
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M1 (65,78%) dan terendah pada M0 (65,22%). Ini menunjukkan bahwa top soil ditambah pasir mempengaruhi persentase perkecambahan benih karet , selain itu perkecambahan benih karet juga dipengaruhi oleh faktor keadaan lingkungan. Karena, kesesuaian tanah dan lingkungan yang serasi sangat baik untuk pertumbuhan tanaman karet. Hal ini sesuai dengan literatur Widianto (2000) yang menyatakan bahwa media yang digunakan untuk pengamatan bisa hanya terdiri atas pasir saja tetapi kadang-kadang juga diberikan campuran sekam padi, lumut yang telah membusuk, tanah gembur, kompos, top soil dan lainnya. Banyak media yang dapat digunakan untuk penanaman benih asalkan tanahnya gembur dan halus, sehingga akar tanaman yang baru keluar tidak terhambat pertumbuhannya.
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada M1 (24,44 cm) dan terendah pada M0 (23,00 cm). Hal ini disebabkan karena media tanam yang digunakan adalah pasir dan top soil dengan perbandingan 2:1, sehingga terjadi gabungan antara tekstur kasar dengan halus oleh top soil. Tekstur seperti ini adalah tekstur yang paling cocok untuk pertumbuhan benih. Tanah top soil dapat membantu pertumbuhan perkecambahan benih karet karena tanah top soil merupakan tanah yang subur yang diambil dari tanah pelapukan. Hal ini sesuai dengan literatur Setiawan dan Andoko (2005) yang menyatakan bahwa tanah untuk media tanah ini harus subur dan harus yang bisa diambil dari tanah pelapukan (top soil) dengan kedalaman maksimum 15 cm.
Pengaruh Interaksi Antara Penggosokan dan Media Tanam Pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg)
Dari hasil percobaan diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1M1 (99,67%) dan terendah pada P0M0 (97,00%). Hal ini disebabkan karena adanya penggosokan dan media tanam yang cocok bagi pertumbuhan tanaman karet. Karena penggosokan pada benih karet bertujuan untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan. Hal ini sesuai dengan literatur Sutopo (1998) yang menyatakan bahwa Perlakuan pengasahan kulit biji yaitu dengan maksud untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan pada berbagai spesies yang mempunyai kulit biji yang keras dan yang sangat tebal.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet, laju perkecambahan benih karet, tinggi plumula benih karet 3-8 MST.
2. Media tanam berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih, dan tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Dan tidak berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet.
3. Interaksi antara penggosokan dan media tanam berbeda tidak nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet, laju perkecambahan benih karet, tinggi plumula benih karet 3-8 MST.
Saran
Sebaiknya dalam melakukan percobaan ini, benih yang digunakan harus diketahui jenis atau klonnya.
DAFTAR PUSTAKA
Buckman, H.O. dan N.C. Brady.1982. Ilmu Tanah. Terjemahan Soegiman.
Bhratara Karya Aksara. Jakarta
Hatrmann, H.T., J.William, Klackers, M.Anton dan Konfafrek. 1981. Plant
Science. Prentice Hall Inc. New Jersey
Hasibuan, B.E. 2006. Ilmu Tanah. USU Press. Medan
http://digilib.umm.ac.id. Diakses pada tanggal 4 April 2009
http://www.iptek.net.id. Diakses pada tanggal 4 April 2009
Kartasapoetra, A.G. 1988. Teknologi Budidaya Tanaman Pangan di Daerah
Tropik. Bina Aksara, Jakarta
Setiawan, D.H. dan Agus A. 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet.
Agromedia Pustaka. Jakarta
Setyamidjaja, D. 1993. Karet. Kanisius. Yogyakarta
Sianturi, H.S.D. 2001. Budidaya Tanaman Karet. USU Press. Medan
Siregar, T.H.S. 1995. Teknik Penyadapan Karet. Kanisius. Yogyakarta
Sutanto, R. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Konsep dan Kenyataan. Kanisius.
Yogyakarta
Sotopo, L. 1999. Teknologi Benih. CV Rajawali. Jakarta
Syamsulbahri. 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan. UGM Press.
Yogyakarta
Tim Penulis PS. 1999. Karet Strategi Pemasaran Budidaya dan Pengolahan.
Penebar Swadaya. Jakarta
Widianto, L. 2000. Membuat Stek, Cangkok, dan Okulasi. Penebar Swadaya.
Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)